Menelusuri Asal-Usul Kata Khalifah dan Maknanya dalam Alquran

Rep: Muhyiddin/ Red: Nashih Nashrullah

 Kamis 06 Oct 2022 13:12 WIB

Ilustrasi Alquran. Kata khalifah terdapat dalam Alquran dengan sejumlah pemaknaan Foto: pxhere Ilustrasi Alquran. Kata khalifah terdapat dalam Alquran dengan sejumlah pemaknaan

Kata khalifah terdapat dalam Alquran dengan sejumlah pemaknaan

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA- Dalam Alquran disebutkan bahwa manusia diangkat sebagai khalifah di muka bumi ini. Jika manusia sebagai khalifatullah di bumi, maka dia memiliki tugas-tugas tertentu sesuai dengan tugas-tugas yang telah digariskan  Allah SWT.

Lalu mengapa manusia ditempatkan Allah di planet bumi? Mengapa Allah memberikan manusia kedudukan sebagai khalifah di bumi?

Baca Juga

Melalui buku “Khilafah: Peran Manusia di Bumi” ini, M Quraish Shihab berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut sesuai kemampuan serta latar belakang konsentrasi keilmuannya. Prof Quraish memberikan pencerahan tentang tugas manusia sebagai khalifah di muka bumi ini. 

Namun, Prof Quraish memberikan pemahaman dulu terkait arti kata “Khalifah” yang terambil dari kata bahasa Arab, khalafa. 

Menurut dia, dalam perkembangannya, kata khalifah juga digunakan dalam arti penguasa tertinggi yang memiliki wewenang mengatur suatu wilayah. Gelar ini semakna dengan gelar amirul mukminin.

Prof Quraish mengatakan, empat tokoh yang berwenang mengatur hal ihwal kaum muslim sepeninggal Nabi Muhammad SAW adalah Sayyidina Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib. Keempat tokoh itu disebut khalifah-khalifah atau populer dinamai khulafa’ ar-Rasyidin.

Dia menjelaskan, banyak ulama yang memahami kata khalifah yang dimaksud surat al-Baqarah ayat 30-31 tersebut dalam arti pengganti makhluk lain yang telah menghuni bumi sebelum sosok khalifah (Adam) yang akan diciptakan itu.

Menurut Prof Quraish, yang digantikan itu bisa jadi makhluk dari jenis jin yang tercipta dari api. Bisa jadi juga mereka adalah jenis manusia (Homo erectus) yang telah wujud sebelum terciptanya manusia modern yang oleh sementara pakar diperkirakan baru sekitar 10 ribu hingga 14 ribu tahun yang lalu, atau bisa juga makhluk lainnya. Yang jelas, menurut penulis, jika makna ini dipilih, maka kata khalifah mengandung arti bahwa dia datang di belakang atau sesudah makhluk sebelumnya.

Mahaguru para penafsir, Ibnu Jarir ath-Thabariy (839-923) kemudian mengetengahkan beberapa pendapat bahwa yang digantikan itu sebenarnya adalah jin yang pernah menghuni bumi dan merusak. 

Ada juga yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan khalifah adalah anak keturunan Adam yang silih berganti menghuni bumi.

Kemudian ada lagi pendapat yang dikutip ath-Thabariy yang menyatakan bahwa penggalan ayat tersebut bermaksud menyatakan bahwa Allah dan menetapkan khalifah bagi dirinya yang Dia tugaskan untuk mengelola dan menegakkan hukum atas nama-Nya di bumi.

Menurut Prof Quraish, khalifah itu adalah Adam atau siapapun yang melaksanakan tugas-tugas itu untuk meneruskan fungsi Adam dalam ketaatan kepada Allah serta menegakkan keadilan di tengah makhluk-Nya.

“Adapun yang menumpahkan darah dan melakukan perusakan maka mereka tentu saja tidak wajar dinamai khalifah Allah,” tegas Prof di halaman 40 buku ini.

Prof Quraish menjelaskan, pengangkatan oleh Allah SWT itu bukan karena Allah tidak mampu melakukan sendiri apa yang dikehendaki-Nya, tidak juga menjadikan manusia yang diangkat berkedudukan sebagai Tuhan. Melainkan, menurut dia, pengangkatannya karena Allah bermaksud memberi kehormatan sekaligus menguji manusia. 

sumber : Dok Istimewa
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini