Monday, 7 Rabiul Awwal 1444 / 03 October 2022

Monday, 7 Rabiul Awwal 1444 / 03 October 2022

7 Rabiul Awwal 1444
  • JELANG HUT BHAYANGKARA KE-76,< POLRI MENGADAKAN LOMBA MENEMBAK PATI TNI-POLRI BERSAMA INSAN PERS 10-11 JUNI 2022 DI BRIMOB KELAPA DUA

Sejak Zaman Kolonial, Belanda Jauhi Orang Tionghoa dari Islam

Jumat 12 Aug 2022 12:36 WIB

Rep: Kurusetra/ Red: Partner

.

.

Foto: network /Kurusetra
Belanda menggunakan politik adu domba untuk memisahkan keturunan Tionghoa dengan pribumi.

Keturunan Tionghoa di Indonesia. Belanda menggunakan politik adu domba untuk memisahkan keturunan Tionghoa dengan pribumi. Foto: IST
Keturunan Tionghoa di Indonesia. Belanda menggunakan politik adu domba untuk memisahkan keturunan Tionghoa dengan pribumi. Foto: IST

CERITA ABAH: Artikel ini adalah warisan berupa tuturan dari sejarawan sekaligus wartawan senior (Almarhum) Alwi Shahab kepada kami dan kami tulis ulang. Selamat Menikmati.

KURUSETRA -- Salam Sedulur... Pada 2001, warga Tionghoa yang masuk Islam, menurut Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) mulai meningkat, terutama sejak masuknya sejumlah konglomerat mereka. Namun 20 tahun lalu itu jumlahnya masih sangat sedikit dibandingkan yang memeluk agama lain. Sebagai contoh, H Yunus Yahya, pendiri PITI, menyebutkan sejak Perang Dunia II, dua juta keturunan Tionghoa di Indonesia masuk Kristen.

Drs H Alifuddin el Islamy, seorang juru dakwah dari keturunan Tionghoa, optimistis di masa mendatang lebih banyak lagi keturunan Tionghoa di Indonesia memeluk Islam. Terutama generasi mudanya.

BACA JUGA: Humor Gus Dur: PKB Kalah di Madura Gara-Gara Jurkam Bilang Pilih PeKabeh, P Semua (PPP)

Keengganan masyarakat Tionghoa memeluk Islam, menurut dai yang sering muncul di televisi ini, akibat politik kolonial Belanda. Sejak awal penjajahan, Belanda mengadakan politik ‘divide et empera’. Dengan memisahkan keturunan Tionghoa dan pribumi, termasuk memberikan kemudahan dan membedakan status sosial mereka.

Seperti dikemukakan Dr Mona Lahonda, pengajar jurusan sejarah UI dan peneliti di Arsip Nasional, sejak awal abad ke-17 sudah banyak para hwakiau (perantau Cina) yang bermigrasi ke Indonesia. Di antara para imigran awal ini termasuk Jan Con (baca: Yang Kong), yang nama Hokiennya adalah Gouw Tjau. Dia adalah seorang Muslim.

BACA JUGA: Download WhatsApp GB (WA GB) Versi Terbaru Agustus 2022: Mudah, Cepat, dan Anti-banned

Jan Con datang di Batavia bersama sekitar 200 orang keturunan Cina dari Banten. Pimpinan rombongan adalah Souw Beng Kong atau Bencon yang kemudian diangkat oleh Gubernur Jenderal JP Coen sebagai kapiten Cina pertama di Batavia.


Seperti perantau Tionghoa lainnya, Jan Con yang menjadi sekretaris kapiten Bencon, masih memegang teguh ikatan batin dengan Tong-soa sebutan kerinduan emigran Tionghoa terhadap negeri leluhurnya. Tidak heran, kalau kemudian ia terangkat menjadi seorang konglomerat banyak membantu kerabatnya di daratan Cina.

Namun sebagai Muslim, ia juga banyak membantu kegiatan keagamaan. Setidak-tidaknya membangun masjid di Kampung Bebek, Angke, Jakarta Barat. Ia dan orang-orang Tionghoa waktu itu tinggal di sekitar Jl Tiang Bendera, Glodok dewasa ini.

BACA JUGA: Istilah Priangan Muncul Gara-Gara Penolakan Prabu Siliwangi Memeluk Agama Islam

Daerah yang kini menjadi pusat pertokoan dan perdagangan, kala itu sebuah perkampungan Tionghoa. Bahkan, di antara menantu kapiten Bencon terdapat seorang Muslim keturunan Tionghoa, bernama Eutje Moedin.

