BKSAP DPR: Hasil P20 akan Dibawa ke G20

Dunia saat ini menghadapi berbagai masalah dari sektor sosial hingga ekonomi.

Jumat , 07 Oct 2022, 02:16 WIB
Ketua Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) DPR RI  Fadli Zon menyampaikan sambutan dalam pertemuan Parliamentary Forum in the Context of the G20 Parliamentary Speakers Summit (P20) di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (5/10/2022). P20 merupakan forum parlemen negara-negara G20 yang diselenggarakan dalam satu rangkaian Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20. Kegiatan ini akan berlangsung 5-7 Oktober 2022 dan akan membahas isu-isu global. Prayogi/Republika.
Foto: Prayogi/Republika.
Ketua Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) DPR RI Fadli Zon menyampaikan sambutan dalam pertemuan Parliamentary Forum in the Context of the G20 Parliamentary Speakers Summit (P20) di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (5/10/2022). P20 merupakan forum parlemen negara-negara G20 yang diselenggarakan dalam satu rangkaian Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20. Kegiatan ini akan berlangsung 5-7 Oktober 2022 dan akan membahas isu-isu global. Prayogi/Republika.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) DPR RI Fadli Zon mengatakan, Parliamentary Forum in the Context of the G20 Parliamentary Speaker's Summit (P20) membicarakan empat isu utama. Hasilnya nanti akan dibawa ke forum G20.

"P20 ini nanti hasilnya semacam dokumen yang menjadi bagian joint statement untuk dibawa ke G20," ujar Fadli lewat keterangan tertulisnya, Jumat (7/10/2022).

Baca Juga

Isu yang dibahas dalam P20 meliputi percepatan pencapaian pembangunan berkelanjutan dan ekonomi hijau, persoalan kekinian, krisis pangan, dan energi. Serta, tantangan global ekonomi, peran parlemen dan demokrasi, persamaan gender, serta inklusi sosial.

Adapun acara P20 pada hari ini, dikhususkan pada pertemuan antara pembicara dari tuan rumah, pimpinan DPR, dan anggota parlemen yang tergabung dalam P20. Forum tersebut juga akan membahas P20 akan membahas persoalan-persoalan yang terkait dengan konflik antara Rusia dan Ukraina.

"Kita (Indonesia) termasuk yang ingin mencari solusi. Posisi masing-masing pihak berbeda-beda, tapi kita semaksimal mungkin di P20 ini, ada satu forum yang bisa berbagi isu bersama dan kita tidak ingin memperuncingnya," ujar Fadli.

Ia mengatakan, dunia saat ini menghadapi berbagai masalah dari sektor sosial hingga ekonomi. Tentu, masalah tersebut harus dicari solusinya oleh semua pihak dengan bergerak secara kolektif dan bersama.

"Kita tidak punya waktu untuk pasif dan saling menyalahkan, bahkan tidak ada waktu untuk berbicara lagi. Sebaliknya, sekarang adalah seruan yang sangat mendesak untuk bertindak secara kolektif dan bersama-sama seperti banyak forum sebelumnya yang masih banyak dibicarakan," ujar Fadli.

Ketua DPR Puan Maharani menyebut, tidak ada satu negara yang mampu menghadapi sendirian gejolak dan tantangan ke depan. Setiap negara membutuhkan kerja sama dengan negara lainnya.

Masalah lokal dapat dengan mudah berkembang menjadi krisis global. Selanjutnya, krisis global dapat berdampak pada kehidupan sehari-hari rakyat di berbagai negara.

"Jelaslah bahwa saat ini segala masalah dunia kita saling berhubungan. Sehingga diperlukan respon bersama yang melibatkan berbagai kalangan dan perspektif. Diperlukan kerja bersama, kolaborasi, gotong royong," ujar Puan dalam pidato dalam pembukaan The 8th G20 Parliamentary Speaker's Summit (P20), Kamis (6/10/2022).

Ia menjelaskan, setiap negara memiliki kapasitas dan kapabilitas dalam menghadapi resiko ancaman krisis. Lewat kerja sama, kolaborasi, dan gotong royong antarnegara diharapkan dapat meningkatkan daya respon setiap negara untuk menanggulangi permasalahan global.

"Ini dapat kita lakukan hanya bila kita memperlakukan Sidang Forum P20 ini dengan komitmen yang kuat, untuk menyelamatkan nasib dunia yang ditentukan oleh keputusan-keputusan yang akan kita diambil," ujar Puan.