Selasa 19 Mar 2024 22:09 WIB

Nilai Investasi 16 Smelter Mineral di 2024 Capai 11,6 Miliar Dolar AS

Tujuh smelter nikel memiliki nilai investasi sebesar 2,67 miliar dolar AS.

Red: Lida Puspaningtyas
Foto udara kawasan tambang ore nikel di Desa Lalampu, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, Ahad (7/1/2024). Hasil tambang di desa tersebut selanjutnya diolah pada sejumlah smelter pada kawasan industri nikel yang ada di Morowali.
Foto: ANTARA FOTO/Mohamad Hamzah
Foto udara kawasan tambang ore nikel di Desa Lalampu, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, Ahad (7/1/2024). Hasil tambang di desa tersebut selanjutnya diolah pada sejumlah smelter pada kawasan industri nikel yang ada di Morowali.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyampaikan target pembangunan 16 fasilitas pemurnian mineral terintegrasi atau smelter tahun 2024 memiliki nilai investasi sebesar 11,6 miliar dolar AS.

 

Baca Juga

Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM Bambang Suswantono dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi VII DPR RI di Jakarta, Selasa menyampaikan pembangunan smelter di industri mineral ini terbagi menjadi empat kategori sektor, yakni nikel, bauksit, besi, serta tembaga.

 

Adapun 16 smelter tersebut terdiri dari tujuh smelter di sektor nikel, tujuh smelter untuk bauksit, satu smelter sektor besi, dan satu smelter untuk industri tembaga.

 

Dirinya mengatakan tujuh smelter nikel memiliki nilai investasi sebesar 2,67 miliar dolar AS, dan lima di antaranya sudah beroperasi sejak 2023.

 

Sedangkan fasilitas pengolahan mineral terintegrasi di industri bauksit memiliki nilai investasi sebanyak 5,85 miliar dolar AS, realisasi investasi smelter besi sebesar 51,5 juta dolar AS, serta yang terbesar yakni nilai investasi di satu smelter sektor tembaga yang mencapai 3,08 miliar dolar AS.

 

"Smelter tembaga ditargetkan sebanyak satu unit, progres pembangunan 90 persen dengan total nilai investasi 3.084 juta dolar AS," ujarnya.

 

Selain itu dirinya mengatakan agar kebijakan hilirisasi di industri mineral lebih optimal dan efisien, pihaknya menerapkan strategi integrasi rantai pasok (supply chain) antara tambang dan smelter, melakukan pengintegrasian pelaku industri pengguna bahan olahan mineral yang masuk dalam kebijakan hilirisasi, serta menerapkan pengembangan industri lanjutan yang aplikatif.

 

Hilirisasi yang sedang dijalankan oleh pemerintah di sektor mineral berdasarkan komoditasnya antara lain yakni besi, emas-perak, tembaga, timah, bauksit, dan nikel.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement