Kamis 27 Feb 2025 10:43 WIB

Daya Beli Melemah, Ekonom Sebut Ada Perubahan Tren Konsumsi Jelang Ramadhan 2025

Perayaan Ramadhan dan Lebaran masih akan tetap meriah, tapi ada penyesuaian.

Sejumlah pemudik kereta api berjalan keluar setibanya di Stasiun Pasar Senen, Jakarta, (ilustrasi). Ekonom sebut akan ada perubahan pola konsumsi pada momen Ramadhan dan Idul Fitri 2025.
Foto: Republika/Prayogi
Sejumlah pemudik kereta api berjalan keluar setibanya di Stasiun Pasar Senen, Jakarta, (ilustrasi). Ekonom sebut akan ada perubahan pola konsumsi pada momen Ramadhan dan Idul Fitri 2025.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Esther Sri Astuti mengatakan, akan ada perubahan tren konsumsi masyarakat menjelang Ramadhan dan Idul Fitri tahun 2025.

Esther, pada Kamis (27/2/2025), mengatakan perayaan Ramadhan dan Lebaran masih akan tetap meriah, tapi ada penyesuaian. “Nanti ketika Lebaran pun tetap akan ramai, tapi masyarakat akan menyesuaikan dengan kantong. Mereka akan tetap mudik, dan lain sebagainya, tapi ada cara sendiri untuk berlebaran dan menyambut bulan Ramadhan,” katanya.

Baca Juga

Hal ini juga merupakan pengaruh dari turunnya daya beli masyarakat menyusul sejumlah gejolak politik dan ekonomi yang terjadi baru-baru ini di Indonesia. Selain itu, dia menilai turunnya jumlah kelas menengah juga menjadi faktor turunnya daya beli.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah kelas menengah di Indonesia menurun dari 57,33 juta jiwa pada tahun 2019 menjadi 47,85 juta jiwa pada tahun 2024. Penurunan ini setara dengan 9,48 juta orang yang turun kelas, sehingga dapat berdampak pada pelemahan perekonomian Indonesia.

“Daya beli itu memang melemah, karena dibuktikan dengan turunnya jumlah kelas menengah, di angka 9-10 juta,” ujar Esther.

“Di sisi lain, kita lihat kenaikan harga itu lebih cepat daripada kenaikan upah, membuat pendapatan riil kita turun. Artinya nilai uang kita turun. Kemudian kita lihat bahwa sekarang ini ada efisiensi anggaran, dan lainnya, tapi yang kena juga kelas menengah,” ujarnya menambahkan.

 
photo
Pedagang menjual hidangan masakan padang untuk berbuka puasa di Pasar Takjil Bendungan Hilir, Jakarta. Ekonom menyebut melemahnya daya beli menyebabkan adanya pola perubahan konsumsi jelang Ramadhan 2025. - (Republika/Putra M. Akbar)

Di sisi lain, Ketua Asosiasi Kader Sosio-Ekonomi Strategis (AKSES) Suroto menilai naik-turunnya daya beli masyarakat sangat tergantung pada sumber kebijakan pemerintah seperti kenaikan upah buruh. “Kenaikan upah buruh itu langsung berpengaruh ke daya beli masyarakat. Namun, pemerintah kita saya rasa terlalu konservatif dalam menaikkan kebijakan upah buruh,” katanya.

“Itu kenapa secara relatif sebetulnya dalam sepuluh tahun ini ekonomi masyarakat kelas ekonomi bawah merasakan penderitaan yang semakin berat,” ujarnya menambahkan.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Republika Online (@republikaonline)

sumber : Antara
Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement