Jumat 28 Feb 2025 13:54 WIB

Diet Ekstrem Picu Stress Eating dan Gangguan Psikologis Serius

Menjalani diet ketat berisko mengalami eating disorder.

Rep: Antara/ Red: Qommarria Rostanti
 Diet (ilustrasi). Menjalani diet tidak nyaman bisa menyebabkan risiko stress eating hingga gangguan psikologi.
Foto: Republika
Diet (ilustrasi). Menjalani diet tidak nyaman bisa menyebabkan risiko stress eating hingga gangguan psikologi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Diet sering kali dipandang sebagai solusi cepat untuk menurunkan berat badan atau memperbaiki penampilan. Namun, tahukah Anda bahwa menjalani diet yang tidak nyaman dapat memicu berbagai masalah kesehatan, baik fisik maupun mental?

Dokter spesialis gizi klinik lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dr Mulianah Daya, M.Gizi, Sp.GK menyampaikan menjalani diet tidak nyaman bisa menyebabkan risiko stress eating hingga gangguan psikologi.

Baca Juga

Stress eating merupakan kecenderungan seseorang untuk mengalihkan rasa yang menyebabkan stres dengan makan berlebih. Menurut Mulianah, stress eating sering terjadi ketika seseorang merasa dietnya terlalu membatasi dan tidak menyenangkan. Diet tidak nyaman juga salah satunya karena mengikuti teman, meskipun diri sendiri tidak menikmati jenis diet tersebut.

"Stress eating itu salah satunya dietnya tidak nyaman. Misalnya mungkin terlalu limitation (pembatasan) diet yang berlebihan, terlalu takut seperti itu, saya pokoknya tidak boleh makan tepung, mangga, sama sekali selama diet," kata dia.

"Kalau orang terlalu restriktif diet, dietnya gak nyaman, gap hunger (kelaparan) atau gap trapping-nya jadi tinggi, sehingga hormon stresnya jadi tinggi juga. Hormon stres relatifnya ke hormon lapar," ujarnya.

Dokter yang berpraktik di Rumah Sakit Mayapada Tangerang ini mengatakan saat seseorang mengalami stres dan dilampiaskan dengan mengonsumsi makanan berlebih tidak boleh dinormalisasi. "Sering nih saya temukan pasien seperti ini, 'yah dok lagi stres jadi saya makan banyak deh, tidak apa-apa ya dok'. Jangan dinormalisasi karena itu bukan sesuatu yang baik untuk kesehatan," ujarnya.

Menurut dia, menjalani diet secara ketat atau tidak nyaman juga berisko mengalami eating disorder (gangguan makan) yang bisa memengaruhi psikologis. "Jadi ketakutan melihat makanan, saking terlalu ketatnya dietnya. Takut banget melihat nasi, setiap kali makan nasi langsung ke kamar mandi dimuntahin. Karena eating disorder ini masalahnya sudah gangguan psikologi, yang harus mendapatkan pendampingan dari psikologi," ujarnya.

Dia mengatakan imbalance nutrition atau ketidakseimbangan nutrisi juga bisa dipicu karena menjalani diet yang tidak nyaman. "Nah, diet yang tidak nyaman diet yang terlalu restriktif ujung-ujungnya juga terjadi yang namanya imbalance nutrition, antara nutrisinya jadi terlalu kurang atau nutrisinya jadi kelebihan. Apalagi karena stress eating ujung-ujungnya beratnya gak turun-turun juga," kata dia.

 

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement