Mengapa Banyak Masjid Roboh Akibat Gempa di Myanmar?
Lebih dari 50 masjid mengalami kerusakan akibat gempa di Myanmar.
REPUBLIKA.CO.ID, MANDALAY – Ratusan umat Islam dikhawatirkan syahid di Myanmar setelah gempa dangkal melanda saat jamaah berkumpul di masjid untuk salat Jumat di bulan suci. Lebih dari 50 masjid mengalami kerusakan, menurut otoritas bayangan Pemerintah Persatuan Nasional.
Banyaknya masjid yang roboh bisa jadi bukan semata karena dahsyatnya gempa bumi. Alasan lainnya terungkap dalam laporan Departemen Luar Negeri AS soal kebebasan beragama di Myanmar yang dilansir pada 2017 lalu.
“Komunitas agama di seluruh Myanmar, termasuk umat Buddha, Kristen, Hindu, dan Muslim, semuanya melaporkan kesulitan dan penundaan yang dapat berlangsung selama bertahun-tahun dalam mendapatkan izin untuk pembangunan gedung baru dan rehabilitasi bangunan keagamaan yang sudah ada,” demikian tertulis dalam laporan Departemen Luar Negeri AS tersebut.
Merujuk laporan itu, mendapatkan izin renovasi bangunan ibadah lebih sulit bagi kelompok selain mayoritas Buddha. Kelompok agama mengatakan banyaknya izin yang diperlukan, kewenangan yang tidak jelas di antara lembaga-lembaga pemerintah, dan penundaan yang berkepanjangan dalam menanggapi permohonan izin membuat mereka membangun tempat ibadah tanpa izin yang diperlukan. Yang lain mengatakan perlunya menyuap pihak berwenang untuk mendapatkan izin.
Di Mandalay, wilayah terdampak paling parah, umat Islam mengatakan pihak berwenang melarang keras pembersihan, renovasi, bahkan memasuki delapan masjid yang ditutup setelah konflik antaragama pada 2014. Sedangkan lima masjid dalam kendali ketat pemerintah.
Kelompok-kelompok Muslim melaporkan permintaan pembangunan resmi mengalami penundaan yang signifikan, dan bahkan ketika disetujui, hal itu dapat dibatalkan. Mereka juga melaporkan bahwa masih sangat sulit mendapatkan izin untuk memperbaiki masjid-masjid yang ada, meskipun pihak berwenang mengizinkan pemeliharaan internal dalam beberapa kasus.
Masjid bersejarah di Meiktila di Divisi Mandalay, Mawlamyine di Negara Bagian Mon, dan Sittwe di Negara Bagian Rakhine, serta di Rangoon dan daerah lainnya terus mengalami kerusakan karena pihak berwenang tidak mengizinkan pemeliharaan rutin.
Muslim adalah minoritas di Myanmar yang mayoritas penduduknya beragama Buddha dan telah dipinggirkan oleh pemerintahan berturut-turut. Sementara kelompok ultranasionalis dan biksu ekstremis dalam beberapa tahun terakhir telah menghasut kekerasan.
Bangunan-bangunan Buddha juga terkena dampak parah akibat gempa tersebut, dengan 670 biara dan 290 pagoda rusak, menurut pemerintah militer. Mereka tidak menyebutkan satupun masjid dalam laporan kerusakannya.
Kesaksian penyintas Muslim
Ketika gempa bumi dahsyat pada hari Jumat melanda Myanmar tengah, Htet Min Oo sedang melakukan wudhu sebelum salat Ramadhan di sebuah masjid di sebelah rumahnya di Mandalay. Rumahnya ambruk bersama sebagian masjid, separuh tubuhnya terjebak dengan puing-puing tembok yang mengubur dua orang bibinya. Warga berlomba-lomba menarik bibi-bibi itu keluar, katanya, namun hanya satu yang selamat.
Htet Min Oo (25 tahun), mengatakan dua paman dan neneknya juga terjebak di bawah tumpukan beton. Karena tidak adanya alat berat, ia berusaha mati-matian membersihkan puing-puing dengan tangannya namun tidak dapat menggesernya.
