REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Head of Equity Sales PT Jasa Utama Capital Sekuritas Adrian Maynard Taslim merekomendasikan “sangat beli” atau “most buy” terhadap saham PT Bank Syariah Indonesia Tbk untuk jangka panjang. Hal ini mengingat bisnis bank emas atau bullion bank yang baru diresmikan cukup menjanjikan. Bisnis bullion bank yang merupakan layanan terbaru dari BSI dinilai menjanjikan di tengah tren kenaikan harga emas dunia.
“Hal itu tidak hanya berdampak positif pada pertumbuhan bisnis BSI ke depan, namun juga pada kinerja saham perseroan di Bursa Efek Indonesia (BEI),” kata Adrian dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (28/2/2025).
Pada perdagangan Kamis (27/2/2025), saham BRIS ditutup terkoreksi 8,36 persen ke harga Rp 2.630 per lembar. Meski demikian, tekanan jual terhadap BRIS dinilai sebagai profit taking instan, mengingat layanan bank emas perseroan yang baru diresmikan justru menjadi sentimen positif.
"Bullion bank sentimen positif bagi BRIS, tapi tekanan jual cukup tinggi hari ini, karena investor masih butuh waktu, apalagi hari ini emas turun harga, jadi ini profit taking instan buat BRIS," kata Adrian.
Tekanan jual pada BRIS juga tidak terlepas dari faktor global, seiring penurunan harga emas dunia, yang juga berimbas pada penurunan harga emas atau logam mulia di dalam negeri. Pada perdagangan kemarin, harga emas Antam turun sebesar Rp 2.000 menjadi Rp 1.692.000 per gram dibandingkan posisi sebelumnya Rp 1.694.000 per gram.
Hal itu, dipicu penurunan harga emas dunia yang berada di kisaran 2.916,25 dolar AS per troy ounce, merosot 0,11 persen dibanding hari sebelumnya.
Melemahnya saham BRIS juga mengikuti pergerakan saham sektor keuangan khususnya perbankan, yang berada dalam tren melemah sepanjang tahun ini. Jika dibandingkan dengan saham-saham bank BUMN atau Himbara yang tercatat di BEI, pelemahan BRIS tergolong masih dalam batas normal.
Sepanjang tahun 2025 atau year-to-date (ytd), harga BRIS hanya terkoreksi 3,66 persen, lebih rendah dibandingkan saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) yang merosot 11,03 persen, dan saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) yang tergerus 18,25 persen.
Terkait dengan itu, Adrian menilai saham BRIS potensial untuk dikoleksi, apalagi bagi investor yang memilih investasi (jangka panjang), bukan trading (jangka pendek).
"Jangan lupa, ada momentum pembagian dividen, jadi jangan terpancing untuk lepas apalagi untuk investor yang milih investasi bukan trading, karena pembagian dividen dari BRIS cukup menjanjikan dengan laba bersih tahun buku 2024 yang tumbuh signifikan," kata Adrian.
Seperti diketahui, BSI berhasil menjaga momentum pertumbuhan kinerja positif dan berkelanjutan pada akhir 2024, dengan mencetak laba bersih mencapai Rp7,01 triliun, atau tumbuh 22,83 persen secara tahunan atau year-on-year (yoy).
Pengamat Pasar Modal Hans Kwee mengatakan saham BRIS secara teknikal masih direkomendasikan buy, dengan level support Rp 2.840 dan level resistance Rp 3.030.
Lebih lanjut, ia menuturkan meskipun untuk jangka pendek saham BRIS masih mengalami tekanan jual, Hans menilai, untuk jangka panjang BRIS sangat menjanjikan. Ini seiring inovasi pengembangan bisnis perseroan, yang kini telah menjalanlan layanan bank emas.
"Di tengah tekanan terhadap saham-saham perbankan, koreksi yang terjadi pada BRIS masih dalam tahap wajar, karena fundamental perusahaan yang solid dan adanya minat pelaku pasar seiring pengembangan bisnis BSI dengan produk-produk dan layanan baru termasuk bulion bank," ungkap Hans.
Penurunan BRIS disebabkan aksi profit taking, dan keluarnya modal asing (capital outflow). Namun, di sisi lain kondisi ini justru menjadi peluang bagi investor lokal untuk masuk dan mengoleksi BRIS.
Secara historis, pergerakan harga BRIS cukup bagus, bahkan tergolong bertahan di saat terjadi koreksi di saham perbankan sejak awal tahun 2025.
Hans merekomendasikan BRIS layak dikoleksi atau "buy" di kisaran harga Rp 2.900 sampai Rp 3.030, dan dilepas atau "cut loss" di bawah Rp 2.840. Bahkan BRIS ditargetkan bisa naik ke kisaran Rp 3.150 sampai Rp 3.220.
Pada bulan Maret 2025, dampak dari kebijakan tarif barang impor yang akan diberlakukan Presiden AS Donald Trump, terhadap beberapa negara, kemungkinan akan menimbulkan goncangan bagi pasar keuangan. Meski demikian, ada sentimen positif, yang dapat mendongkrak harga saham sektor perbankan termasuk BRIS, antara lain rencana pembagian dividen.
"Justru ketika pasar saham mengalami koreksi, kesempatan untuk masuk ke bursa, karena harga saham cukup rendah. Rekomendasi sektor yang tergolong aman adalah financial, consumer, dan blue chip," tutur Hans.
Sementara itu, Direktur Utama BSI Hery Gunardi, mengatakan perseroan terus berkomitmen mengembangkan bisnis untuk memberikan nilai tambah bagi nasabah dan pemegang saham. Seiring dengan layanan bank emas, BSI akan melanjutkan proses perizinan untuk pembiayaan emas dan penyimpanan emas. Saat ini, sesuai izin dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui Surat OJK No. S-53/PB.22/2025 pada 12 Februari 2025, BSI diizinkan melakukan dua kegiatan usaha, yaitu penitipan emas dan perdagangan emas.
Hery menyampaikan, ekosistem emas BSI telah mengelola sekitar 17,5 ton, terdiri dari gadai emas, cicil emas, dan emas digital, yang dirancang secara inklusif dan mudah diakses masyarakat. Saat ini omset bisnis emas di BSI mencapai Rp 28,7 triliun.
"Investasi emas mulai dari 0,05 gram dengan nilai kurang dari Rp 100 ribu. Dapat diakses melalui platform digital BYOND. Sehingga, masyarakat dapat berinvestasi kapan saja dan di mana saja," ungkap Hery.
Seiring dengan peresmian layanan bank emas, BSI juga memperkenalkan tiga branding utama produk bank emas, yakni BSI Gold, BSI Emas Digital dan BSI ATM Emas.
"Bahkan BSI ATM Emas menjadi yang pertama di Indonesia yang dimiliki bank emas. Diharapkan dapat memberikan multiplier effect yang signifikan bagi perekonomian Indonesia," ungkap Hery.
Sepanjang 2024, pembiayaan bisnis emas mencapai Rp 12,8 triliun, tumbuh 78,17 persen secara tahunan meliputi gadai dan cicil emas.