Ikatan Jan Con dengan tanah leluhurnya masih diperkokoh lagi oleh kenyataan bahwa ia adalah pemasok tenaga kerja dari daratan Cina ke Batavia. Mereka yang akan dipekerjakan sebagai kuli dan tenaga kasar didatangkan dengan jung-jung Cina ke Batavia. Leonard Blusse, dalam bukunya ‘Persekutuan Aneh,’ menyebutkan, tenaga kerja dari Cina itu digunakan untuk menambah kawanan budak yang dikerahkan oleh VOC untuk menggali saluran dan membangun kubu-kubu pertahanan di Batavia.

BACA JUGA: Lirik Lagu Joko Tingkir Ngombe Dawet Viral dan Diprotes Ulama-Ulama Jawa Timur

Ia juga mempekerjakan para kuli Tionghoa ini pada perusahaan penebangan kayu dan perkebunan gula. Kala itu, di sekitar Jakarta memang banyak produksi kayu dan industri. Konon, hasil kayu jati dari Batavia sangat tersohor, yang kini dapat ditelusuri dengan adanya nama-nama tempat, seperti Jatiwaringan, Kramatjati, Jatibunder, dan masih bnyak lagi.

Waktu itu, menurut Leonard Blusse, perdagangan kayu merupakan usaha yang sangat berbahaya. Karena, sering mendapat serangan dari gerilyawan Banten yang tidak pernah berhenti mengusik kompeni.

BACA JUGA: Berburu Janda Pejabat Belanda di Batavia, Orang Tionghoa Cari PSK di Mangga Besar

Berkat hubungan baiknya dengan VOC, Jan Con dan Bencon mendapatkan kemudahan dalam berbagai jenis usaha, dan mendapat tugas memungut pajak pada warga Tionghoa. Ia juga diminta VOC untuk menjadi penengah dalam perundingan perdamaian dengan Kesultanan Banten. Hal ini makin memperkokoh kedudukannya di hadapan Hoge Regeening (Pemerintahan Agung, Gubernur Jenderal dan Dewan Hindia).

Namun, ia tidak selalu beruntung dalam kehidupan pribadinya. Istrinya didapati bermain gelap dengan laki-laki Cina, hingga ia merasa kehilangan harga dirinya. “Peristiwa zina istrinya itu diketahui oleh umum,” tulis Leonard Blusse.

BACA JUGA: Alasan Warga Tionghoa Hindari Angpao Berisi Uang Bernominal Angka 4

Pada September 1639 ia meninggal dunia dalam keadaan melarat dan meninggalkan utang yang sangat besar. Menurut Mona, ia juga dituduh terlibat dalam membuat uang palsu kepeng uang logam dari timah yang berlaku saat itu.

Ambisinya untuk menggantikan Bencon menjadi kapiten Cina juga gagal karena VOC memilih saingannya, Lim Lico. Mona memperkirakan kegagalan ini, dimungkinkan karena agama.

Waktu itu, untuk kelompok Islam, sudah ada kapiten sendiri. Jadi, tidak mungkin ada dua kapiten beragama Islam. Mona Lahonda menafsirkan kisah Jan Con sebagai tragedi orang Cina yang bisa kaya tapi juga bisa bangkrut.

BACA BERITA MENARIK LAINNYA:

> Humor NU: Orang Muhammadiyah Ikut Tahlilan Tapi Gak Bawa Pulang Berkat, Diledek Makan di Tempat Saja

> Bolehkah Makan Nasi Berkat dari Acara Tahlilan? Halal Bisa Jadi Haram

> Banyak Pria Jakarta Sakit Raja Singa Gara-Gara Wisata "Petik Mangga"

> Kata Siapa Muhammadiyah tidak Punya Habib, KH Ahmad Dahlan Itu Keturunan Rasulullah

> Pak AR Salah Masuk Masjid, Diundang Ceramah Muhammadiyah Malah

> Humor Cak Nun: Soal Rokok Muhammadiyah Terbelah Jadi Dua Mahzab

.

Ikuti informasi penting seputar berita terkini, cerita mitos dan legenda, sejarah dan budaya, hingga cerita humor dari KURUSETRA. Kirim saran dan kritik Anda ke email kami: kurusetra.republika@gmail.com. Jangan lupa follow juga Youtube, Instagram, Twitter, dan Facebook KURUSETRA.

sumber : https://kurusetra.republika.co.id/posts/171447/sejak-zaman-kolonial-belanda-jauhi-orang-tionghoa-dari-islam
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 

BERITA TERKAIT

 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f
 

BERITA LAINNYA

 
hide ads show ads
desktop mobile