Dampak Resesi AS, China dan Perang Ukraina-Rusia, DPR Desak KSSK Lakukan Antisipasi Krisis

KSSK harus perkuat sinergi dan ada roadmap jelas untuk antisipasi dampak terburuk

Senin , 01 Aug 2022, 09:20 WIB
Anggota Komisi XI DPR, Kamrussamad, meminta Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) memperkuat sinergi dan mengantisipasi dampak terburuk.
Foto: DPR
Anggota Komisi XI DPR, Kamrussamad, meminta Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) memperkuat sinergi dan mengantisipasi dampak terburuk.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Resesi yang kini dihadapi Amerika Serikat (AS) dan China, serta perang berkepanjangan antara Ukraina-Rusia. Diyakini akan berdampak besar pada perekonomian global, karenanya Anggota Komisi XI DPR, Kamrussamad, meminta Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) memperkuat sinergi dan mengantisipasi dampak terburuk.

"Menghadapi situasi yang semakin tidak pasti ini, KSSK harus perkuat sinergi dan ada roadmap yang jelas untuk antisipasi dampak-dampak terburuk,” kata Kamrussamad dalam keterangan tertulis, Senin (1/8/2022).

Baca Juga

Politikus Partai Gerindra itu menjelaskan,  PDB AS pada kuartal II 2022 negatif 0,9 persen, setelah pada kuartal I juga negatif 1,6 persen. Menurutnya, kondisi tersebut membuat AS dipastikan mengalami resesi.

“Resesi di AS akan berdampak setidaknya pada dua hal bagi Indonesia. Pertama, tekanan ekspor karena AS akan berhemat dan mengurangi impor. Kedua, resesi ini akan direspons oleh the Fed dengan kembali menaikkan suku bunga. Kalau ini terjadi, potensi Capital outflow akan semakin tinggi,” jelasnya.

Ancaman krisis lainnya selain resesi AS, yakni pertumbuhan ekonomi China yang negatif. Hal itu diperparah dengan konflik geopolitik antara Rusia-Ukraina yang belum reda. Kamrussamad melihat hal tersebut akan berdampak pada performa ekspor Indonesia.

“Ini krusial, terutama bagi kinerja ekspor kita. AS, RRT, Eropa adalah negara-negara tujuan ekspor Indonesia. Jadi, kalau mereka melemah, permintaan ekspor turun dan harga komoditas turun" kata dia, dalam siaran persnya.

Kondisi tersebut, menurutnya diperparah dengan kenaikan suku bunga The Fed. Kamrussamad menilai kenaikan suku bunga itu akan direspons dengan investor beramai-ramai menarik dananya dalam jumlah besar.

“Dan ini terjadi sejak Mei 2022. Rp 32,12 triliun pada Mei, lalu turun menjadi Rp 15,51 triliun pada Juni 2022, dan kembali naik menjadi Rp 29,15 triliun pada Juli 2022,” urainya.

Dia mengatakan, meskipun kondisi tersebut oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani dinilai tidak membuat rupiah melemah signifikan, tapi dengan ancaman krisis yang datang dari tiga penjuru akan membuat dampaknya lebih besar dari sebelumnya.