Tren Covid-19 Naik Lagi, DPR: Prokes Sekolah Tatap Muka Diperketat Kembali

Disdik tiap daerah agar lebih banyak turun ke lapangan memeriksa tiap sekolah

Selasa , 19 Jul 2022, 15:37 WIB
Sejumlah ibu rumah tangga menemani anaknya masuk sekolah pada hari pertama pembelajaran tatap muka (PTM) 100 persen di SD Negeri 07 Kota Serang, Banten, Senin (18/7/2022). Pemda setempat untuk pertama kalinya memberlakukan pembelajaran tatap muka untuk seluruh siswa secara bersamaan sejak pandemi COVID-19 untuk terus diawasi dan dievaluasi kembali setiap dua pekan.
Foto: ANTARA/Asep Fathulrahman
Sejumlah ibu rumah tangga menemani anaknya masuk sekolah pada hari pertama pembelajaran tatap muka (PTM) 100 persen di SD Negeri 07 Kota Serang, Banten, Senin (18/7/2022). Pemda setempat untuk pertama kalinya memberlakukan pembelajaran tatap muka untuk seluruh siswa secara bersamaan sejak pandemi COVID-19 untuk terus diawasi dan dievaluasi kembali setiap dua pekan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Kasus Covid-19 mengalami tren kenaikan menyusul munculnya subvarian Omicron baru, khususnya BA.4 dan BA.5. Ketua DPR RI Puan Maharani meminta Pemerintah memberi perhatian lebih terhadap penerapan protokol kesehatan saat pembelajaran tatap muka.

“Anak-anak kembali masuk sekolah di tengah kenaikan kasus Covid-19. Untuk mengantisipasi peningkatan kasus terhadap anak-anak, protokol kesehatan harus semakin dioptimalkan,” kata Puan dalam keterangannya, Selasa (19/7/2022).

Baca Juga

Ia mengingatkan Dinas Pendidikan di tiap-tiap daerah agar lebih banyak turun ke lapangan untuk memeriksa sekolah-sekolah di wilayahnya. Puan menyebut, DPR melalui Komisi X DPR akan ikut melakukan pengawasan.

“Perlu dilakukan peninjauan penerapan protokol kesehatan di sekolah-sekolah. Bagaimana sistem pengaturan social distancingnya. Jadi saya kira sistem pemantauan kesehatan siswa dan berbagai aturan yang pendukung pencegahan penyebaran Covid-19 lainnya harus lebih efektif,” paparnya.

Puan juga meminta Satgas Penanganan Covid-19 untuk meningkatkan testing, tracing dan treatment (3T) agar laju kenaikan kasus bisa ditekan semaksimal mungkin. Apalagi dengan adanya prediksi munculnya gelombang baru Corona akibat subvarian BA.4 dan BA.5.

“Di Indonesia juga telah ditemukan subvarian Omicron BA.2.57 yang telah menjangkiti sejumlah negara lainnya. Prosedur 3T tidak boleh kendur, terutama testing termasuk di sekolah-sekolah,” ungkap Puan.

Kasus harian Covid-19 di masa puncak diperkirakan akan melampaui 20 ribu dalam sehari seiring dengan temuan subvarian baru BA.2.75. Puan pun menegaskan, Pemerintah perlu mempertimbangkan sejumlah rekomendasi dari Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (PP IDAI) terkait penerapan sekolah tatap muka.

IDAI memberi peringatan adanya peningkatan kasus Covid-19 pada bayi dan anak yang membutuhkan perawatan. Selain itu juga ada peningkatan kasus komplikasi \'Multisystem Inflammatory System in Children\' (MIS-C) dan potensi kasus Long Covid-19 pada anak di Indonesia.

“Kita juga perlu terus-menerus mengajarkan anak untuk disiplin menerapkan protokol kesehatan, terutama di sekolah saat mereka bertemu dengan teman-temannya. Kedisiplinan protokol kesehatan menjadi salah satu kunci,” imbuhnya.

Puan pun mendorong pemerintah untuk menampilkan data terkini kasus Covid-19 terkonfirmasi secara akurat dan transparan, termasuk pada usia bayi dan anak, seperti yang direkomendasikan oleh IDAI.

“Kerja sama antara seluruh pihak terkait harus semakin digalakkan. Baik pihak sekolah, dinas pendidikan, Pemda, Satgas Penanganan Covid-19, Pemerintah Pusat, dan IDAI harus terus berkolaborasi untuk memastikan anak-anak kita aman dari Covid-19, tentunya dengan melibatkan orang tua murid,” kata Puan.