REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Program Biomedical & Genome Science Initiative atau BGSi. BGSi adalah upaya pemerintah untuk mengetahui profil genom atau informasi genetik dari setiap orang.
Program yang tengah dilakukan Kementerian Kesehatan ini pun menuai pro dan kontra. Guru Besar Mikrobiologi Klinik dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Prof dr Amin Soebandrio W Kusumo, PhD, SpMK (K) membeberkan sejumlah manfaat informasi genetik dalam terapi dan pengobatan kanker.
Dia menyebutkan dengan adanya informasi genetik, para dokter bisa mengidentifikasi adanya gen-gen tertentu, atau terjadinya mutasi gen, yang dapat meningkatkan risiko serangan kanker.
Menurut Prof Amin, dengan adanya informasi genetik tersebut, para dokter dapat memberikan terapi dan pengobatan kanker yang lebih presisi.
Pendekatan ini tentu, kata dia, bisa meningkatkan efektivitas obat dan mengurangi dampak sampingnya.
“Hasilnya tentu akan lebih baik bagi masyarakat. Bahkan, informasi genetik ini akan merevolusi terapi dan pengobatan kanker,” ujar dia dalam Seminar Bertajuk Menuju Precision Medicine Melalui Pemetaan Genom: Pro dan Kontra di Masyarakat oleh President University di President Lounge, Menara Batavia, Jakarta, Senin ( 12/2/2024).
Dia menegaskan terapi dan pengobatan ini menjadi sangat penting karena, menurut WHO, kanker masih menempati urutan pertama pembunuh manusia di dunia.
Masih menurut WHO, tiga kanker yang paling mematikan adalah kanker paru-paru (1,8 juta kematian atau 18,7 persen dari total kematian akibat kanker), kanker kolokteral (900.000 atau 9,3 persen), dan kanker hati (760.000 atau 7,8 persen).
Prof Amin menilai, dengan adanya informasi genetik, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mendapatkan terapi dan pengobatan yang lebih presisi.
Di antaranya, penilaian risiko yang bersifat personal, upaya deteksi dan pencegahan dini, rencana pengobatan yang disesuaikan berdasarkan susunan genetik individu, mengurangi efek samping pengobatan, meningkatkan khasiat pengobatan, tindak lanjut perawatan yang disesuaikan dengan kebutuhan, yang semuanya berdampak pada peningkatan hasil pengobatan dan kualitas hidup pasien.
Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Genomik Indonesia Dr dr Ivan Rizal Gini, FRANZCOG, GDRM, MMIS, SpOG memaparkan potensi industri genomik yang saat ini masih tumbuh dengan lambat.
Dia menyebut selama 2022 hingga 2023, mengutip data National Human Genom Research Institute (NHGRI), pasar genomik naik dari 44,6 miliar dolar AS menjadi 46 miliar dolar AS atau hanya tumbuh 3,6 persen.
“Meski begitu pada 2028 pasar genomik diperkirakan akan melesat menjadi 83,1 miliar dolar AS, atau tumbuh rata-rata 12,4 persen per tahun,” kata dia dalam keterangannya, Selasa (13/2/2024).
Tak hanya terkait industri, Prof Ivan juga memaparkan beberapa isu tentang pentingnya informasi genetik. Misalnya, soal pentingnya Polygenic Risk Scoring (PRS).
Dia menjelaskan, PRS adalah cara agar masyarakat dapat mengetahui risiko terkena suatu penyakit tertentu, atau beberapa penyakit sekaligus, berdasarkan akumulasi perubahan yang terkait dengan penyakit tersebut.
Perubahan tersebut, kata dia, bukan hanya perubahan pada salah satu atau beberapa gen mereka, melainkan juga perubahan yang dipengaruhi oleh faktor eksternal.
Di samping itu, Prof juga menyoroti pentingnya uji genetik untuk menanggulangi penyakit-penyakit pranatal dan kesehatan reproduksi, termasuk peluangnya untuk membuat usia menjadi semakin panjang.
Pendiri President University Dr SD Darmono mengingatkan bahwa riset genom dengan teknologi tinggi membutuhkan biaya mahal , meskipun bisa diterapkan.
Hemat dia Indonesia masih banyak penduduk yang sebenarnya masih belum mampu untuk membayar biaya tinggi dalam pengobatan kemotraphy, dan lain lain.
"Riset kita di genom sangat penting maka perlu disiapkan untuk pasar orang-orang yang mampu. Namun risetnya disiapkan pula bagi kalangan warga masyarakat tidak mampu untuk memperbaiki imunitas mereka
Hadir dalam kegiatan yang berlangsung hybrid itu para pembicara Dekan Fakultas Kedokteran, President University (Presuniv), Prof Dr dr Budi Setiabudiawan, SpA(K), M Kes., yang juga moderator seminar. Prof Budi menyoroti pemetaan genom dari sudut pandang etika.
Baca juga: 10 Cara Keluar dari Kesulitan Masalah Hidup Menurut Alquran dan Hadits
Dua pembicara lainnya Prof dr Amin Soebandrio W Kusumo, PhD, SpMK (K), Guru Besar Mikrobiologi Klinik dari Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia, dan Dr dr Ivan Rizal Sini, FRANZCOG, GDRM, MMIS, SpOG yang juga Ketua Umum Asosiasi Genomik Indonesia.
Seminar ini dihadiri Dr SD Darmono, Chairman Jababeka yang juga pendiri President University, dan Pimpinan Yayasan Pendidikan President University Prof Dr Budi Susilo Soepandji.