953 Ekor Sapi di Indramayu Masih Terjangkit PMK

Rep: Lilis Sri Handayani/ Red: Agus Yulianto

Dokter Hewan dari Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Indramayu memeriksa sapi untuk mencegah penyebaran Penyakit Mulut dan Kuku (PMK).
Dokter Hewan dari Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Indramayu memeriksa sapi untuk mencegah penyebaran Penyakit Mulut dan Kuku (PMK). | Foto: ANTARA/Dedhez Anggara

REPUBLIKA.CO.ID, INDRAMAYU – Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) masih menyerang ratusan ekor sapi di Kabupaten Indramayu. Upaya pengobatan dan sosiaiasi pun terus dilakukan.

Berdasarkan data dari Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner pada Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Indramayu, total populasi ternak yang terdampak PMK di Kabupaten Indramayu sejak 14 Mei 2022 hingga 23 Agustus 2022 mencapai 2.317 ekor.

Ternak sapi yang terpapar PMK itu tersebar di 27 desa di 19 kecamatan di Kabupaten Indramayu. "Dari jumlah itu, untuk saat ini, sapi yang masih aktif (terpapar) PMK ada 953 ekor di sepuluh desa di tujuh kecamatan," ujar Kabid Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner pada Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Indramayu, Dian Daju, saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (25/8).

Selain 953 ekor sapi yang masih terpapar PMK, ada 1.172 ekor yang sudah sembuh, 177 ekor sapi yang mati dan 13 ekor dipotong. Dian menyebutkan, dari 953 ekor sapi yang saat ini masih terpapar PMK itu, sebanyak 925 ekor di antaranya terdapat di Blok Situbolang, Desa Jatisura, Kecamatan Cikedung. Sedangkan sisanya yang mencapai 28 ekor, tersebar di sembilan desa lainnya.

Dian mengatakan, di Blok Situbolang, selain ada 925 ekor yang masih terpapar PMK, adapula 119 ekor yang sudah mati. Sapi yang mati itu merupakan sapi pedet (anak sapi), dengan usia dibawah lima bulan. "Tapi matinya bertahap, tidak sekaligus," ucap Dian.

Dian menjelaskan, banyaknya sapi di Blok Situbolang yang terpapar PMK di antaranya dipengaruhi oleh cara memberikan pakan pada sapi dengan cara di-angon (dilepaskan di alam). Akibatnya, PMK yang menyerang sejumlah sapi menjadi cepat menyebar ke sapi-sapi lainnya.

"Selain itu, lokasi kandang juga saling berdekatan sehingga penyebaran penyakit menjadi cepat," tutur Dian.

Dian mengungkapkan, kasus PMK di Blok Situbolang pertama kali dilaporkan terjadi pada 31 Juli 2022. Saat itu, pihaknya langsung mengirimkan dokter hewan untuk memberikan pengobatan.

Selain pengobatan, lanjut Dian, sosialisasi juga diberikan kepada peternak mengenai cara penanganan maupun pencegahan PMK. Para peternak pun diminta untuk sementara ini mengkandangkan sapinya dan tidak di-angon terlebih dulu.

Dengan langkah tersebut, Dian menyatakan, kasus PMK di Blok Situbolang mulai terkendali. Selain 925 ekor sapi yang kini masih terserang PMK dan 119 ekor sapi yang mati, adapula 519 ekor di blok tersebut yang sudah dinyatakan sembuh. "Langkah pengobatan dan sosialisasi masih terus kita lakukan," ujarnya.

Dian menambahkan, pihaknya pun melakukan vaksinasi PMK di berbagai wilayah di Kabupaten Indramayu. Untuk vaksinasi PMK tahap pertama, sudah ada 1.796 ekor sapi yang disuntik. Sedangkan vaksinasi booster, ada 400 ekor sapi.

Dian menyatakan, vaksinasi PMK akan segera dilakukan kembali dan direncanakan pekan depan. Vaksinasi tersebut akan diutamakan pada sapi betina yang dalam kondisi sehat. 

 

Terkait


Pemkab Garut Salurkan Kompensasi Ternak Mati Akibat PMK

Antisipasi Penyebaran PMK, Kemenhub Optimalkan Layanan Angkutan Khsusus Ternak

Satgas Sebut 1,6 Juta Ekor Ternak sudah Vaksinasi PMK

Universitas Brawijaya Gandeng Berbagai Pihak Atasi PMK

Satgas: 1,6 Juta Ekor Hewan Ternak Sudah Divaksinasi PMK

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@rol.republika.co.id (Marketing)

Ikuti

× Image
Light Dark