Friday, 4 Rabiul Awwal 1444 / 30 September 2022

Friday, 4 Rabiul Awwal 1444 / 30 September 2022

 

4 Rabiul Awwal 1444
  • JELANG HUT BHAYANGKARA KE-76,< POLRI MENGADAKAN LOMBA MENEMBAK PATI TNI-POLRI BERSAMA INSAN PERS 10-11 JUNI 2022 DI BRIMOB KELAPA DUA

Ekonom: Terlalu Banyak Pengetatan Moneter AS Ciptakan Stagflasi di Negara Lain

Rabu 10 Aug 2022 01:20 WIB

Red: Nidia Zuraya

The Fed/Ilustrasi. Jayati Ghosh, profesor di Departemen Ekonomi di bawah University of Massachusetts Amherst memperingatkan bahwa jika Fed AS terus menaikkan suku bunga, seluruh dunia akan mengalami stagflasi.

The Fed/Ilustrasi. Jayati Ghosh, profesor di Departemen Ekonomi di bawah University of Massachusetts Amherst memperingatkan bahwa jika Fed AS terus menaikkan suku bunga, seluruh dunia akan mengalami stagflasi.

Foto: ABC News
Stagflasi di luar AS menyebabkan krisis utang dan valas yang parah di banyak negara.

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK -- Kenaikan suku bunga yang terlalu agresif oleh Federal Reserve AS menciptakan stagflasi di seluruh dunia dan tidak serta merta akan mengatasi akar penyebab inflasi domestik, kata seorang ekonom terkenal di Amerika Serikat.

 

"Bank sentral di Amerika Serikat sudah terlalu agresif dalam menaikkan suku bunga padahal sebenarnya tidak perlu," kata Jayati Ghosh, profesor di Departemen Ekonomi di bawah University of Massachusetts Amherst.

Baca Juga

Dalam wawancara daring baru-baru ini dengan Xinhua, Ghosh memperingatkan bahwa jika Fed AS terus menaikkan suku bunga, seluruh dunia akan mengalami stagflasi.

Stagflasi di luar Amerika Serikat akan sangat serius karena pelarian modal ke tempat yang aman menyebabkan krisis utang dan valuta asing yang parah di banyak bagian dunia dan negara-negara berkembang menghadapi inflasi impor akibat dolar AS yang kuat, kata Ghosh.

Ghosh mencatat bahwa ketika Fed AS memperketat pasokan uangnya, ia menarik kembali modal dari negara-negara emerging markets dan berkembang, yang telah menyebabkan gagal bayar di setidaknya di tiga negara berkembang, dengan lima atau enam lainnya di ambang gagal bayar.

"Kami sudah menghadapi inflasi karena harga pangan dan bahan bakar yang tinggi. Dan depresiasi mata uang memperburuk keadaan. Sehingga menambah kecenderungan inflasi," kata Ghosh, yang bekerja sebagai profesor di Pusat Studi Ekonomi dan Perencanaan Jawaharlal Nehru Universitas, India, dari 1998 hingga 2020.

"Ketika negara berkembang belum benar-benar pulih dari pandemi dan ketika banyak dari mereka belum mampu melakukan respons fiskal seperti yang dilakukan negara maju, kita sudah mengalami perlambatan ekonomi dan kecenderungan resesi. Dan sekarang kita mengalami inflasi. Jadi itu adalah situasi stagnasi klasik untuk seluruh dunia," kata pakar ekonomi tersebut.

Inflasi saat ini, menurutnya, tidak diciptakan oleh peningkatan permintaan tetapi oleh pencatutan dan spekulasi, yang perlu ditangani. "Anda harus mengatasi kelebihan keuntungan yang dibuat oleh perusahaan dan spekulasi keuangan di pasar komoditas. Tanpa membahasnya, hanya menaikkan suku bunga, itu seperti menggunakan palu untuk sesuatu yang tidak ada pakunya," papar Ghosh.

"Anda mungkin akhirnya menghancurkan pemulihan ekonomi atau menciptakan stagflasi di negara lain. Tapi Anda tidak serta merta mengatasi masalah yang menciptakan inflasi," katanya menambahkan.

Lamanya stagflasi "sangat tergantung pada bagaimana situasinya dan itu sangat tergantung pada kebijakan moneter G7 (Grup 7) dan apakah Dana Moneter Internasional (IMF) dapat turun tangan dan melakukan apa yang seharusnya dilakukan," kata Ghosh.

Selama sekitar 60 tahun, Amerika Serikat telah mengambil keuntungan dari hak istimewanya yang luar biasa selangit, seperti yang kita sebut, memegang mata uang cadangan global karena dapat mencetak dolar sesuka hati dan akan diterima secara global, kata ekonom itu.

Tindakan AS baru-baru ini membekukan cadangan bank sentral Venezuela, Afghanistan, Rusia, dan Iran dinilai Ghosh tidak hanya ilegal secara internasional. "Tetapi juga menciptakan ketidakpercayaan yang meningkat di Amerika Serikat sebagai tempat yang dapat diandalkan untuk menyimpan aset Anda," ujarnya.

Lebih lanjut Ghosh mengatakan, hegemoni dolar AS, yang sangat penting dalam ekspansi ekonomi Amerika Serikat sendiri, akan menjadi jauh lebih rapuh di masa depan. "Tidak diragukan lagi bahwa semakin banyak negara dan bank sentral akan memikirkan cara alternatif untuk menjaga cadangan mereka dan jelas itu hal yang logis untuk dilakukan," tambahnya.

sumber : Antara
Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f

 

 

BERITA LAINNYA

 

 

hide ads show ads
desktop mobile