Monday, 30 Safar 1444 / 26 September 2022

Monday, 30 Safar 1444 / 26 September 2022

 

30 Safar 1444
  • JELANG HUT BHAYANGKARA KE-76,< POLRI MENGADAKAN LOMBA MENEMBAK PATI TNI-POLRI BERSAMA INSAN PERS 10-11 JUNI 2022 DI BRIMOB KELAPA DUA

BKKBN : Pascabersalin Tidak KB, Sangat Sulit Turunkan Stunting

Rabu 06 Jul 2022 13:04 WIB

Rep: dian fath risalah/ Red: Hiru Muhammad

Petugas mengukur lingkar kepala bayi untuk memantau pertumbuhan anak saat Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) di Palu, Sulawesi Tengah, Kamis (2/6/2022). Wakil Presiden Ma

Petugas mengukur lingkar kepala bayi untuk memantau pertumbuhan anak saat Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) di Palu, Sulawesi Tengah, Kamis (2/6/2022). Wakil Presiden Ma

Foto: ANTARA/Mohamad Hamzah
Lebih mudah mengajak ibu pasca bersalin untuk memasang kontrasepsi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA-- Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) mendorong para penyuluh Keluarga Berencana (KB) untuk meningkatkan layanan KB bagi akseptor pascapersalinan. Kepala BKKBN dr. Hasto Wardoyo mengatakan layanan KB pascapersalinan itu efektif untuk menurunkan prevalensi stunting.

 

“Kalau sampai pascabersalin tidak KB maka sangat sulit sekali menurunkan stunting. Kalau menurunkan stunting dengan grebek pasca persalinan sebetulnya akseptor baru akan tercapai. Artinya unmet neednya turun, akseptor barunya ada juga, stuntingnya turun. Jadi sekali kerja dapat tiga mau grebek pasca persalinan,” kata Hasto dalam keterangan, Rabu (6/7/2022).

Baca Juga

Menurut Hasto, lebih mudah mengajak ibu pasca bersalin untuk memasang kontrasepsi. Sebab, secara psikologis seorang ibu yang baru melahirkan tidak ingin langsung punya anak lagi.

Oleh karena itu, strategi komunikasi yang baik menjadi pintu gerbang bagi BKKBN untuk mensukseskan program Bangga Kencana. “Anda hari ini melahirkan ditanya satu tahun lagi apa mau melahirkan? Pasti 100 persen jawab tidak, saya yakin itu. Tapi kalau ditanya siapa yang mau pasang kontrasepsi yang jawab iya 29 persen sehingga punya peluang 71 persen untuk dirayu. Pil bisa, kondom bisa, susuk bisa,” kata Hasto.

Stunting merupakan ancaman nyata bagi masa depan anak-anak dan Indonesia. Angka kasus stunting yang saat ini mencapai 24,4 persen masih melebihi ambang batas Badan Kesehatan Dunia WHO (World Health Organization) yakni prevelansi stunting kurang dari 20 persen. BKKBN terus berupaya dengan berbagai cara untuk mencapai target penurunan stunting nasional menjadi 14 persen pada 2024.

 

 

 

Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f

 

 

BERITA LAINNYA

 

 

hide ads show ads
desktop mobile