Saturday, 16 Jumadil Awwal 1444 / 10 December 2022

Saturday, 16 Jumadil Awwal 1444 / 10 December 2022

16 Jumadil Awwal 1444
  • JELANG HUT BHAYANGKARA KE-76,< POLRI MENGADAKAN LOMBA MENEMBAK PATI TNI-POLRI BERSAMA INSAN PERS 10-11 JUNI 2022 DI BRIMOB KELAPA DUA

Pengamat: Disparitas Mutu Madrasah Sangat Tajam

Rabu 05 Oct 2022 12:53 WIB

Rep: Fuji Eka Permana/ Red: Agung Sasongko

Ilustrasi Siswa Madrasah

Ilustrasi Siswa Madrasah

Foto: Republika/Wihdan
Mayoritas madrasah masih di bawah standar nasional.

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Kementerian Agama (Kemenag) menyampaikan bahwa jumlah madrasah negeri sekitar 6,5 persen sudah banyak yang bagus bahkan ada yang menjadi madrasah terbaik. Namun, sekitar 93,5 persen madrasah swasta masih perlu diperjuangkan. 

Melihat kondisi madrasah di Tanah Air, Pengamat Pendidikan Islam, Jejen Musfah, menyampaikan bahwa disparitas mutu madrasah di Indonesia masih sangat tajam. Mayoritas madrasah masih di bawah standar nasional, karena sebagian madrasah didirikan bukan karena visi yang besar, dana yang memadai, dan sumber daya manusia yang unggul.

Baca Juga

"Tapi (madrasah sebagian besar didirikan) dengan tujuan sosial yaitu keberpihakan pada masyarakat lemah di desa, tidak ada uang pangkal dan gratis, jikapun ada sumbangan pembinaan pendidikan (SPP) sangat kecil di bawah Rp 100 ribu," kata Jejen kepada Republika, Rabu (5/10/2022). 

Kemenag menyampaikan bahwa salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas madrasah dengan menegerikan madrasah swasta. Madrasah swasta diubah menjadi madrasah negeri.   

Mengenai hal itu, Jejen berpendapat, boleh saja pemerintah mengubah madrasah swasta menjadi negeri asalkan prosesnya sesuai aturan dan tidak merugikan swasta. Jika sudah dinegerikan, diutamakan mengakomodasi sumber daya manusia sebelumnya.

Jejen juga menyampaikan hal-hal yang perlu diperhatikan Kemenag dalam upaya meningkatkan madrasah. Di antaranya, mewujudkan bangunan dan fasilitas belajar yang standar di setiap madrasah, meningkatkan kualitas guru dan staf. Kemudian membuat visi madrasah yang sesuai kebutuhan industri, masyarakat, dan perwujudan dunia yang aman serta damai.

"Singkatnya lulusan madrasah disiapkan tidak hanya sebagai agamawan tapi juga ilmuwan yang memecahkan masalah kemanusiaan dan dunia yang hijau dan pelestarian lingkungan, hablumminallah, hablumminannas, hablum minal'alam," ujar Jejen.

Sebelumnya, Kemenag melalui Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Islam (Ditjen Pendis), Rohmat Mulyana, menjelaskan, jumlah madrasah negeri sekitar 6,5 persen dari total madrasah yang ada di Indonesia. Sementara sekitar 93.5 persennya adalah madrasah swasta. Madrasah negeri yang jumlahnya sekitar 6 persen sudah sangat bagus. 

Ia mengatakan, sekarang madrasah sudah bagus, tidak lagi disebut sebagai sekolah kelas kedua seperti beberapa tahun yang lalu. Dulu siswa tidak bisa masuk ke sekolah umum, dimasukan ke madrasah sebagai pilihan kedua. Tapi sekarang sudah terbalik kondisinya, madrasah menjadi tujuan pertama, para orang tua ingin anaknya masuk madrasah.

"Walau memang kita jujur dari jumlah madrasah masih banyak yang perlu diperjuangkan (agar menjadi lebih baik), khususnya madrasah swasta," kata Rohmat kepada Republika, akhir pekan lalu. 

Ia menerangkan, madrasah negeri disubsidi, artinya pemerintah wajib mengeluarkan anggaran untuk madrasah negeri. Kalau madrasah swasta, jika ada bisa dibantu tapi jika tidak ada maka tidak wajib dibantu. 

"Sekarang ada sekitar 162 madrasah kita coba dialih statuskan dari madrasah swasta menjadi madrasah negeri. Kami secara bertahap membangun madrasah yang sudah dinegerikan itu, itu upaya kami untuk memperbanyak madrasah seperti ini (MAN 2 dan MAN 1 Kota Malang)," jelas Rohmat.  

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f
 

BERITA LAINNYA

 
 
 
 
 
hide ads show ads
desktop mobile