Friday, 11 Rabiul Awwal 1444 / 07 October 2022

Friday, 11 Rabiul Awwal 1444 / 07 October 2022

 

11 Rabiul Awwal 1444
  • JELANG HUT BHAYANGKARA KE-76,< POLRI MENGADAKAN LOMBA MENEMBAK PATI TNI-POLRI BERSAMA INSAN PERS 10-11 JUNI 2022 DI BRIMOB KELAPA DUA

Survei LSI: KIB Unggul di Segmentasi Pemilih Moderat

Senin 15 Aug 2022 09:09 WIB

Red: Joko Sadewo

Peneliti senior LSI Denny JA, Ardian Sopa (kanan) memaparkan hasil survei terbaru lembaganya, Senin (15/8/2022).

Peneliti senior LSI Denny JA, Ardian Sopa (kanan) memaparkan hasil survei terbaru lembaganya, Senin (15/8/2022).

Foto: istimewa/tangkapan layar
KIB perlu menambah satu partai koalisi agar lebih aman.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Temuan survei nasional terbari LSI Denny JA menyebutkan poros Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) yang terdiri PAN-PPP-Partai Golkar, unggul di segmen pemilih yang  moderat.

 

"Sementara poros PDIP lebih unggul di segmen pemilih yang puas dengan kinerja Jokowi. Dan poros Gerindra plus PKB lebih unggul di segmen pemilih yang kurang puas dengan kinerja Jokowi,” kata peneliti senior LSI Denny JA, Ardian Sopa, dalam siaran pers, Senin (15/8/2022).

LSI Denny JA menyebut hampir mustahil PDIP bertarung sendirian, tanpa mengandeng partai lain, dalam Pilpres 2024 mendatang. Sekalipun, lanjutnya, PDIP sudah memenuhi syarat pencalonan minimal 20 persen.

"Namun hampir mustahil PDIP menggandeng PKS karena alasan ideologis,” ungkap Ardian. Selain itu, mustahil juga PDIP menggandeng Demokrat, karena riwayat hubungan Megawati- SBY. Dalam perkembangan terakhir,  kecil pula kemungkinan bagi PDIP menggandeng Nasdem karena irama politik Megawati dan Surya Paloh tak sejalan.

Ardian melihat pada masa pendaftaran, di bulan September 2023, sangat mungkin PDIP mengajak Gerindra, atau PKB atau KIB untuk menyatukan kekuatan.

Sementara KIB sendiri sangat mungkin menambah kekuatan. Dengan koalisi yang hanya berkekuatan tiga partai saja, menurut Ardian, sangatlah riskan.  Jika satu partai mengundurkan diri maka bisa membuat KIB tak lagi mencapai ambang batas syarat pencalonan capres-cawapres.

“Satu partai yang mungkin diajak adalah PKS atau Demokrat.  Ini disebabkan karena PKS dan Demokrat tak memiliki bargaining kuat untuk meminta calon presiden,’ papar dia.

Pilpres 2024 tak diikuti koalisi partai oposisi. Itu karena hanya dua partai yang kini di luar pemerintahan: Demokrat dan PKS. Gabungan dua partai ini tak cukup membentuk satu poros untuk mencalonkan presiden dan wapres 2024-2029.

Menurut Ardian, Demokrat dan PKS terpaksa ikut dalam poros lain. Mereka juga dalam posisi sebagai pemimpin poros koalisi. Prosentase kursi  Demokrat dan PKS di DPR  2019-2024 tidak menonjol untuk memimpin poros koalisi partai mencalonkan capres- cawapres 2024-2029.

Survei nasional LSI Denny JA menggunakan 1200 responden di 34 Provinsi di Indonesia. Wawancara dilaksanakan secara tatap muka (face to face interview). Margin of error (Moe) survei ini adalah sebesar +/- 2.9%.

Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f

 

 

BERITA LAINNYA

 

 

hide ads show ads
desktop mobile