“Saya tidak tahu apakah mereka masih hidup di bawah puing-puing. Setelah sekian lama, saya rasa tidak ada harapan lagi,” katanya, Jumat. “Terlalu banyak puing-puing dan tidak ada tim penyelamat yang datang untuk menyelamatkan kami,” tambahnya, suaranya bergetar sambil menangis.
Seorang warga berusia 39 tahun di wilayah Mandalay menggambarkan pemandangan mengerikan ketika ia mencoba menyelamatkan seorang pria yang terjebak di bawah puing-puing masjid yang runtuh di desa Sule Kone, namun harus melarikan diri karena gempa susulan yang kuat.
"Saya harus meninggalkannya... Saya pergi untuk kedua kalinya mencoba menyelamatkannya," katanya, menolak disebutkan namanya. “Saya mengambil empat orang dengan tangan saya sendiri. Namun sayangnya, tiga orang sudah tewas dan satu orang tewas di pelukan saya.”
Dia mengatakan 10 orang tewas di sana, dan mereka termasuk di antara 23 orang yang tewas di tiga masjid yang dihancurkan di desa tersebut. Pembatasan pemerintah telah menghalangi perbaikan masjid-masjid itu, katanya.
Reuters tidak dapat menjangkau masjid-masjid tersebut atau memverifikasi laporan mengenai keruntuhan tersebut. Seorang pria, Julian Kyle, meminta melalui media sosial agar alat berat mengangkat pilar beton setelah gempa menghancurkan masjid Mandalay lainnya.
“Di bawah reruntuhan, anggota keluarga saya dan orang lain tertimpa dan kehilangan nyawa,” tulisnya. “Kami sangat ingin memulihkan jenazah mereka.” Seorang warga dari kota Taungnoo sekitar 370 km jauhnya mengatakan dia sedang shalat ketika salah satu sisi masjid Kandaw ambruk sehingga dua baris pria yang duduk di depannya ambruk.
“Saya melihat begitu banyak orang dibawa keluar dari masjid, beberapa di antaranya meninggal tepat di depan mata saya,” ujarnya. "Sungguh memilukan."
Jumlah korban tewas di Myanmar akibat gempa dahsyat pada Jumat pekan lalu tersebut melonjak menjadi 1.644 orang. Jumlah korban di Thailand yang ikut terdampak gempa bumi juga bertambah.
Jumlah korban di Myanmar merupakan peningkatan tajam dibandingkan dengan 1.002 korban yang diumumkan beberapa jam sebelumnya. Hal ini menyoroti sulitnya mengkonfirmasi jumlah korban di wilayah yang luas dan kemungkinan bahwa jumlah tersebut akan terus bertambah. Jumlah korban luka bertambah menjadi 3.408 orang, sedangkan korban hilang bertambah menjadi 139 orang.
Gempa bumi dangkal berkekuatan 7,7 skala Richter terjadi di Myanmar pada Jumat siang. Di negara tetangga Thailand, jumlah korban tewas meningkat menjadi 17 orang. Gempa mengguncang wilayah Bangkok, rumah bagi sekitar 17 juta orang, dan wilayah lain di negara tersebut. Banyak tempat di utara melaporkan kerusakan, namun satu-satunya korban jiwa dilaporkan di Bangkok.
Dari korban tewas, 10 orang tewas di gedung bertingkat dekat pasar terkenal Chatuchak yang runtuh, sedangkan sisanya tewas di tujuh lokasi lainnya. Pihak berwenang di Bangkok mengatakan 83 orang masih belum ditemukan.
Pada hari Sabtu, lebih banyak alat berat dikerahkan untuk memindahkan berton-ton puing, namun harapan di antara teman dan kerabat memudar.
“Saya berdoa semoga mereka selamat, namun ketika saya sampai di sini dan melihat reruntuhan – di mana mereka berada?” kata Naruemol Thonglek, 45 tahun, sambil terisak-isak menunggu kabar tentang rekannya, yang berasal dari Myanmar, dan lima temannya yang bekerja di lokasi tersebut.
