Tuesday, 8 Rabiul Awwal 1444 / 04 October 2022

Tuesday, 8 Rabiul Awwal 1444 / 04 October 2022

 

8 Rabiul Awwal 1444
  • JELANG HUT BHAYANGKARA KE-76,< POLRI MENGADAKAN LOMBA MENEMBAK PATI TNI-POLRI BERSAMA INSAN PERS 10-11 JUNI 2022 DI BRIMOB KELAPA DUA

Ketum PAN Zulhas Usul Subsidi BBM Langsung ke Masyarakat

Senin 15 Aug 2022 08:46 WIB

Red: Agus raharjo

Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan.

Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan.

Foto: Istimewa
Pemerintah hanya akan menanggung Rp 15 triliun per bulan untuk subsidi Rp 500 ribu.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Zulkifli Hasan mengusulkan pemberian subsidi bahan bakar minyak (BBM) langsung diberikan kepada masyarakat. Menurutnya, subsidi langsung ke rakyat ini jadi solusi membengkaknya subsidi energi 2022 yang sudah menembus angka Rp 500 triliun.

 

Ketum PAN yang juga Menteri Perdagangan ini mengaku, membengkaknya subsidi energi ini dipengaruhi kondisi geopolitik Rusia-Ukraina yang membuat harga minyak dan LPG di pasar dunia meroket. Akibatnya, subsidi energi tahun 2022 membengkak hampir 30 persen dari pendapatan APBN.

Baca Juga

“PAN berpendapat subsidi harus lebih berkeadilan, berkelanjutan, dan menyejahterakan,” ujarnya saat memaparkan Gagasan dan Visi Misi Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) yang disiarkan YouTube PAN Jatim yang dipantau dari Jakarta, Senin (15/8/2022).

Zulkifli menyampaikan gagasan itu sebagai Ketua Umum PAN. Zulhas, sapaan Zulkifli Hasan, mengaku, PAN menawarkan dua solusi terkait subsidi energi. Pertama, subsidi energi beralih dari berbasis komoditas menjadi subsidi langsung. Kedua, mempercepat transformasi energi bersih. “Subsidi langsung diberikan pada warga kita yang miskin,” tegasnya.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat terdapat 26 juta orang yang diperkirakan memiliki kebutuhan konsumsi untuk dua motor dan mengkonsumsi 2x3 kilogram LPG per bulan. Sementara kebutuhan listrik mereka mencapai 900 Watt.

Zulhas mengatakan, dengan subsidi BBM dan LPG warga tak mampu sebesar Rp 500 ribu rupiah per orang per bulan, pemerintah hanya akan menanggung Rp 15 triliun per bulan. “Angka ini sekitar Rp 180 triliun per tahun,” ujarnya.

Ia juga menegaskan, pemerintah masih dapat menghemat uang yang dibakar untuk mempercepat Transformasi Energi Bersih. Caranya, pertama, percepatan pemakaian kendaraan listrik; kedua, memperbanyak kompor listrik bagi rumah tangga; ketiga, memperluas dan memperbanyak titik-titik pengisian baterai kendaraan listrik; dan keempat, memperbanyak pasokan listrik dari energi baru dan terbarukan.

Ketum PAN mengusulkan subsidi langsung itu lantaran energi adalah kebutuhan pokok manusia, termasuk manusia Indonesia. Namun, ia juga mengaku menyadari, saat ini terjadi kesenjangan antara konsumsi dan kemampuan nasional menyiapkan ketersediaan energi. “Kebutuhan BBM kita per hari 1,6 juta barel, sementara produksi hanya 0,6 juta barel. Artinya kita impor minyak mentah dan BBM per hari satu juta barel,” ujarnya.

Begitu juga dengan LPG, dimana per tahun kebutuhannya mencapai sekitar delapan juta ton. Dari besaran ini, hanya dipenuhi produksi domestic kurang dari satu juta ton. “Karena itu, hingga tak kurang dari tujuh juta kita harus impor,” tegas Mendag.

Padahal, semua impor energi, terutama minyak dan LPG, dinilai sangat menguras devisa. “Beban subsidi energi ini memberatkan kita semua. Bapak Presiden sudah lima kali bicara dengan sangat prihatin,” tegas Mendag.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f

 

 

BERITA LAINNYA

 

 

hide ads show ads
desktop mobile