Selasa 05 Dec 2023 20:03 WIB

Tidak Ada Regenerasi Petani di Indonesia, Mengapa Harus Khawatir?

Perlu dilakukan aktivitas yang menumbuhkan minat generasi muda untuk bertani.

Rep: Wilda Fizriyani / Red: Friska Yolandha
Petani anggur, Sigit melakukan perawatan bibit anggur jenis Tamaki di rumah budidaya bibit anggur, Jipangan, Sragen, Jawa Tengah, Rabu (13/9/2023).
Foto:

Untuk diketahui, para petani muda tersebut telah mendapatkan banyak pelatihan sesuai minat. Beberapa di antaranya seperti manajemen bisnis, penyusunan proposal, pelatihan budidaya tanaman pangan dan hortikultura, pengolahan pascapanen, pengolahan kopi, peternakan dan lain-lain. Saat ini pihaknya akan terus berusaha mengawal mereka agar terdapat multilayer efek di daerahnya masing-masing.

Di samping itu, Avicenna juga mengungkapkan, sebagian besar peserta yang mengikuti pelatihan petani milenial lebih banyak memilih bidang industri pengolahan pascapanen dan hortikultura kopi. "Tetapi kendalanya memang untuk tanaman pangan khususnya padi, itu keminatan sangat kecil. Kalau tidak salah, tidak sampai 200 orang dari 6.000 orang," jelasnya.

Avicenna tidak mengetahui pasti alasan anak muda tidak berminat mengolah pertanian padi. Namun dia memperkirakan adanya pola pikir bahwa bertani padi berarti menjadi petani sebenarnya. Ditambah lagi, sentuhan teknologi belum masuk di bidang tersebut.

Sebagaimana diketahui, aktivitas petani padi lebih banyak di lahan terbuka seperti membajak sawah dan teknologinya masih tradisional. Kondisi ini tentu menjadi pekerjaan bersama bagaimana caranya regenerasi di bidang pertanian dapat berjalan dengan baik.