Di Myanmar, upaya penyelamatan sejauh ini dipusatkan di kota-kota besar yang terkena dampak bencana, yaitu Mandalay, kota nomor dua di negara tersebut, dan Naypyitaw, ibu kotanya.
Namun meski tim dan peralatan telah diterbangkan dari negara lain, hal itu terhambat oleh kerusakan bandara. Foto satelit dari Planet Labs PBC yang dianalisis oleh The Associated Press menunjukkan bahwa gempa tersebut merobohkan menara pengatur lalu lintas udara di Bandara Internasional Naypyitaw seolah-olah terlepas dari dasarnya. Belum jelas apakah ada korban jiwa akibat keruntuhannya.
Komplikasi besar lainnya adalah perang saudara yang mengguncang sebagian besar negara, termasuk daerah yang terkena dampak gempa. Pada tahun 2001, militer merebut kekuasaan dari pemerintahan terpilih Aung San Suu Kyi, yang kemudian memicu perlawanan bersenjata yang signifikan.
Pasukan pemerintah telah kehilangan kendali atas sebagian besar wilayah Myanmar, dan banyak tempat yang sangat berbahaya atau mustahil dijangkau oleh kelompok bantuan. Lebih dari 3 juta orang terpaksa mengungsi akibat pertempuran tersebut dan hampir 20 juta orang membutuhkan bantuan, menurut PBB.
Pemerintah Indonesia mengatakan akan mengirimkan bantuan kemanusiaan sebagai respon atas gempa dahsyat sebesar 7.7 magnitudo yang terjadi di wilayah Myanmar dan Thailand. Di Pertemuan Darurat para Menteri Luar Negeri ASEAN, Menteri Luar Negeri Indonesia Sugiono menegaskan kesiapan dan solidaritas RI untuk mendukung pemulihan akibat gempa yang terjadi di kedua negara tersebut.
“Saya menyampaikan duka cita dan simpati mendalam atas gempa yang terjadi di Myanmar dan Thailand. Doa kami menyertai rakyat Myanmar dan Thailand yang terdampak. Indonesia siap memberikan bantuan yang dibutuhkan masyarakat Myanmar dan Thailand,“ kata Sugiono seperti dikutip dalam siaran pers Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, Ahad (30/3/2025).
Pemerintah Indonesia akan mengirimkan bantuan kemanusiaan untuk penduduk yang terdampak di Myanmar. Kementerian Luar Negeri RI mengatakan bantuan meliputi pengiriman tenaga SAR, tenaga medis darurat (Emergency Medical Team) untuk memberikan pertolongan pertama, serta bantuan logistik senilai USD 1 juta.
Bantuan logistik akan terdiri dari obat-obatan, makanan, tempat penampungan sementara, dan penyuling air bersih.
Di media sosial, Presiden Prabowo menyampaikan belasungkawa kepada rakyat Myanmar dan Thailand atas bencana alam tersebut. Prabowo juga menyampaikan kesiapan Pemerintah Indonesia memberikan bantuan yang diperlukan untuk pemulihan kawasan yang terdampak.
Kementerian Luar Negeri RI mengatakan dua anggota unit Indonesia yang menjadi bagian dari ASEAN-Emergency Response and Assessment Team (ASEAN-ERAT) dan AHA Centre akan tiba Minggu malam ini di Myanmar. Sementara itu, tim pendahuluan dengan 10 personel akan diberangkatkan Senin (31/03/2025) membawa sebagian bantuan obat-obatan dan logistik sumbangan masyarakat Indonesia.
Direncanakan bantuan Pemerintah Indonesia akan diberangkatkan ke Myanmar pertengahan pekan ini. Indonesia juga memberikan bantuan kemanusiaan kepada Myanmar ketika menghadapi pandemi COVID-19 dan bantuan senilai Rp 7,7 milyar atau setara USD 517.000 akibat siklon Mocha pada tahun 2023.