Pameran Fotografi Bara-Api Tampilkan Karya 222 Fotografer dari 22 Negara

Rep: c01/ Red: Fernan Rahadi

Panitia pameran fotografi internasional saat menggelar jumpa pers di Kopi Pak Pos, Yogyakarta, Kamis, (21/7/2022).
Panitia pameran fotografi internasional saat menggelar jumpa pers di Kopi Pak Pos, Yogyakarta, Kamis, (21/7/2022). | Foto: Fitria Nurochimah

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Pameran fotografi ‘Bara Api’ akan segera hadir di Magelang, Jawa Tengah. Tepatnya di Museum Haji Widayat yang terletak di Kecamatan Mungkid. Pameran ini akan menampilkan karya 222 fotografer dari 22 negara, seperti Filipina, Vietnam, Thailand, Korea Selatan, Afrika Selatan, Amerika Serikat, Turki, Selandia Baru, dan beberapa negara lainnya.

Ketua Panitia Pameran Fotografi Internasional Bara Api, Teguh Santosa mengatakan antusiasme peserta begitu tinggi untuk mengikuti pameran. Hal ini terlihat dari jumlah fotografer yang ikut melebihi dari jumlah target yang telah ditentukan. Namun, karena jumlah kuotanya terbatas maka karya yang akan dipamerkan tetap berjumlah 222.

“Tema Bara Api itu akronim dari Candi Borobudur dan Gunung Merapi. Fotografinya tidak hanya tentang keindahan dua objek itu saja tetapi juga tentang kehidupan yang melingkupi sosial, budaya, maupun flora fauna,” jelas Teguh dalam jumpa pers di Kopi Pak Pos, Yogyakarta, Kamis (21/7/2022).

Menurut Teguh, bagi peserta dari luar negeri apabila tidak memiliki foto tentang Candi Borobudur maupun Gunung Merapi tetap dapat mengikuti ajang pameran ini. Mereka diperkenankan untuk melampirkan karya foto gunung api di mana saja dan memotret kehidupan Buddhis dari daerah lain.

Teguh menjelaskan pameran Bara Api menjadi lebih istimewa karena karya yang dipamerkan memiliki ukuran yang besar, yaitu 1x3 meter. Pameran ini akan berlangsung selama satu bulan, mulai 23 Juli sampai 23 Agustus. Acara pembukaannya akan dibuka secara langsung oleh Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo.

Salah satu inisiator dan koordinator kurator pameran, Risman Marah mengatakan pameran ini merupakan langkah untuk membangkitkan kembali motivasi para fotografer setelah pandemi Covid-19.

"Muncul pertanyaan mengenai apa yang bisa dilakukan oleh fotografer untuk bisa ikut berkontribusi dalam social healing  dan recovering economy. Maka, muncul ide untuk menggelar pameran fotografi berskala internasional agar gemanya lebih luas dan efeknya juga lebih mendalam,” ujar Risman.

Candi Borobudur dan Gunung Merapi dipilih karena sangat populer, penuh misteri dan sejarah. Gunung Merapi menjadi komandan jajaran volcano di garis cincin api dan memiliki keunikan di mana  gunung ini selalu memuntahkan lahar panas setiap hari sejak 2019. 

Sementara Candi Borobudur merupakan karya kebudayaan dan peradaban lama di abad ke-8, sejak masa Mataram Kuno dan menjadi salah satu keajaiban dunia.

Pameran ini tidak hanya terbatas diikuti oleh fotografer profesional tetapi terbuka untuk umum. Selain itu, untuk dapat berpartisipasi dalam pameran ini juga tidak ada batasan usia.

Peserta tertua berusia 96 tahun atas nama Soejai Karyasasmitra sedangkan peserta termuda adalah Khairu yang baru berusia 15 tahun.

Teguh berharap dengan adanya pameran ini  dapat menjadi menjadi penggerak bagi kegiatan ekonomi. Kehadiran wisatawan nantinya akan berpengaruh terhadap sektor perhotelan, transportasi, kuliner, dan kerajinan. Bangkitnya ekonomi ini diharapkan dapat menjadi pembasuh luka akibat pandemi sampai nanti pada akhirnya dapat berkontribusi pada social healing.

Terkait


Seniman Daun Gatal Maknai Perubahan Zaman dengan Karya Seni

Pameran Foto Indonesia Melalui Bencana

Pameran Foto Courage di Gedung WTC 2 Jakarta

Pameran Foto 60 Years of Blessing Karya Dokter Spesialis Paru

Pameran Fotografi Arus Waktu

Republika Digital Ecosystem

Kontak Info

Republika Perwakilan DIY, Jawa Tengah & Jawa Timur. Jalan Perahu nomor 4 Kotabaru, Yogyakarta

Phone: +6274566028 (redaksi), +6274544972 (iklan & sirkulasi) , +6274541582 (fax),+628133426333 (layanan pelanggan)

[email protected]

Ikuti

× Image
Light Dark