Kamis 14 Jul 2022 21:15 WIB

Peternak di Indramayu Tunda Beli Bibit Ternak, Imbas Wabah PMK

Peternak di Indramayu akan membeli bibit ternak usai PMK mereda.

Rep: Lilis Sri Handayani/ Red: Nur Aini
...
Foto: ANTARA/Muhammad Bagus Khoirunas
Usai Idul Adha, para peternak kambing maupun sapi biasanya mulai kembali berhitung untuk membeli bibit maupun anakan hewan ternak, untuk kembali mereka kembangbiakkan. Namun, wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) yang kini masih belum teratasi seluruhnya, membuat para peternak di Kabupaten Indramayu memilih menunda rencana pengadaan bibit maupun anakan baru.

REPUBLIKA.CO.ID, INDRAMAYU – Usai Idul Adha, para peternak kambing maupun sapi biasanya mulai kembali berhitung untuk membeli bibit maupun anakan hewan ternak, untuk kembali mereka kembangbiakkan. Namun, wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) yang kini masih belum teratasi seluruhnya, membuat para peternak di Kabupaten Indramayu memilih menunda rencana pengadaan bibit maupun anakan baru.

Hal itu seperti yang dilakukan seorang peternak asal Kecamatan Sukra, Kabupaten Indramayu, Toto. Biasanya, setelah Lebaran Idul Adha, dia akan mengalokasikan sebagian keuntungan hasil penjualan hewan kurban untuk belanja bibit maupun anakan yang baru. Bibit atau anakan yang baru itu selanjutnya akan dipelihara untuk keperluan kurban pada Idul Adha tahun depan. ‘’Sudah kebiasaan seperti itu,’’ kata Toto, Kamis (14/7/2022).

Baca Juga

Dalam momen lebaran Idul Adha kemarin, Toto berhasil menjual 11 ekor sapi dan 36 ekor kambing kurban. Puluhan ekor hewan ternak itu sebagiannya merupakan hasil penggemukan selama satu atau dua tahun sebelumnya. Dari hasil penjualan belasan ekor sapi dan puluhan ekor kambing itu, Toto meraup keuntungan yang cukup besar. Namun meski demikian, dia mengaku akan menahan diri terlebih dahulu dari membeli bibit hewan ternak karena adanya PMK.

‘’Nanti lihat situasi PMK dulu seperti apa. Kalau PMK sudah benar-benar hilang, baru beli anakan,’’ kata Toto.

Hal senada diungkapkan seorang peternak kambing, Wahyu. Meski PMK sejauh ini lebih banyak menyerang sapi, namun dia mengaku tetap akan menunda pembelian bibit maupun anakan yang baru. ‘’Saya mau mengembangkan bibit-bibit kambing yang ada dulu,’’ tutur Wahyu.

Wahyu mengaku masih memiliki bibit kambing sebanyak enam ekor. Dari jumlah itu, sebanyak lima ekor dalam keadaan bunting. Sedangkan satu ekor lainnya, sudah melahirkan dua anakan. Wahyu menyebutkan, enam ekor bibit kambing itu dibelinya 1,5 tahun lalu.

Saat itu, umur kambing sekitar lima bulan. Adapun harganya di kisaran Rp 500 ribu – Rp 600 ribu per ekor.

‘’Kalau sekarang saya belum tahu harganya berapa. Saya mau kembangin yang ada dulu,’’ kata Wahyu. 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement