Mathlaul Anwar Diminta Aktif Suarakan Perdamaian Lewat Medsos

Red: Fernan Rahadi

Santri Aliyah Mathlaul Anwar Gelar Buka Bersama
Santri Aliyah Mathlaul Anwar Gelar Buka Bersama | Foto: Robi Ahdiyat

REPUBLIKA.CO.ID, PANDEGLANG -- Media sosial masih banyak dimanfaatkan kelompok-kelompok tertentu untuk menyebarkan konten-konten yang berbau kekerasan dan SARA yang bisa menimbulkan perpecahan di masyarakat. Mulai anak muda sampai orang tua pun mudah terhasut oleh konten-konten di media sosial.

Untuk itulah upaya menyuarakan perdamaian harus terus digencarkan di lingkungan masyarakat. Salah satunya melalui organanisasi kemasyarakatan (ormas), seperti ormas terbesar di Banten, Mathlaul Anwar.

“Kami memohon kepada keluarga besar Mathlaul Anwar untuk membekali anak didik muda kita dan masyarakat lingkungan sekitar dalam bermain media sosial agar dapat ilmu bermanfaat bukan dapat keburukannya. Jangan sampai anak muda terpapar paham intoleransi, radikalisme dan terorisme yang dapat menimbulkan perpecahan bangsa ini,” ujar Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme  (BNPT) Komjen Pol Boy Rafli Amar.

Pernyataan itu disampaikan Kepala BNPT saat melakukan Silaturahmi Kebangsaan dengan Keluarga Besar Mathlaul Anwar di Perguruan Mathlaul Anwar Pusat Menes, Pandeglang, Banten beberapa waktu lalu.

Lebih lanjut Kepala BNPT menjelaskan, aksi terorisme bisa merusak bangsa, meruntuhkan ekonomi hingga menimbulkan chaos di masyarakat. Salah satu contoh bentuk aksi terorisme adalah kejahatan di Papua yang membuat masyarakat merasa terancam karena banyaknya kasus pembunuhan dan meneror masyarakat . Selain itu dirinya juga memastikan bahwa terorisme tidak ada kaitannya dengan agama apapun.

“Tidak ada kaitannya semua terorisme dengan agama. Itu hanya salah persepsi oknum umat beragama. Terorisme itu bukan Islam. Jangan sampai terbawa pemahaman bahwa terorisme adalah perjuangan Islam. Mereka yang mendesain ini senang sekali jika terorisme dianggap merupakan bagian dari perjuangan Islam,” kata mantan Kapolda Papua ini menerangkan.

Bahkan menurutnya, ulama-ulama besar di Indonesia merupakan ulama pejuang dan juga pejuang ulama dengan prinsip cinta kepada negara. Karena perjuangan para tokoh ulama sesuai tujuan bernegara untuk mencerdaskan bangsa ini tentunya tidaklah mudah.

“Jangankan pakai senjata nuklir, generasi pejuang kemerdekaan yang hanya menggunakan bambu runcing saja sudah berani melawan penjajah yang ingin merebut Indonesia,” ujarnya.

Hal ini menurutnya sangat jauh berbeda dengan negara lain yang gagal menjaga identitas nasional. Sedangkan bangsa Indonesia dijaga oleh tokoh bangsa hingga tokoh ulama. Apalagi ketika proklamasi kemerdekaan RI, Soekarno-Hatta didampingi tokoh bangsa dan juga ulama Islam.

"Kita bersyukur diberikan pondasi yang luar biasa kuat. Sebanyak 273 juta penduduk Indonesia dibangun atas pondasi dan masukan dari tokoh agama, para wali dengan berkah rahmat Allah SWT. Banyak negara kecil terjadi perang saudara. Contohnya Afghanistan, Yaman,” ujarnya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id

Terkait


Akhirnya Rusia Tegas, Peringatkan AS Soal Penetapan 'Negara Sponsor Terorisme'

Parlemen Latvia Resmi Tetapkan Rusia Negara Sponsor Terorisme

BNPT Ajak Mathlaul Anwar Banten Banjiri Medsos dengan Pesan Perdamaian

Bantu Kesejahteraan Narapidana Terorisme, BNPT Perkuat Program KTN

Kenang 19 Tahun Bom JW Marriott, Kepala BNPT: Tidak Boleh Terjadi Lagi Terorisme di Dunia

Republika Digital Ecosystem

Kontak Info

Republika Perwakilan DIY, Jawa Tengah & Jawa Timur. Jalan Perahu nomor 4 Kotabaru, Yogyakarta

Phone: +6274566028 (redaksi), +6274544972 (iklan & sirkulasi) , +6274541582 (fax),+628133426333 (layanan pelanggan)

yogya@republika.co.id

Ikuti

× Image
Light Dark