Bagaimana Jika Muslim Makan Siang di Restoran Pro Israel Saat Ramadhan?

Rep: Fuji E Permana/ Red: Muhammad Hafil

Selasa 19 Mar 2024 13:18 WIB

 Bagaimana Jika Muslim Makan Siang di Restoran Pro Israel Saat Ramadhan? Foto:  Batal puasa / Hal yang membatalkan puasa (ilustrasi) Foto: Dok Republika Bagaimana Jika Muslim Makan Siang di Restoran Pro Israel Saat Ramadhan? Foto: Batal puasa / Hal yang membatalkan puasa (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Ustadz Ahmad Zuhdi memberikan pandangannya jika ada Muslim yang meninggalkan puasa Ramadhan padahal tidak ada halangan yang membolehkannya meninggalkan puasa. Kemudian Muslim tersebut makan siang atau belanja produk yang terafiliasi mendukung Israel atau pro Israel saat puasa Ramadhan.

Ustaz Zuhdi mengatakan, jika memperhatikan awal Surat Al-Baqarah Ayat 183, Allah SWT menggunakan redaksi wahai orang-orang yang beriman (ya ayyuhal ladzina amanu), bukan wahai sekalian manusia (ya ayyuhan nasu). Ini artinya puasa merupakan undangan eksklusif untuk orang beriman, bukan untuk orang yang menyatakan dirinya sebagai Muslim.

Baca Juga

"Oleh karena itu, ada perbedaan kualitas iman dengan Islam, ada perbedaan kualitas Muslim dengan Mukmin," kata Ustaz Zuhdi kepada Republika, Selasa (19/3/2024).

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

۞ قَالَتِ الْاَعْرَابُ اٰمَنَّا ۗ قُلْ لَّمْ تُؤْمِنُوْا وَلٰكِنْ قُوْلُوْٓا اَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الْاِيْمَانُ فِيْ قُلُوْبِكُمْ ۗوَاِنْ تُطِيْعُوا اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ لَا يَلِتْكُمْ مِّنْ اَعْمَالِكُمْ شَيْـًٔا ۗاِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

Qālatil-a‘rābu āmannā, qul lam tu'minū wa lākin qūlū aslamnā wa lammā yadkhulil-īmānu fī qulūbikum, wa in tuṭī‘ullāha wa rasūlahū lā yalitkum min a‘mālikum syai'ā(n), innallāha gafūrur raḥīm(un).

Orang-orang Arab Badui berkata, “Kami telah beriman.” Katakanlah (kepada mereka), “Kamu belum beriman, tetapi katakanlah, ‘Kami baru berislam’ karena iman (yang sebenarnya) belum masuk ke dalam hatimu. Jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikit pun (pahala) amal perbuatanmu.” Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS Al-Hujurat Ayat 14)

Sekretaris Pimpinan Wilayah (PW) Pemuda Persatuan Islam (Persis) DKI Jakarta ini mengatakan, begitu juga anak yang belum dewasa dan melaksanakan perintah agama, seperti sholat dan shaum (puasa). Mereka secara lahiriyahnya Muslim, tetapi belum layak disebut Mukmin, karena hatinya belum tentu yakin dan tulus dalam mengerjakan perintah tersebut. Muslim belum tentu Mukmin, tetapi Mukmin sudah tentu Muslim.

"Maka kalau kita perhatikan orang yang tidak berpuasa tanpa ada uzur, berarti keimanannya dipertanyakan. Karena wujud dari iman salah satunya dimanifestasikan dalam bentuk amal perbuatan. Secara lahiriyah dia Muslim, tetapi bisa jadi iman belum sampai ke dalam hatinya," ujar Ustaz Zuhdi.

Ustaz Zuhdi mengatakan, tentu jika tidak berpuasa tanpa ada uzur syar'i, dia berdosa. Sebab puasa Ramadhan hukumnya wajib dan meninggalkan kewajiban adalah dosa. Sesuatu yang wajib jika dikerjakan mendapat pahala, jika ditinggalkan mendapat dosa.

"Apalagi sudah tidak berpuasa, kemudian makan siang di restoran yang jelas-jelas pernah terdeteksi mendukung Israel, tentu saja standar moralnya sangat rendah," kata Ketua Bidang Kerukunan Umat Beragama (KUB) Lembaga Dakwah Khusus (LDK) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Bekasi ini.

Ustaz Zuhdi menerangkan, moralitas atau akhlak akan berjalan seiringan sesuai dengan kadar keimanan seseorang, dengan kata lain akhlak atau moral adalah buah dari keimanan kepada Allah SWT.

Ia menjelaskan, dari beberapa hikmah puasa, ada dua hal yang dapat kita ambil sebagai pendidikan jiwa, yaitu tahdzib an-nafs (melatih mengendalikan hawa nafsu) dan talyin al-masyair (memperhalus perasaan).

Nafsu tentu berguna untuk meningkatkan etos kerja, tetapi nafsu akan berbahaya jika tidak bisa dikendalikan. Puasa akan melatih seseorang untuk menahan nafsu makan, minum, dan syahwat. Jika nafsu ini berhasil dikendalikan, maka manusia akan selamat.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

قَدْ اَفْلَحَ مَنْ زَكّٰىهَاۖ

وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسّٰىهَاۗ

sungguh beruntung orang yang mensucikannya (jiwa itu) dan sungguh rugi orang yang mengotorinya. (QS Asy-Syams Ayat 9-10)

Puasa Melatih Kepedulian Kepada Palestina

Ustaz Zuhdi menjelaskan, dengan puasa manusia dituntut untuk memiliki perasaan yang halus, penuh perhatian, dan kasih sayang kepada yang lain, lebih khusus kepada saudara-saudara di Palestina.

"Kalau kita hanya menahan lapar dan dahaga selama 12 jam, maka rakyat Palestina menahan lapar dan dahaga sampai waktu yang tidak bisa dipastikan," kata Ustaz Zuhdi.

Ustaz Zuhdi mengatakan, bahkan banyak dari mereka yang mati kelaparan dan ratusan syahid ketika sedang mengantri bantuan. Kekejaman Israel membunuh dengan cara membuat mati kelaparan jelas sangat menyakitkan dibanding dengan peluru atau roket yang langsung membuat seseorang meninggal. Singkatnya dengan puasa akan melatih rasa, karsa, dan asa sebagai seorang Mukmin.

"Tetapi jika nalar dan naluri seseorang belum tersentuh melihat pembantaian di Palestina itu sama saja seperti patung. Jasadnya seorang manusia, tetapi hakikatnya dia tidak mempunyai ruh. Tidak ada ruh keimanan, ruh kemanusiaan, dan ruh kedermawanan," kata Ustaz Zuhdi.

Ustaz Zuhdi mengaskan, ketika sudah menjadi patung, maka dia akan mudah terombang-ambing yang akhirnya dapat menjerumuskan kepada kebinasaan atau biasa dikenal dengan istidraj. Allah berikan dia banyak harta, kedudukan, kehormatan, tetapi hanya kesenangan semu yang akan berujung pada kehancuran dan penyesalan.

"Semoga kita dijauhkan dari hal-hal tersebut," ujar Ustaz Zuhdi.

 

Terpopuler