Friday, 8 Jumadil Awwal 1444 / 02 December 2022

Friday, 8 Jumadil Awwal 1444 / 02 December 2022

8 Jumadil Awwal 1444
  • JELANG HUT BHAYANGKARA KE-76,< POLRI MENGADAKAN LOMBA MENEMBAK PATI TNI-POLRI BERSAMA INSAN PERS 10-11 JUNI 2022 DI BRIMOB KELAPA DUA

Tragedi Maut Stadion Kanjuruhan, PBNU: Yang Bersalah Harus Dihukum

Ahad 02 Oct 2022 05:39 WIB

Rep: Fuji E Permana/ Red: Nashih Nashrullah

Suporter Arema FC memasuki lapangan setelah tim yang didukungnya kalah dari Persebaya dalam pertandingan sepak bola BRI Liga 1 di Stadion Kanjuruhan, Malang, Sabtu (1/10/2022).

Suporter Arema FC memasuki lapangan setelah tim yang didukungnya kalah dari Persebaya dalam pertandingan sepak bola BRI Liga 1 di Stadion Kanjuruhan, Malang, Sabtu (1/10/2022).

Foto: ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto
PBNU mendorong investigasi secara objektif terhadap tragedi Kanjuruhan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Bidang Keagamaan, KH Ahmad Fahrurrozi atau Gus Fahrur, menyampaikan, tragedi sepak bola di Malang sangat disesalkan. 

PBNU mengucapkan belasungkawa dan duka cita mendalam, semoga mereka diampuni dan dirahmati Allah SWT. 

Baca Juga

"Ini tragedi yang sangat menyedihkan, harus dievaluasi menyeluruh siapa yang harus bertanggung jawab atas insiden ini," kata Gus Fahrur melalui pesan tertulis yang diterima Republika.co.id, Ahad (2/10/2022).

Dia mengatakan, pihak yang bersalah harus ditindak dan dihukum. Sementara itu, pertandingan dihentikan untuk investigasi dan pemeriksaan agar diketahui apa penyebab dan kronologi sebenarnya. 

"Kita harus muhasabah, mengapa sepak bola yang seharusnya menyenangkan kok menjadi mengerikan," ujar Gus Fahrur. 

Dia menegaskan, perlu dievaluasi apakah penanganan represif pihak keamanan dan penggunaan gas air mata sudah sesuai standar protap keamanan di stadion sehingga penonton panik dan berdesakan di pintu, kemudian saling terinjak-injak. 

Gus Fahrur mengingatkan, masyarakat pencinta bola perlu berpikir lebih rasional dan dipertimbangkan lagi apa maslahah dan mafsadah menonton bola di stadion. 

Apakah masih perlu sampai mengorbankan nyawa, belum lagi meninggalkan kewajiban sholat bagi Muslim.

"Fanatisme berlebihan terhadap klub sepak bola harus dihentikan, mungkin dipertimbangkan lebih baik menonton di televisi saja," jelas Gus Fahrur. Sebanyak 127 orang dilaporkan meninggal dunia dalam tragedi yang terjadi di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, Jawa Timur, pascapertandingan antara Arema FC melawan Persebaya Surabaya.

Kapolda Jawa Timur Irjen Pol Nico Afinta, dalam jumpa pers di Kabupaten Malang, Jawa Timur, Minggu, mengatakan dari 127 orang yang meninggal dunia tersebut, dua di antaranya merupakan anggota Polri.

"Dalam kejadian itu, telah meninggal 127 orang, dua di antaranya adalah anggota Polri," kata Nico.

Nico menjelaskan, sebanyak 34 orang dilaporkan meninggal dunia di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, sementara sisanya meninggal saat mendapatkan pertolongan di sejumlah rumah sakit setempat.

Menurutnya, hingga saat ini terdapat kurang lebih180 orang yang masih menjalani perawatan di sejumlah rumah sakit tersebut.

Selain korban meninggal dunia, tercatat ada 13 unit kendaraan yang mengalami kerusakan, 10 di antaranya merupakan kendaraan Polri.

"Masih ada 180 orang yang masih dalam perawatan. Dari 40 ribu penonton, tidak semua anarkis. Hanya sebagian, sekitar 3.000 penonton turun ke lapangan," tambahnya.

Sesungguhnya, lanjutnya, pertandingan di Stadion Kanjuruhan tersebut berjalan dengan lancar. Namun, setelah permainan berakhir, sejumlah pendukung Arema FC merasa kecewa dan beberapa di antara mereka turun ke lapangan untuk mencari pemain dan ofisial.

Petugas pengamanan kemudian melakukan upaya pencegahan dengan melakukan pengalihan agar para suporter tersebut tidak turun ke lapangan dan mengejar pemain. Dalam prosesnya, akhirnya petugas melakukan tembakan gas air mata.

Menurutnya, penembakan gas air mata tersebut dilakukan karena para pendukung tim berjuluk Singo Edan yang tidak puas dan turun ke lapangan itu telah melakukan tindakan anarkistis dan membahayakan keselamatan para pemain dan ofisial.

"Karena gas air mata itu, mereka pergi keluar ke satu titik, di pintu keluar. Kemudian terjadi penumpukan dan dalam proses penumpukan itu terjadi sesak nafas, kekurangan oksigen," katanya.

Sementara itu, PSSI mengucapkan duka mendalam atas korban kerusuhan Persebaya vs Arema FC di Stadion Kanjuruhan, Malang pada Sabtu (1/10/2022).  

"Duka cita mendalam untuk sepak bola Indonesia, PSSI turut berduka cita atas kejadian yang menimpa pencinta sepak bola Tanah Air di Stadion Kanjuhuran, Malang semoga almarhum dan almarhumah mendapat tempat terbaik di Sisi-Nya dan keluarga yang ditinggal diberi ketabahan," tulis akun Instagram PSSI, Ahad (2/10/2022).       

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f
 

BERITA LAINNYA

 
 
 
 
 
hide ads show ads
desktop mobile