Friday, 11 Rabiul Awwal 1444 / 07 October 2022

Friday, 11 Rabiul Awwal 1444 / 07 October 2022

 

11 Rabiul Awwal 1444
  • JELANG HUT BHAYANGKARA KE-76,< POLRI MENGADAKAN LOMBA MENEMBAK PATI TNI-POLRI BERSAMA INSAN PERS 10-11 JUNI 2022 DI BRIMOB KELAPA DUA

Hati-Hati, Anak Bisa Stunting Akibat Pola Asuh yang Salah

Selasa 09 Aug 2022 14:13 WIB

Rep: Dian Fath Risalah/ Red: Reiny Dwinanda

Mengasuh bayi (ilustrasi). Ketika orang tua salah menerapkan pengasuhan, bukan tidak mungkin tumbuh kembang anak menjadi terganggu dan bahkan mengakibatkan stunting.

Mengasuh bayi (ilustrasi). Ketika orang tua salah menerapkan pengasuhan, bukan tidak mungkin tumbuh kembang anak menjadi terganggu dan bahkan mengakibatkan stunting.

Foto: www.freepik.com
Polah asuh yang diterapkan orang tua dapat memengaruhi pertumbuhan anak.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pola asuh menjadi modal penting bagi tumbuh kembang seorang anak. Ketika orang tua salah menerapkan pengasuhan, bukan tidak mungkin tumbuh kembang anak menjadi terganggu dan bahkan mengakibatkan stunting.

 

Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo mengatakan, yang harus pertama kali diperhatikan orang tua adalah terkait pemenuhan gizi seimbang pada anak. Anak membutuhkan nutrisi yang terdapat dalam makanan dan minuman yang sehat untuk pertumbuhan.

Baca Juga

"Gizi yang baik sangat penting untuk pertumbuhan dan perkembangan otak, terutama dalam dua tahun pertama anak," kata Hasto, Selasa (9/8/2022).

Jika pola makan tidak sehat terjadi pada anak akibat salah pola asuh, menurut Hasto, maka dampak yang ditimbulkan adalah gangguan atau penyakit. Anak bisa mengalami obesitas, penyakit jantung, kerusakan gigi, penyakit hati, dan lain sebagainya.

"Lebih mudah dan murah untuk mencegah penyakit dengan memberikan gizi yang sehat. Mari kita mulai memberikan gizi seimbang ketika anak-anak masih kecil," ujar Hasto.

Hasto pun memberikan pemahaman terkait pola asuh yang baik dan benar pada anak, yakni dengan kasih sayang, menyediakan lingkungan yang aman, nyaman, dan menyenangkan bagi tumbuh kembang anak. Ia menyerukan melakukan pengasuhan tanpa kekerasan dan berkelanjutan serta memberikan teladan yang baik.

"Otoritatif, namun demokratis sehingga terjalin komunikasi dua arah antara orang tua dan anak. Lalu permisif, berperan sebagai teman daripada orang tua," tuturnya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f

 

 

BERITA LAINNYA

 

 

hide ads show ads
desktop mobile