Kamis 27 Feb 2025 17:02 WIB

Tiga Cara yang Bisa Dilakukan Orang Tua Ketika Anak Belajar Puasa

Orang tua dinilai memiliki peranan kunci membimbing anak menjalankan ibadah puasa.

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Qommarria Rostanti
Anak berbuka puasa (ilustrasi). Orang tua harus menerapkan pendekatan yang tepat agar anak dapat belajar puasa tanpa merasa terpaksa.
Foto: Foto : MgRol_92
Anak berbuka puasa (ilustrasi). Orang tua harus menerapkan pendekatan yang tepat agar anak dapat belajar puasa tanpa merasa terpaksa.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Mengajarkan anak-anak untuk menunaikan ibadah puasa pada bulan Ramadhan sering kali menjadi tantangan tersendiri bagi orang tua. Namun bagaimanapun, orang tua memiliki peranan kunci dalam membimbing anak menjalankan ibadah puasa.

Ustadz Muhammad Nur Maulana mengatakan orang tua harus menerapkan pendekatan yang tepat agar anak dapat belajar puasa tanpa merasa terpaksa. Berikut tiga cara yang bisa diterapkan selama mengajarkan anak puasa pada bulan Ramadhan menurut Ustadz Maulana:

Baca Juga

1. Berikan keteladanan

Ustadz Maulana menjelaskan anak-anak cenderung meniru perilaku orang tua dan lingkungan sekitarnya. Oleh karena itu, orang tua harus memberikan keteladanan kepada anak-anaknya tentang bagaimana menjalankan ibadah puasa.

“Yang pertama beri keteladanan kepada anak. Ingat bahwa anak itu peniru, jadi kalau orang tuanya bisa memberi teladan yang baik dalam berpuasa, anaknya juga akan mengikuti,” kata Ustadz Maulana saat diwawancara seusai kajian di Haraku Ramen, Jakarta, Rabu (26/2/2025).

2. Ajarkan anak puasa secara bertahap

Ustadz Maulana menekankan pentingnya pembiasaan puasa sedari kecil. Orang tua dapat memulai mengajarkan anak dengan puasa setengah hari atau beberapa jam sesuai kemampuan sang buah hati. Seiring bertambahnya usia, anak pada akhirnya akan lebih siap dan terbiasa untuk berpuasa penuh.

“Lalu membiasakan anak untuk berpuasa. Jadi mulai dari sebisanya anak dulu, terus lanjutkan bertahap sampai anak merasa mampu berpuasa penuh,” kata dia.

3. Jangan membandingkan anak

Ustadz Maulana juga meminta orang tua untuk tidak pernah membanding-bandingkan anak dengan teman atau saudaranya, karena hal itu berpotensi membuat anak menjadi tertekan. Ia mengatakan setiap anak memiliki kemampuan dan kesadaran yang berbeda dalam menunaikan ibadah puasa.

“Jangan bandingkan anak dengan yang lain. Kita harus paham setiap anak itu berbeda-beda, kalau kita banding-bandingkan, psikologisnya gimana nanti. Anak juga mungkin akan terpaksa puasanya,” kata Ustadz Maulana.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement