Selasa 09 May 2023 03:14 WIB

Kemenkes Temukan 5.100 Kasus Baru Ibu Rumah Tangga Terkena HIV, Tertular dari Siapa?

Sebanyak 35 persen orang dengan HIV di Indonesia adalah ibu rumah tangga.

Red: Reiny Dwinanda
Ibu hamil (Ilustrasi). Tingginya kasus pada ibu rumah tangga juga disebabkan oleh terbatasnya jumlah ibu hamil yang mendapatkan izin suami untuk bisa mengikuti tes HIV.
Foto: Pixabay
Ibu hamil (Ilustrasi). Tingginya kasus pada ibu rumah tangga juga disebabkan oleh terbatasnya jumlah ibu hamil yang mendapatkan izin suami untuk bisa mengikuti tes HIV.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kasus baru ibu rumah tangga terkena human immunodeficiency virus (HIV) terus bertambah. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menemukan ada sekitar 5.100 kasus baru ibu rumah tangga yang terkena HIV setiap tahun.

Dari jumlah tersebut, sebesar 33 persen ibu rumah tangga bisa terkonfirmasi positif HIV karena terpapar dari pasangan yang memiliki perilaku seks berisiko. Sementara itu, secara umum, hal tersebut menyebabkan penularan HIV melalui jalur ibu ke anak sebesar 20-45 persen.

Baca Juga

Jumlah penularan akibat perilaku seks berisiko itu diketahui lebih tinggi dibandingkan seluruh sumber penularan HIV lainnya, seperti melalui penggunaan jarum suntik dan transfusi darah yang tidak aman.

"Penyumbang utama penularan HIV terjadi pada perilaku seks berisiko pada kelompok heteroseksual dan homoseksual, dan sebanyak 30 persen kontribusi penularan dari suami ke istri," kata Juru Bicara Pemerintah Mohammad Syahril dalam konferensi pers Melindungi Anak dari Penularan Penyakit Seksual yang diikuti secara daring di Jakarta, Senin (8/5/2023).

Syahril menyebut, 35 persen dari jumlah orang dengan HIV pada populasi adalah ibu rumah tangga. Sisanya suami pekerja seks dan kelompok MSM (man sex with man, pria yang berhubungan intim dengan sesama pria).

Syahril mengemukakan tingginya kasus pada ibu rumah tangga juga disebabkan hanya 55 persen ibu hamil yang mendapatkan izin suami untuk bisa mengikuti tes HIV. Dari jumlah tersebut 7.153 positif HIV, dan 76 persennya belum mendapatkan pengobatan ARV.

"Ini juga akan menambah risiko penularan kepada bayi," ucapnya.

Syahril menyoroti jumlah tes yang tidak sepadan dengan perilaku berisiko yang tinggi. Akhirnya, itu membuat 45 persen bayi yang lahir dari ibu positif HIV akan terlahir dengan HIV dan sepanjang hidupnya akan menyandang status HIV positif.

"Sampai saat ini, secara kumulatif ada 14.150 anak usia satu hingga 14 tahun yang positif HIV," kata Syahril.

Positif HIV, kualitas hidup anak ke depannya akan terpengaruh. Angka ini setiap tahun bertambah 700-1000 anak dengan HIV.

Jika hal ini dibiarkan, menurut Syahril, infeksi masih akan terus terjadi. Sebab, dari 526.841 orang dengan HIV, baru 429.215 yang sudah terdeteksi atau mengetahui status HIV-nya. Artinya, ada 100 ribu orang dengan HIV belum terdeteksi dan berpotensi menularkan HIV.

"Selain itu, sebanyak 300 ribu pasien positif HIV tidak mendapatkan pengobatan yang juga berpotensi menularkan HIV," ujarnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement