Monday, 7 Rabiul Awwal 1444 / 03 October 2022

Monday, 7 Rabiul Awwal 1444 / 03 October 2022

 

7 Rabiul Awwal 1444
  • JELANG HUT BHAYANGKARA KE-76,< POLRI MENGADAKAN LOMBA MENEMBAK PATI TNI-POLRI BERSAMA INSAN PERS 10-11 JUNI 2022 DI BRIMOB KELAPA DUA

MUI Merajut Persatuan dan Kesatuan

Selasa 26 Jul 2022 22:55 WIB

Rep: Muhyiddin/ Red: Muhammad Hafil

Logo MUI

Logo MUI

MUI merayakan milad ke 47.

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Majelis Ulama Indonesia (MUI) kini telah berusia 47 tahun, sebuah usia yang tegolong dewasa dalam ukuran manusia. Organisasi yang menjadi tenda besar umat Islam ini didirikan pada 7 Rajab 1395 Hijriyah atau bertepatan dengan 26 Juli 1975 di Jakarta.

 

Dengan mengusung tema "Merajut Kesatuan dan Kekuatan Umat dalam Kebhinekaan", MUI pun menggelar acara puncak Milad ke-47 di Hotel Sultan Jakarta pada Selasa (26/7/2022) malam. Acara ini dihadiri langsung oleh Wakil Presiden RI sekaligus Ketua Dewan Pertimbangan MUI, KH Ma'ruf Amin. 

Baca Juga

Selain itu, hadir pula sejumlah pejabat pemerintahan dan pejabat militer, serta sejumlah tokoh dari berbagai partai politik. Tidak hanya itu, Milad MUI kali ini juga dihadiri para dubes dari negara sahabat, seperti dari Malaysia, Arab Saudi, Maroko, dan Rusia. 

Dalam sambutannya, Ketua Panitia Milad ke-47 MUI, KH Cholil Nafis bersyukur Milad ke-47 MUI bisa kembali dirayakan setelah dua tahun menghadapi situasi pandemi Covid-19. Menurut dia, Milad kali ini penting dirayakan untuk merajut kesatuan dan kekuatan umat dalam bingkai kebhinnekaan.

"Tema ini hasil perenungan mendalam dari pimpinan MUI. Pertama, karena memang situasi kita butuh kekuatan, butuh kesatuan," ujar Ketua MUI bidang Dakwah dan Ukhuwah ini.

Kiai Cholil menjelaskan, kondisi Indonesia saat ini sedang bersiap masuk dalam tahapan politik. Biasanya, kata dia, sesuatu akan menjadi besar mana kala dibumbuhi dengan politik dan itu lebih menakutkan lagi kalau dilegitimasi oleh agama. Karena itu, MUI merasa perlu untuk memeguhkan kembali persatuan dan kesatuan.

"Maka, ini ini penting untuk kita semua membangun kesatuan. Karena tidak mungkin kita kuat tanpa persatuan," ucap Pengasuh Pondok Pesantren Cendikia Amanah Depok ini. 

Saat Rasulullah mengusulkan Piagam Madinah, menurut dia, hal pertama yang juga disampaikan saat itu adalah tentang persatuan seluruh rakyat di Madinah. Karena, persatuan merupakan asas penting untuk membangun kekuatan. 

"Dalam konteks inilah kami, mengjngatkan kembali untuk menyatukan, untuk merajut kesatuan dan kekuatan itu," kata Kiai Cholil. 

Dia menuturkan, setidaknya ada tiga landasan penting untuk membangun persatuan dan kekuatan di Indonesia, yaitu taaruf (saling mengenal), tafahum (saling memahami), dan taawun (saling menolong). Menurut dia, umat Islam kedepannya perlu untuk terys mengasah tiga landasan ini.  

"Oleh karena itu kami berharap MUI ini menjadi sebuah tenda besar bagi umat Islam untuk merajut kesatuan dan kekuatan," jelas dia. 

Sementara itu, Wakil Ketua Umum MUI Buya Basri Bermanda mengatakan, Milad MUI kali ini sebenarnya masih diselenggarakan dalam suasana Covid-19. Karena itu, para peserta yang mengikuti secara luring masih menerapkan protokol kesehatan secara ketat. 

Dalam momentum Milad ke-47 ini, dia menyampaikan bahwa selama ini MUI telah menunaikan amanahnya sebagai pelayanan umat atau khadimul ummah dan berupaya menunaikan misi Himayatul Ummah atau melindungi dan membentengi umat Muslim dalam berbagai aspek. 

MUI  terus emnajdi pelindung umnlmah atau Himayatul ummah, termasuk memastikan makanan dan minuman dan berbagai produk yang halal," ujar dia saat sambutan dalam acara Puncak Milad ke-47 MUI.

Selain itu, menurut dia, MUI juga terus menjadi mitra pemerintah yang mengambil peran strategis dan berpartisipasi dalam berbagai program pemerintah, serta memberikan nasihat atau bimbingan agar pemerintah Indonesia tetap berjalan sesuai dengan Pancasila, konstitusi, peraturan dan nilai-nilai luhur Islam. 

"Maka, dalam kesempatan yang baik ini, saya mengajak kita semua untuk umat Islam dan seluruh umat beragama untuk terus menguatkan ikatan lahir batin persaudaraan kita, sebagai keluarga besar, sebagai bangsa yang religius sejak ratusan tahun lalu," kata Buya Basri Bermanda.

"Mari kita pertahankan sikap relegius kita bangsa indonesia ini di tengah serbuan budaya aisng yang ingin merusak sendi-sendi ajaran agama," imbuhnya.

 

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f

 

 

BERITA LAINNYA

 

 

hide ads show ads
desktop mobile