REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dewan kehormatan seniman/budayawan, Akademi Jakarta, menyampaikan seruan kepada Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terkait revitalisasi Planetarium dan Observatorium Jakarta (POJ). Dua dekade belakangan, pengelolaan POJ dinilai luput dari perhatian yang semestinya.
Dukungan bagi sumber daya manusia (SDM), program, dan perangkat teknis POJ di kawasan Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, ditengarai terus menyusut. Banyak indikasi program revitalisasi Taman Ismail Marzuki tidak memperhitungkan Planetarium dan Observatorium Jakarta sebagai penyumbang pemajuan kebudayaan.
"Akademi Jakarta memandang Planetarium dan Observatorium Jakarta amat penting sebagai ciri kota besar yang penduduknya cerdas, berpengetahuan luas, berbudaya tinggi," ungkap Ketua Akademi Jakarta, Seno Gumira Ajidarma.
Menurut dia, POJ semestinya menjadi ruang belajar publik yang dibanggakan. Hal itu mengingat lokasi yang mudah dijangkau dan berdekatan dengan unit-unit pemaju kebudayaan lain seperti museum, galeri, gedung pertunjukan seni, perpustakaan, taman, dan lain sebagainya.
Alih-alih mengalami revitalisasi, terjadi penciutan fasilitas POJ dan ruang berkarya dan berkreasi. Menghadapi situasi itu, Akademi Jakarta telah mengadakan rangkaian diskusi yang intensif dengan perwakilan komunitas ilmiah di Indonesia, khususnya yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan dan pendidikan tentang alam semesta.
Itu juga ditindaklanjuti dengan penyampaikan rekomendasi kepada Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan tertanggal 10 Oktober 2022 dan Penjabat Gubernur DKI Jakarta Heru Budi Hartono tertanggal 19 Oktober 2022. Pada Sabtu (5/11), Akademi Jakarta telah menyelenggarakan diskusi publik bertajuk "Garda Depan Pemajuan Kebudayaan via Ilmu".