Tuesday, 5 Jumadil Awwal 1444 / 29 November 2022

Tuesday, 5 Jumadil Awwal 1444 / 29 November 2022

5 Jumadil Awwal 1444
  • JELANG HUT BHAYANGKARA KE-76,< POLRI MENGADAKAN LOMBA MENEMBAK PATI TNI-POLRI BERSAMA INSAN PERS 10-11 JUNI 2022 DI BRIMOB KELAPA DUA

Ahli Ingatkan Cacar Monyet Harus Dihilangkan Sebelum Jadi Endemi

Kamis 14 Jul 2022 21:00 WIB

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Reiny Dwinanda

Foto yang dipasok CDC pada 1997 menunjukkan salah satu kasus cacar monyet di Republik Demokratik Kongo.  Ilmuwan masih belum mengerti penyebab kian banyaknya kasus cacar monyet terdeteksi di Eropa dan Amerika Utara pada 2022. Penyakit ini awalnya banyak ditemukan di Afrika, namun kini telah menyebar ke-59 negara atau wilayah.

Foto yang dipasok CDC pada 1997 menunjukkan salah satu kasus cacar monyet di Republik Demokratik Kongo. Ilmuwan masih belum mengerti penyebab kian banyaknya kasus cacar monyet terdeteksi di Eropa dan Amerika Utara pada 2022. Penyakit ini awalnya banyak ditemukan di Afrika, namun kini telah menyebar ke-59 negara atau wilayah.

Foto: CDC via AP
Cacar monyet telah menyebar ke 59 negara atau wilayah.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Badan Keamanan Kesehatan UK (UKHSA) mencatat hingga Senin (11/7/2022), ada 1.735 kasus cacar monyet di Inggris Raya, dengan 96 persen terjadi di Inggris. Kasusnya diperkirakan meningkat dua kali lipat setiap 15 hari.

Terus melonjaknya kasus cacar monyet, membuat berbagai organisasi melayangkan tuntutan kepada pemerintah untuk lebih serius menghentikan penyebaran virus. The British Association of Sexual Health & HIV dan Yayasan Terrence Higgins Trust termasuk di antara yang menyerukan pengendalian wabah dan peningkatan vaksinasi.

Baca Juga

 

photo
Asal usul cacar monyet. - (Republika)

Presiden British Association of Sexual Health & HIV, Dr Claire Dewsnap mengatakan bahwa kondisi saat ini sudah mencapai titik kritis. Karenanya, perlu ada upaya lebih serius dan komprehensif dalam mengendalikan penyebaran kasus cacar monyet.

"Layanan kesehatan seksual sekarang sudah kewalahan. Ini membuat kami berada di jurang krisis kesehatan masyarakat yang baru," kata Dr Dewsnap, seperti dilansir dari laman Express, Kamis (14/7/2022).

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f
 

BERITA LAINNYA

 
 
 
 
 
hide ads show ads
desktop mobile