Wednesday, 12 Muharram 1444 / 10 August 2022

Wednesday, 12 Muharram 1444 / 10 August 2022

12 Muharram 1444
  • JELANG HUT BHAYANGKARA KE-76,< POLRI MENGADAKAN LOMBA MENEMBAK PATI TNI-POLRI BERSAMA INSAN PERS 10-11 JUNI 2022 DI BRIMOB KELAPA DUA

Survei Dinas Pendidikan: 56 Persen Remaja Kota Bandung Mengaku Pernah Seks Bebas

Rabu 06 Jul 2022 17:10 WIB

Rep: Dea Alvi Soraya/ Red: Christiyaningsih

Dinas Pendidikan Kota Bandung mengungkap 56 persen dari 60 responden remaja mengaku sudah pernah melakukan seks bebas. Ilustrasi.

Dinas Pendidikan Kota Bandung mengungkap 56 persen dari 60 responden remaja mengaku sudah pernah melakukan seks bebas. Ilustrasi.

Foto: www.freepik.com.
Survei minor menemukan 56 persen dari 60 responden sudah pernah melakukan seks bebas

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG — Dinas Pendidikan Kota Bandung mengungkap data hasil survei tentang pergaulan bebas. Survei ini dilakukan kepada 60 remaja di bawah 14 tahun. Survei minor tersebut menemukan 56 persen dari 60 responden mengaku sudah pernah melakukan seks atau hubungan badan.

Menurut Sekretaris Dinas Pendidikan Kota Bandung Tantan, salah satu faktor penyebab banyaknya anak yang melakukan seks bebas adalah globalisasi dan pengaruh media sosial (medsos). "Namun ini belum dikembangkan kriteria golongan apa saja misal dari 56 persen pendidikan seperti apa, keluarganya gimana, kemudian lingkungannya, ekonominya, karena bisa jadi ini memengaruhi pendidikan," katanya saat ditemui di Balai Kota Bandung, Rabu (6/7/2022). 

Baca Juga

Tantan menilai bebasnya penyebaran informasi di media sosial yang semakin masif membuat banyak anak muda semakin mudah mendapatkan konten-konten negatif yang memang beredar bebas di dunia maya. “Sekarang medsos semakin masif. Makanya pendidikan agama harus jadi prioritas, termasuk penddikan moral dan pancasila yang ada dalam kurikulum merdeka," ujar Tantan.

Menurutnya, keluarga perlu berperan aktif dalam menjamin pendidikan karakter anak. Peran tenaga pendidik atau guru untuk meningkatkan karakter siswa tidak akan cukup tanpa adanya kontribusi dari keluarga, khususnya orang tua. “Karena waktu yang dihabiskan di rumah lebih banyak ketimbang di sekolah sehingga agak susah untuk guru atau pihak sekolah mengawasi anak seharian,” kata dia. 

"Maka rumah itu harus jadi sekolah kedua karena siswa lebih banyak waktu di rumah," ujarnya.

Dia juga mengingatkan orang tua agar tidak abai dengan kehidupan keseharian anak. Dia menegaskan orang tua wajib mendidik dan menghindarkan anak-anak mereka dari hal-hal negatif termasuk risiko seks bebas di usia dini. Pemakaian medsos pun sebaiknya diawasi oleh orang tua.

"Jangan sampai mereka terlena dengan teknologi tersebut karena selain memberikan manfaat, banyak hal negatif juga yang bisa diserap anak dari medsos,” tegas Tantan.

Sebelumnya, berdasarkan penelitian yang dilakukan dokter spesialis Jiwa RSIA Limijati, Elvine Gunawan, terhadap 60 remaja putri di salah satu kecamatan di perbatasan Kota Bandung ditemukan bahwa 56 persen remaja di bawah umur, di bawah 15 tahun, telah melakukan hubungan bebas di luar nikah. Akibatnya, banyak anak yang terpaksa putus sekolah dan melakukan pernikahan dini.

"Mayoritas disebabkan karena pergaulan. Mereka bergaul dengan orang dewasa dan mencoba melakukan hubungan seksual," kata Elvine.

Baca juga : Disdik Hanya Tegur Guru Honorer yang Hina HRS, Bukan Berhentikan

BACA JUGA: Ikuti News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f
 

BERITA LAINNYA

 
hide ads show ads
desktop mobile