Thursday, 7 Jumadil Awwal 1444 / 01 December 2022

Thursday, 7 Jumadil Awwal 1444 / 01 December 2022

7 Jumadil Awwal 1444
  • JELANG HUT BHAYANGKARA KE-76,< POLRI MENGADAKAN LOMBA MENEMBAK PATI TNI-POLRI BERSAMA INSAN PERS 10-11 JUNI 2022 DI BRIMOB KELAPA DUA

Startup Amoda Buatan Alumni ITB Curi Perhatian di G20

Jumat 07 Oct 2022 11:51 WIB

Rep: Arie Lukihardianti / Red: Agus Yulianto

Produk property buatan Amoda bentuknya unik dan futuristik, produk ber ukuran 3,6 meter x 2,4 meter ini punya desain yang dapat dipindahkan dan diperluas sesuai dengan kebutuhan.

Produk property buatan Amoda bentuknya unik dan futuristik, produk ber ukuran 3,6 meter x 2,4 meter ini punya desain yang dapat dipindahkan dan diperluas sesuai dengan kebutuhan.

Foto: Istimewa
Amoda sebuah startup di bidang properti dan konstruksi mampu mencuri perhatian G20.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Rangkaian acara Konferensi Tingkat Tinggi G20 Indonesia 2022, yang digelar pada 28 September hingga 2 Oktober 2022 di Pasar Nusa Dua 2, Bali, mencuri perhatian internasional. 

Rangkaian G20 juga menyita atensi karena diramaikan sederet karya inovatif dari jajaran startup di Indonesia.

Salah satu yang menarik perhatian tersebut adalah Amoda sebuah startup di bidang properti dan konstruksi yang didirikan oleh Robin bersama Bojes. Robin sendiri, menempuh kuliah Strata 1 (S1) Teknik Sipil di Institut Teknologi Bandung.

Lima unit produk mereka yang bernama ErgaPods tampil di sana dan diisi oleh sederet jenama kenamaan di antaranya Esteh Indonesia, Butter Beurre, Ubud Raw Chocolate & Cacao, Korte Chocolate, dan Namasindo Plas. 

Selain karena bentuknya yang unik dan futuristik, produk ber ukuran 3,6 meter x 2,4 meter ini punya desain yang dapat dipindahkan dan diperluas sesuai dengan kebutuhan.

Menurut CEO Amoda, Robin Yovianto, startup-nya tampil di G20 untuk mengenalkan produk mereka yang dinilai efektif bagi pengusahaatau property owner. Misalnya, salah satu produk Amoda yakni ErgaPods, pengusaha dapat memindahkan asetnya ke mana pun ia mau.

“Dulu tempat bekerja atau berbisnis seperti ini tak bisa dipindahkan sehingga investasi akan mati. Mereka sekarang bisa mengefisienkan investasinya. Pemindahannya juga tidak perlu pakai crane, seperti memindahkan kontainer yang menghabiskan uang sekitar Rp 30 juta,” ujar Robin, dalam siaran pers yang diterima, Jumat (7/10).

Lewat G20, kata dia, Amoda menunjukkan bahwa startup mereka inovatif dan telah menjadi solusi bagi investasi, khususnya di bidang properti. 

Menurut Agusti “Bojes” Salman Farizi, Co-Founder Amoda, startup-nya adalah jalan keluar bagi pelaku usaha dalam menemukan lokasi terbaik untuk bisnisnya. “Bagi kami, di mana pun lokasinya, Amoda solusinya,” kata Bojes.

Namun, kata dia, jauh sebelum bisa eksis dan tampil di rangkaian G20 itu, Amoda nyatanya punya perjalanan yang panjang. Startup ini lahir dari keilmuan Robin yang dibangun bersama Bojes. 

Pada 2011 Robin menempuh kuliah Strata 1 (S1) Teknik Sipil di Institut Teknologi Bandung. Kampus Ganesha dipilih Robin karena kesukaannya terhadap fisika dan mekanik.

Robin mengaku, sangat mencintai teknik sipil dan kesehariannya selama menempuh pendidikan di ITB. Maka itu, jangan heran jika pada akhirnya ia berhasil meraih cumlaude dengan IPK 3.95 ketika lulus dari ITB di tahun 2015.

Keberhasilannya di jenjang S1, tak membuat Robin puas untuk mendalami keilmuannya. Dia ingin sesuatu yang lebih, hingga nasib membawanya melanjutkan jenjang pendidikan di Stanford University.

Di Stanford, kata Robin, dirinya berfokus pada Real Estate Development and Investment yang tergabung di dalam program Sustainable Design and Construction (Desain dan Konstruksi Berkelanjutan).

Setelah lulus dari Stanford University pada 2017, Robin semakin mengenal industri konstruksi dan bangunan. Tidak hanya soal keilmuannya, ia juga semakin mengenal berbagai kendala yang dihadapi dalam industri konstruksi dan bangunan, baik dari segi teknis maupun biaya.

“Banyak hal yang tidak efisien dan optimal dalam sebuah pembangunan konstruksi. Banyak uang yang digelontorkan dan tak efisien, sehingga budgeting selalu bocor, penjadwalan selalu lewat,” kata Robin.

Robin berpikir jika para pengusaha di Indonesia memiliki banyak lahan atau space yang tidak termanfaatkan dengan baik, atau setidaknya tak terpakai dengan maksimal.

“Sementara pemilik lahan harus nge-deal sama lembaga konstruksi yang bingung dalam bekerja. Maka itu gak sedikit orang yang berhimpun di dunia konstruksi dan bangunan itu tidak happy dan puas,” katanya.

Dari keresahan itu lah, kata dia, Amoda lahir, untuk masuk membenahi setiap proses development and construction, dari hulu hingga ke hilir. Amoda berkomitmen untuk mengefisiensikan setiap proses development and construction, salah satunya dengan mengajak orang-orang berpengalaman yang memiliki keresahan yang sama, untuk ikut bergabung.

Amoda, kata Robin, memantapkan diri untuk menciptakan konstruksi dengan kualitas yang tinggi, untuk bisnis dan perorangan. Mereka menjawab semua keresahan yang ada dengan merilis produk secara bertahap, dimulai dari peluncuran ErgaPods, yang berfungsi guna mengefisienkan investasi dan properti.

“Akhir tahun ini kami menargetkan pemasangan 300 unit campuran dari ErgaPods dan ErgaBox,” katanya. 

 

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f
 

BERITA LAINNYA

 
hide ads show ads
desktop mobile