Mengunjungi Area Konservasi Bakau di Shenzhen China, Rumah Bagi Ratusan Ribu Burung Air
Cagar alam Bakau Futian fokus melindungi bakau dan burung air.
REPUBLIKA.CO.ID,
Oleh: Qommarria Rostanti dari Shenzhen, China
SHENZHEN -- Di Kota Shenzhen, China, terdapat area konservasi bakau bernama Futian Mangrove National Nature Reserve. Cagar Alam Nasional Bakau Futian menjadi tempat pulang atau rumah bagi hampir 100 ribu water bird atau burung air saat musim dingin.
“Mereka bermigrasi dari Peninsula, Korea, ke sini pada Oktober hingga Maret. Setelah itu, mereka akan kembali lagi,” kata Guangdong Neilingding Futian National Nature Reserve Administration Guide, Philippe, saat ditemui Republika.co.id di Shenzhen, Provinsi Guangdong, China, akhir pekan lalu.
Cagar Alam Nasional Bakau Futian berada di kawasan Cagar Alam Nasional Guangdong Neilingding Futian yang didirikan pada Oktober 1984 dan ditingkatkan statusnya menjadi cagar alam nasional pada 1988. Luas wilayahnya 921,64 hektare.
“Untuk area konservasi lahan bakau seluas 368 hektare,” kata dia.
Cagar Alam Bakau Futian fokus pada perlindungan bakau dan burung air. Cagar alam ini berbatasan dengan laut dan terkonsentrasi di lahan basah bakau di Teluk Shenzhen (disebut Deep Bay di Hong Kong).
Bakau dapat melindungi tanggul dan ikan, udang, kepiting, dan kerang di hutan dari angin kencang dan gelombang laut. Pada saat yang sama, ia menyediakan tempat bagi burung untuk berkembang biak, hidup pada musim dingin, dan mencari makan.
Hampir 100 ribu burung air termasuk bangau, burung pantai, burung camar, dan burung kormoran, melewati musim dingin di kawasan ini setiap tahunnya. Cagar Alam Bakau Futian juga menjadi salah satu tempat musim dingin utama bagi burung paruh sendok berwajah hitam yang terancam punah secara global.
Jumlah burung sendok berwajah hitam, burung yang terancam punah dan langka secara global, di sini menyumbang sekitar 4,5 persen dari total global. Menurut survei, terdapat 6.633 burung sendok berwajah hitam di dunia pada tahun 2023, dan 299 burung paruh sendok berwajah hitam di dunia pada tahun 2023 di Teluk Shenzhen.
Keanekaragaman hayati lahan basah dapat dilihat dari 223 jenis tumbuhan tingkat tinggi, 40 jenis ikan, dan 280 jenis burung. Pola ekologi dari “pasang surut-bakau-pasang di darat” menjadikan Teluk Shenzhen surga bagi burung air dan habitat musim dingin. Dengan kata lain, wilayah ini menjadi stasiun pengisian ulang bagi burung-burung yang bermigrasi di belahan bumi timur.
Philippe menjelaskan soal rantai makanan di Cagar Alam Bakau Futian. Bakau mendukung berbagai jenis organisme. Daun-daun dan cabang-cabang tanaman bakau yang mati memasok dan melindungi banyak hewan bentos di puncak rantai makanan.
Hewan bentos, pada gilirannya, menarik 'konsumen' yang lebih maju seperti burung. Sisa-sisa tumbuhan dan hewan dilebur oleh mikroorganisme kemudian masuk kembali ke dalam siklus rantai makanan. “Bersama-sama, hutan bakau, hewan bentos, burung, dan mikroorganisme membentuk ekosistem yang kuat dan berkelanjutan,” kata dia.
Terdapat 86 jenis makrofauna bentonik yang terdapat di Cagar Alam Nasional Bakau Futian. Makrofauna bentonik merupakan kelompok ekologi khusus dan juga merupakan bagian penting dari ekosistem bakau. Mereka tidak hanya menjadi konsumen aktif sisa-sisa dedaunan, tetapi juga merupakan sumber makanan utama unggas air.
Selain itu, pergerakan penggalian fauna bentonik di hutan bakau akan meningkatkan ventilasi lingkungan tanah dan bermanfaat bagi pertumbuhan tanaman bakau. Organisme bentonik yang hidup di dataran lumpur bakau yang menjadi makanan burung antara lain Uca arcuate, Boleophthalmus pectinirostris, Neanthes glandicincta, Dendronereis pinnaticirris, dan lainnya.
Kawasan Cagar Alam Bakau Futian dibagi menjadi kawasan inti, kawasan penyangga, dan kawasan percobaan. Kawasan inti dan kawasan penyangga tidak dibuka untuk umum yang bisa didatangi pengunjung hanya kawasan percobaan.
Kawasan tersebut dilengkapi dengan paviliun pengamatan burung, teleskop, hingga fasilitas ilmu pengetahuan lainnya. Pengunjung tidak dipungut biaya alias gratis, terapi harus booking jadwal kedatangan terlebih dahulu secara daring untuk mencegah penumpukan pengunjung.
Teleskop bisa dimanfaatkan pengunjung untuk melihat burung. Jika beruntung, pengunjung dapat melihat jenis burung air yang ada di kawasan bakau Futian. “Mereka (burung air) terkadang bisa terlihat lewat teropong,” ujar Phillip.
Burung air yang bermigrasi
Ada cukup banyak jenis burung air yang bermigrasi ke kawasan bakau Futian. Salah satunya Pacific Golden Plover atau Pluvialis fulva. Burung yang kerap disebut cerek emas pasifik ini adalah tipikal burung migran dengan kemampuan terbang cemerlang. Mereka bisa terbang lebih dari 10 ribu kilometer nonstop dalam 8-10 hari.
Mereka berkembang biak di timur laut Rusia dan Alaska dan bermigrasi ke Asia Tenggara seperti Malaysia, Australia, Selandia Baru, dan Kepulauan Pasifik. Pada musim dingin, mereka terbang melintasi seluruh wilayah China selama migrasi.
Selain itu, ada pula Black-face Spoonbill atau Platalea minor. Burung paruh sendok berwajah hitam ini kerap dijuluki “bintang internet” di Teluk Shenzhen. Mereka pandai mencari makan hingga menari di lahan basah bakau. Sayangnya, burung ini terancam punah.
Tak ketinggalan, burung Black-einged Stilt atau Himantopus himantopus. Burung ini berwarna hitam putih dengan paruh panjang berwarna hitam tipis. Dibandingkan dengan ukuran tubuh normal mereka, kaki yang kurus sepanjang 30 sentimeter terlihat sangat panjang.
Meski begitu, mereka tampak anggun meski sedang terbang ataupun berjalan. Mereka suka mencari makan krustasea, serangga, ikan kecil, dan hewan lainnya di perairan dangkal. Mereka sering hidup berpasangan atau dalam kelompok kecil.
Ada 15 juta hektare bakau di seluruh dunia. Yang terbesar berlokasi di Bangladesh, seluas satu juta hektare. Di China, ada sekitar 27 ribu hektare hutan bakau atau 0,2 persen dari wilayah sebaran global. Sebagian besar tersebar di Hainan, Guangdong, Guangxi, Fujian, Hong Kong, Taiwan, dan sebagian kecil di Zhejiang dan Makau.