Saturday, 16 Jumadil Awwal 1444 / 10 December 2022

Saturday, 16 Jumadil Awwal 1444 / 10 December 2022

16 Jumadil Awwal 1444
  • JELANG HUT BHAYANGKARA KE-76,< POLRI MENGADAKAN LOMBA MENEMBAK PATI TNI-POLRI BERSAMA INSAN PERS 10-11 JUNI 2022 DI BRIMOB KELAPA DUA

BNPB: 32 Bencana Terjadi Selama Sepekan Terakhir

Senin 03 Oct 2022 14:26 WIB

Red: Ilham Tirta

Sejumlah warga bergotong royong menyingkirkan timbunan tanah longsor yang menutup jalan (ilustrasi).

Sejumlah warga bergotong royong menyingkirkan timbunan tanah longsor yang menutup jalan (ilustrasi).

Foto: ANTARA/Anis Efizudin
Frekuensi bencana menurun dibandingkan pekan sebelumnya.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat terdapat 32 kejadian bencana selama sepekan, mulai 26 September hingga 2 Oktober 2025. Pelaksana tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari mengatakan, frekuensi bencana pada pekan tersebut menurun dibandingkan pekan sebelumnya, sebanyak 48 kejadian.

"Terjadi 32 kali kejadian bencana di mana 30 kejadiannya atau 94 persen masih hidrometeorologi, dan dua kejadian bencana merupakan bencana geologi," ujar Abdul dalam Disaster Briefing di Jakarta, Senin (3/10/2022).

Baca Juga

Abdul mengatakan, bencana hidrometeorologi basah yang diakibatkan curah hujan tinggi masih mendominasi. Namun secara beriringan juga terdapat bencana hidrometeorologi kering, yakni kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

"Secara normal, ini kita masih pada periode peralihan. Tetapi karena ada pengaruh dari fenomena regional La Nina dan Indian Ocean Dipole di Samudra Hindia, kita masih relatif basah, tapi tidak mengurangi adanya kejadian kebakaran hutan dan lahan," ujar Abdul.

Kejadian tanah longsor menjadi bencana yang paling banyak menelan korban jiwa. Paling signifikan terjadi di Kabupaten Kota Baru, Kalimantan Selatan. Sementara kejadian bencana geologi yang cukup siginifikan adalah Gempa Tapanuli Utara, Sumatera Barat pada Sabtu (1/10/2020).

"Jadi kalau di fase kita sekarang akhir September, awal Oktober, kita masih di tengah musim peralihan, sebenarnya frekuensi kejadian hujan masih tinggi. Artinya, kita masih waspada banjir, tetapi di beberapa tempat karena kondisi kondisi tertentu potensi kekeringan dan kebakaran hutan juga masih cukup tinggi," ujar Abdul.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 

BERITA TERKAIT

 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f
 

BERITA LAINNYA

 
 
 
 
 
hide ads show ads
desktop mobile