Sunday, 10 Jumadil Awwal 1444 / 04 December 2022

Sunday, 10 Jumadil Awwal 1444 / 04 December 2022

10 Jumadil Awwal 1444
  • JELANG HUT BHAYANGKARA KE-76,< POLRI MENGADAKAN LOMBA MENEMBAK PATI TNI-POLRI BERSAMA INSAN PERS 10-11 JUNI 2022 DI BRIMOB KELAPA DUA

Islamofobia Masih Membayang-Bayangi Muslimah Berhijab di Prancis

Rabu 20 Jul 2022 11:41 WIB

Rep: Mabruroh/ Red: Nashih Nashrullah

Muslimah Prancis di tengah kerumunan.  Diskriminasi terhadap Muslimah berhijab masih kerap terjadi di Prancis

Muslimah Prancis di tengah kerumunan. Diskriminasi terhadap Muslimah berhijab masih kerap terjadi di Prancis

Foto: theislamicmonthly
Diskriminasi terhadap Muslimah berhijab masih kerap terjadi di Prancis

REPUBLIKA.CO.ID, PARIS — Prancis telah menjadi rumah bagi  populasi Muslim terbesar di Eropa selama beberapa dekade. Kendati demikian, tetap menjadi lingkungan yang tidak bersahabat bagi mereka untuk tinggal. 

Khususnya bagi Muslimah Prancis yang mengenakan jilbab atau hijab langsung rentan terhadap Islamofobia. Salah satunya dialami okeh seorang guru sekolah di Prancis, Anisaa (28). 

Baca Juga

Anissa adalah guru sekolah Prancis-Tunisia yang berbasis di Tremblay-en-France. Ketika dia pergi berlibur bersama suaminya ke Picardy di wilayah utara Prancis, dia langsung merasa tidak nyaman.  

“Setiap kali kami keluar dan bahkan di supermarket, orang-orang terus menatapku,” ujarnya dilansir dari Alaraby, Selasa (19/7/2022). 

Akhirnya, dia dan suaminya memutuskan untuk pergi, mempersingkat liburan mereka menjadi hanya satu malam. “Saya memutuskan untuk kembali ke kota saya, di mana ada banyak Muslim dan orang kulit berwarna, dan saya merasa jauh lebih nyaman,” sambungnya. 

Anissa tidak sendirian dalam pengalamannya. Muslimah Prancis ingin dilihat dan didengar, tetapi persepsi negatif yang dimiliki masyarakat Prancis membuat ini menjadi mimpi yang mustahil. 

Assia adalah seorang penulis Prancis-Aljazair yang tinggal di Bordeaux. Dia menjelaskan bahwa jilbabnya merupakan tantangan terbesar dalam wawancara kerja, di mana dia sering menghadapi diskriminasi.  

“Saya muncul dengan jilbab saya diwawancara kerja, dan bahkan jika saya memiliki kualifikasi terbaik, saya tidak bisa mendapatkan pekerjaan itu,” ungkapnya. 

Frustrasi terbesarnya adalah dia tidak bisa mengklaim Islamofobia. "Bagaimana Anda membuktikan bahwa Anda telah didiskriminasi karena hijab Anda?" tanyanya. "Anda tidak bisa,” tegasnya. 

Ironisnya, Picardy adalah kota kelahiran Presiden Prancis Emmanuel Macron, yang diakui banyak orang sebagai tempat merajalelanya Islamofobia di negara itu.  

Pada 2020, serangan Islamofobia di Prancis meningkat sebesar 53 persen dan beberapa orang melihat ini sebagai akibat dari komentarnya yang berapi-api terhadap Muslim dan kebijakan anti-Islamnya. 

Ini termasuk penutupan 22 masjid di seluruh Prancis, dalam 18 bulan terakhir dan usulan larangan jilbab yang dikenakan oleh anak di bawah umur.  

Macron mengklaim tindakannya sebagai mempertahankan nilai-nilai sekuler di Prancis. Dia bahkan telah berbicara secara terbuka tentang ancaman radikalisme Islam di Prancis dan menambahkan bahwa Islam sedang dalam krisis di seluruh dunia. 

Selain itu, pemilihan presiden baru-baru ini pada April lalu dengan jelas menunjukkan bagaimana pandangan Macron telah berkontribusi pada sikap bermusuhan negara tersebut terhadap minoritas. 

Macron menghadapi kandidat sayap kanan Marine Le Pen, pemimpin Sekutu Nasional, yang sebelumnya dikenal sebagai Front Nasional. Dia memperoleh pangsa suara yang belum pernah terjadi sebelumnya sebesar 41,5 persen, peningkatan yang signifikan dari pemilihan presiden sebelumnya. 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f
 

BERITA LAINNYA

 
 
 
 
 
hide ads show ads
desktop mobile