Sunday, 10 Jumadil Awwal 1444 / 04 December 2022

Sunday, 10 Jumadil Awwal 1444 / 04 December 2022

10 Jumadil Awwal 1444
  • JELANG HUT BHAYANGKARA KE-76,< POLRI MENGADAKAN LOMBA MENEMBAK PATI TNI-POLRI BERSAMA INSAN PERS 10-11 JUNI 2022 DI BRIMOB KELAPA DUA

Dokter Paru Ungkap Dampak Paparan Gas Air Mata

Ahad 02 Oct 2022 06:59 WIB

Rep: Dian Fath Risalah, Shelbi Asrianti/ Red: Reiny Dwinanda

Foto tangkapan layar twitter suasana tribun penonton yang tersaput asap gas air mata7d8 Stadion Kanjuruhan, Malang, Sabtu (1/10). 129 penonton tewas akibat sesak nafas dan terinjak massa pada kerusuhan ini.

Foto tangkapan layar twitter suasana tribun penonton yang tersaput asap gas air mata7d8 Stadion Kanjuruhan, Malang, Sabtu (1/10). 129 penonton tewas akibat sesak nafas dan terinjak massa pada kerusuhan ini.

Foto: Tangkapan layar
Gas air mata digunakan dalam penanganan kerusuhan suporter di Stadion Kanjuruhan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dokter spesialis pulmonologi dan kedokteran respirasi paru, Prof Tjandra Yoga Aditama, menjelaskan secara umum gas air mata dapat menimbulkan dampak pada kulit, mata, dan saluran napas, serta paru. Gas air mata mengandung bahan kimia yakni, chloroacetophenone (CN), chlorobenzylidenemalononitrile (CS), chloropicrin (PS), bromobenzylcyanide (CA), dan dibenzoxazepine (CR).

"Untuk gejala akutnya di paru dan saluran napas dapat berupa dada berat, batuk, tenggorokan seperti tercekik, batuk, bising mengi, dan sesak napas," jelas Prof Tjandra dalam keterangannya, Ahad (2/10/2022).

Baca Juga

Pada keadaan tertentu, menurut Prof Tjandra, dapat terjadi gawat napas (respiratory distress). Direktur Pasca Sarjana Universitas YARSI tersebut menjelaskan paparan gas air mata pada orang dengan penyakit asma atau penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) dapat memicu serangan sesak napas akut.

"Bukan tidak mungkin itu berujung pada gagal napas respiratory failure," kata Prof Tjandra.

Selain di saluran napas, gejala lain adalah rasa terbakar di mata, mulut dan hidung. Gas air mata juga dapat membuat pandangan kabur dan kesulitan menelan.

"Juga dapat terjadi semacam luka bakar kimiawi dan reaksi alergi," ucap Prof Tjandra yang juga merupakan Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Prof Tjandra mengatakan, meskipun dampak utama gas air mata adalah dampak akut yang segera timbul, ternyata pada keadaan tertentu dapat terjadi dampak kronis alias berkepanjangan. Hal ini terutama kalau paparan berkepanjangan dalam dosis tinggi dan apalagi kalau di ruangan tertutup.

Silakan akses epaper Republika di sini Epaper Republika ...
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f
 

BERITA LAINNYA

 
 
 
 
 
hide ads show ads
desktop mobile