REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto resmi meluncurkan bank emas atau bullion bank di Gade Tower Jakarta, Rabu (26/2/2025) hari ini. Hadirnya Bank Emas diharapkan menjadi sumber pertumbuhan baru bagi likuiditas perbankan dan mendukung percepatan pembangunan ekonomi nasional.
Direktur Utama Bank Rakyat Indonesia (BRI) Sunarso menjelaskan bahwa bullion bank dibentuk untuk mengoptimalkan cadangan emas masyarakat yang selama ini disimpan secara pribadi. Dengan masuk ke dalam sistem perbankan, emas tersebut bisa dimonetisasi dan menjadi bagian dari likuiditas pembangunan.
"Dulu, tahun 1988, ada kebijakan yang dikenal dengan Paket Oktober 88. Tujuannya adalah mempermudah pendirian bank supaya uang yang ada di bawah bantal bisa masuk ke sistem perbankan dan digunakan untuk pembangunan. Maka kali ini, kamu melihat potensi emas, baik yang ada di alam maupun yang sudah diproduksi dan disimpan oleh masyarakat, agar bisa dimonetisasi menjadi likuiditas pembangunan," jelas Sunarso dalam Konferensi Pers Peresmian Bank Emas Pegadaian dan BSI di Jakarta, Rabu (26/2/2025).
Sunarso menegaskan, bullion bank akan menjadi sumber pertumbuhan ekonomi yang besar. Pasalnya, setiap hari, masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) datang dan pergi mengajukan pembiayaan di Pegadaian dengan menjaminkan emas mereka. Untuk diketahui, BRI merupakan induk holding ultramikro yang beranggotakan Pegadaian dan PNM.
"Sekarang hari-hari Pegadaian itu menerima jaminan emas dari masyarakat. Terutama masyarakat yang membawa emas untuk mendukung usahanya dengan mengambil kredit rata-rata Rp 4 juta. Bayangkan, setiap hari Pegadaian memegang jaminan 90 ton emas dari masyarakat. Ini adalah sumber pertumbuhan baru yang signifikan bagi perbankan," ujarnya.
Menurut Sunarso, kajian yang dilakukan menunjukkan bahwa Indonesia memiliki cadangan emas terbesar ke-6 di dunia, dengan total sekitar 2.600 ton. Produksi emas tahunan Indonesia mencapai 110 ton, menjadikannya produsen terbesar ke-8 di dunia.
Namun, Indonesia masih mengekspor emas senilai 5,4 miliar dolar AS dan mengimpor emas senilai 2,6 miliar dolar AS. Dengan adanya bullion bank, emas yang diproduksi di dalam negeri dapat memiliki nilai tambah sebelum diekspor, sehingga dapat meningkatkan ekonomi nasional.
"Salah satu tujuan utama dari bullion bank adalah meningkatkan nilai tambah emas. Jadi bukan hanya mengekspor emas dalam bentuk bahan mentah, tapi kita juga ingin memastikan emas tersebut diproses lebih lanjut menjadi produk turunan, seperti perhiasan dan investasi emas, sehingga tidak perlu banyak impor," jelasnya.
Lebih lanjut, Sunarso menyebutkan bahwa bullion bank diperkirakan akan menciptakan 1,8 juta lapangan kerja baru dan berkontribusi sekitar Rp 245 triliun terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Utama Pegadaian, Damar Latri Setiawan, menjelaskan bagaimana mekanisme kerja bullion bank dalam menghimpun dan menyalurkan emas. "Kami menghimpun emas dari masyarakat sebagai simpanan. Simpanan ini bisa didepositokan dalam jangka waktu 3 bulan, 6 bulan, atau 12 bulan. Setelah emas terhimpun, emas ini bisa digunakan oleh pihak lain yang membutuhkan, seperti produsen perhiasan dan industri emas," terang Damar.
Selain itu, Pegadaian juga memiliki vault berstandar internasional untuk menyimpan emas. Hingga 2024, tabungan emas Pegadaian telah mencapai 11 ton. Dalam dua minggu setelah program deposito emas diluncurkan, sudah terkumpul 300 kilogram emas, setara hampir Rp 500 miliar.
Direktur Utama Bank Syariah Indonesia (BSI) Hery Gunardi menambahkan, layanan emas di bank syariah sebenarnya sudah ada sejak lama, seperti gadai emas dan cicil emas. Namun, inisiatif bullion bank membawa perubahan besar dalam layanan investasi emas.
"Dengan adanya bullion bank, layanan ini berkembang lebih luas. Nasabah kini bisa menitipkan emas di bank (custody), melakukan trading, hingga menjadikan emas sebagai jaminan pembiayaan. Ini adalah langkah revolusioner," ungkap Hery.
BSI juga memperkenalkan berbagai inovasi, seperti BSI Emas Digital, BSI Gold dan BSI ATM Emas. ATM emas ini memungkinkan nasabah membeli emas fisik mulai dari pecahan 5 gram hingga 25 gram di lokasi strategis yang tersebar di Indonesia.
"Kami memiliki sekitar 1.300 cabang yang melayani emas, 21 juta nasabah, dan puluhan ribu agen. Target kami dalam lima tahun ke depan adalah meningkatkan kepemilikan emas yang dikelola BSI dari 17,5 ton menjadi 5-6 kali lipat," tambahnya.
Lebih lanjut Sunarso menegaskan bahwa kehadiran bullion bank sangat penting bagi BRI, mengingat Pegadaian adalah bagian dari holding ultramikro yang 99 persen sahamnya dimiliki oleh BRI, sementara BRI juga masih memiliki 15 persen saham di BSI. "Karena itu, pembentukan bullion bank ini bagi BRI sangat penting. Ini akan menjadi sumber pertumbuhan baru yang signifikan. Setiap hari masyarakat kecil butuh uang, butuh likuiditas, datang ke Pegadaian. Dan sekarang, dengan adanya bullion bank, potensi ini bisa dikelola dengan lebih baik," ungkapnya.
Menurutnya, inisiatif ini tidak hanya berdampak pada pertumbuhan perbankan, tetapi juga pada ekonomi nasional secara keseluruhan. "Sekarang sudah ada bank emas. Kalau Anda punya emas, silakan mau ditransaksikan, mau disimpan di bullion bank, silakan. Tentang keamanannya, dijamin aman lahir dan batin," pungkasnya.