Krisis Air Suriah

Bagi warga Suriah, sungai Eufrat merupakan salah satu kebutuhan pokok

Krisis Air Suriah
Rep: Ibnu Hariyanto Red: Retizen

Bagi warga Suriah, sungai Eufrat merupakan salah satu kebutuhan pokok. Di Suriah Utara, sungai ini dimanfaatkan sebagai tenaga pembangkit listrik. Selain itu, para petani juga menggunakannya untuk pengairan lahan. Sungai Eufrat juga dibutuhkan untuk kebutuhan sanitasi serta konsumsi penduduk Suriah.


Masalah yang pelik ini salah satunya dirasakan oleh seorang petani bernama Khaleed El Khamees. Pria berusia 50 tahun ini kesulitan mencari air ketika Sungai Eufrat mulai mengering. Ia membutuhkan air itu untuk mengairi lahan perkebunan zaitun serta memberi minim kepada keluarganya.

“Seolah-olah kita berada di padang pasir. Kami berpikir untuk pergi karena tidak ada air yang tersisa untuk diminum atau mengairi pepohonan.” ujar Khaled.

Padahal jarak sungai Eufrat dengan desanya ditempuh dengan jarak 7 kilometer. “Para wanita harus berjalan 7 killometer hanya untuk mendapatkan seember air untuk minum anak-anak mereka,” lanjutnya.

Krisis air juga berdampak kepada kesehatan warga Suriah, khususnya di bagian Timur Laut. Menurut beberapa organisasi kemanusiaan di Suriah, setidaknya 17.000 kasus penderita leishmaniasis di Timur Laut.

Penyakit ini disebabkan oleh gigitan agas—serangga yang hidup di perairan seperti sungai dan tepi laut. Serangga ini membawa virus protozoa yang dapat berkembang biak dalam tubuh manusia sehingga mengakibatkan inveksi yang serius.

Selain penyakit leishmaniasis, tercatat juga 56.000 kasus diare akut yang disebabkan krisis air ini.

“Kelangkaan air menambah penderitaan pengungsi di wilayah tersebut. Kondisi ini membuat hidup lebih sulit bagi keluarga untuk bertahan hidup,” ujar Mohammad dari Kantor Mercy Corps Suriah.

Salah satu penghuni kamp pengungsian Al-Hol, Jihane (37), menceritakan anaknya yang berusia 6 tahun jatuh sakit akibat buruknya kualitas air di sana.

“Ketika saya membawanya ke rumah sakit, ada lebih dari 10 hingga 12 kasus yang menderita gejala yang sama. Bahkan ada seorang anak laki-laki di sana yang situasinya kritis," katanya.

Jihane dan keluarganya telah mengungsi karena konflik berkepanjangan di Suriah. Ia menceritakan, keluarganya sangat sulit memenuhi kebutuhan air sehari-hari. Termasuk untuk konsumsi, mencuci piring, hingga memandikan anak-anaknya. (act.id)

sumber : https://retizen.id/posts/27173/krisis-air-suriah
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Disclaimer: Retizen bermakna Republika Netizen. Retizen adalah wadah bagi pembaca Republika.co.id untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal. Republika melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda baik dalam dalam bentuk video, tulisan, maupun foto. Video, tulisan, dan foto yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim. Silakan kirimkan video, tulisan dan foto ke retizen@rol.republika.co.id.
Berita Terpopuler