Pengunjung pantai Eilat di Teluk Aqaba utara, Laut Merah, selama Maret dan April dalam beberapa tahun terakhir telah menyaksikan pemandangan yang tidak biasa—bentangan garis pantai berubah menjadi pink (merah muda).
Setelah diamati lebih dekat, jutaan makhluk merah muda kecil dengan mata besar ditemukan menutupi pasir.
Sebuah studi baru yang dipimpin oleh Prof. Tamar Guy-Haim dari Israel Oceanographic and Limnological Research (IOLR) dan Universitas Ben-Gurion, bekerja sama dengan Dr. Bracha Farstey dari Interuniversity Institute for Marine Sciences di Eilat, telah mengungkapkan bahwa makhluk-makhluk ini adalah sejenis krustasea planktonik yang disebut amphipoda.
Penelitian mereka, yang dipublikasikan dalam Ecology and Evolution, menjelaskan peristiwa misterius ini.
Warna pink atau merah muda pada beberapa amphipoda berasal dari pigmen karotenoid, yang mereka peroleh melalui makanan mereka.
Para peneliti menggunakan kombinasi identifikasi fisik dan pengujian genetik untuk mengklasifikasikan amphipoda dan mempelajari kondisi lingkungan untuk memahami mengapa mereka muncul dalam jumlah yang begitu besar setiap tahun selama bulan-bulan ini.
Mengapa makhluk ini berwarna merah muda? Prof. Guy-Haim dan timnya mempertimbangkan beberapa kemungkinan.
Beberapa spesies amphipoda memiliki strategi reproduksi unik yang disebut semelparitas, yaitu mereka bereproduksi hanya sekali sebelum mati.
Namun, para peneliti menemukan jumlah jantan dan betina yang sama, serta amphipoda dengan berbagai ukuran, sehingga mengesampingkan semelparitas sebagai penyebabnya.
Mereka juga menyelidiki perubahan iklim, khususnya gelombang panas laut, yang telah menyebabkan kematian massal kehidupan laut di masa lalu.
Misalnya, pada tahun 2017, kenaikan suhu laut yang tiba-tiba lebih dari 4°C membunuh banyak ikan terumbu karang di Eilat.
Namun, catatan suhu tidak menunjukkan adanya peristiwa panas yang tidak biasa sebelum atau selama terdamparnya amphipoda.
Penjelasan potensial lainnya adalah penyakit atau infeksi parasit, karena stres lingkungan dapat membuat hewan laut lebih rentan.
Namun, para peneliti juga tidak menemukan bukti infeksi pada amphipod.
Peristiwa alam yang bersifat siklus?
Saat menelusuri catatan ilmiah lama, tim menemukan laporan dari tahun 1977 yang menjelaskan peristiwa kematian massal amphipod serupa pada bulan Maret di Teluk Aqaba.
Hal ini menunjukkan bahwa fenomena tersebut mungkin merupakan bagian dari siklus musiman alami, bukan kejadian yang tidak biasa.
Penjelasan yang paling mungkin melibatkan arus laut. Di Teluk Aqaba, arus melingkar yang kuat yang disebut pusaran siklon terbentuk antara bulan November dan April.
Arus ini dapat membawa air dalam yang kaya nutrisi ke permukaan atau mendorong air permukaan ke bawah.
Para peneliti berhipotesis bahwa amphipod terperangkap dalam salah satu pusaran ini dan terbawa ke pantai, mirip dengan peristiwa yang tercatat di Hawaii yang melibatkan spesies amphipod yang sama.
Amphipod merupakan bagian penting dari rantai makanan laut, yang berfungsi sebagai makanan bagi ikan, burung laut, dan bahkan paus.
Memahami pergerakan dan siklus populasi mereka dapat membantu para ilmuwan mempelajari lebih lanjut tentang ekosistem laut yang kompleks.
Penemuan ini memberikan wawasan penting tentang bagaimana arus laut membentuk kehidupan laut dan menyoroti perlunya penelitian lebih lanjut tentang peristiwa alam serupa di seluruh dunia.