Monday, 4 Jumadil Awwal 1444 / 28 November 2022

Monday, 4 Jumadil Awwal 1444 / 28 November 2022

4 Jumadil Awwal 1444
  • JELANG HUT BHAYANGKARA KE-76,< POLRI MENGADAKAN LOMBA MENEMBAK PATI TNI-POLRI BERSAMA INSAN PERS 10-11 JUNI 2022 DI BRIMOB KELAPA DUA

Bukan Flu, Sakit Kepala tak Kunjung Sembuh Plus Demam Bisa Jadi Gejala Meningitis

Senin 03 Oct 2022 18:00 WIB

Red: Reiny Dwinanda

Sakit kepala (ilustrasi). Nyeri kepala yang tidak sembuh disertai demam merupakan salah satu gejala meningitis,

Sakit kepala (ilustrasi). Nyeri kepala yang tidak sembuh disertai demam merupakan salah satu gejala meningitis,

Foto: www.freepik.com.
Gejalanya mirip flu, meningitis disebabkan oleh virus, bakteri, jamur, atau parasit.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dokter spesialis saraf Adisresti Diwyacitta mengingatkan masyarakat agar waspada terhadap gejala meningitis. Salah satunya berupa sakit kepala disertai demam yang tidak kunjung membaik.

"Kalau misalnya ada yang merasa mengeluhkan nyeri kepala tidak sembuh-sembuh atau semakin berat, disertai demam, jangan sepelekan, baiknya segera berobat ke dokter untuk dievaluasi lebih lanjut," kata dokter dari Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (RSPON) Prof Dr dr Mahar Mardjono itu saat diskusi daring bertema "Mengenal Infeksi Otak" di Jakarta, Senin (3/10/2022).

Baca Juga

Dr Adisresti mengatakan gejala awal meningitis mirip dengan flu. Itu membuat meningitis cukup sulit untuk dibedakan apabila pasien tidak datang memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan (faskes).

Umumnya, pasien yang datang ke faskes sering mengeluhkan sakit kepada dan demam. Jika keluhan tersebut tak kunjung sembuh setelah pasien berobat ke faskes tingkat pertama, dr Adisresti menganjurkan agar pasien melakukan pemeriksaan di faskes tingkat lanjut untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

"Kalau flu kan harusnya minum obat atau berobat ke klinik sembuh dalam beberapa hari, tapi kalau meningitis tidak sembuh dengan minum obat tersebut," katanya.

Dr Adisresti mengatakan selain sakit kepada dan demam, gejala meningitis lain yang mungkin dialami pasien dapat berupa kaku kuduk atau kekakuan pada leher, penurunan kesadaran, kejang, dan mual atau muntah. Gejala yang lebih parah dapat menimbulkan lemahnya bagian tubuh pada satu sisi.

Dr Adisresti menjelaskan sejumlah pemeriksaan perlu dijalani pasien di faskes tingkat lanjut untuk menegakkan diagnosis, seperti pemeriksaan riwayat kesehatan, CT scan, dan MRI. Yang tak kalah penting, yaitu lumbal pungsi atau tindakan untuk mengambil sampel cairan otak dari tulang punggung belakang untuk diperiksakan di laboratorium.

"Lumbal pungsi merupakan salah satu yang membantu kami menegakkan diagnosis, apakah ini infeksi otak atau bukan," jelas dr Adisresti.

Lumbal pungsi hanya bisa dilakukan rumah sakit besar.  Meningitis merupakan kondisi infeksi otak yang dapat disebabkan oleh virus, bakteri, jamur, atau parasit.

Dr Adisresti menegaskan kondisi ini harus diwaspadai karena dapat membahayakan nyawa bila tidak tertangani dengan baik. Penanganan meningitis dapat bervariasi bergantung penyebabnya.

Jika disebabkan oleh tuberkulosis (TBC), menurut dr Adisresti, dokter akan memberi obat TBC. Hanya saja, durasi konsumsi menjadi lebih lama hingga minimal satu tahun.

sumber : Antara
Silakan akses epaper Republika di sini Epaper Republika ...
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f
 

BERITA LAINNYA

 
 
 
 
 
hide ads show ads
desktop mobile