Saturday, 15 Muharram 1444 / 13 August 2022

Saturday, 15 Muharram 1444 / 13 August 2022

15 Muharram 1444
  • JELANG HUT BHAYANGKARA KE-76,< POLRI MENGADAKAN LOMBA MENEMBAK PATI TNI-POLRI BERSAMA INSAN PERS 10-11 JUNI 2022 DI BRIMOB KELAPA DUA

Wagub Jabar: Bencana Alam Akibat Alih Fungsi Lahan

Senin 12 Oct 2020 11:34 WIB

Rep: Bayu Adji P/ Red: Hiru Muhammad

Wakil Gubernur (Wagub) Jawa Barat (Jabar) Uu Ruzhanul Ulum menilai maraknya bencana yang terjadi di wilayahnya terjadi akibat adanya alih fungsi lahan. Wilayah yang seharunya dijadikan daerah resapan disebut banyak berumah menjadi areal permukiman. Tampak suasana rumah terdampak bencana tanah longsor di Kampung Mekarsari, Dusun Bakompasir, Desa Cikubang, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya, Selasa (23/6). Longsor terjadi di wilayah itu pada Jumat (19/6) membuat 30 rumah warga terdampak. Akibatnya, sebanyak 30 KK atau 94 jiwa mengungsi.

Wakil Gubernur (Wagub) Jawa Barat (Jabar) Uu Ruzhanul Ulum menilai maraknya bencana yang terjadi di wilayahnya terjadi akibat adanya alih fungsi lahan. Wilayah yang seharunya dijadikan daerah resapan disebut banyak berumah menjadi areal permukiman. Tampak suasana rumah terdampak bencana tanah longsor di Kampung Mekarsari, Dusun Bakompasir, Desa Cikubang, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya, Selasa (23/6). Longsor terjadi di wilayah itu pada Jumat (19/6) membuat 30 rumah warga terdampak. Akibatnya, sebanyak 30 KK atau 94 jiwa mengungsi.

Foto: istimewa
Masyarakat diminta peduli terhadap lingkungan yang dimulai dari hal yang kecil

REPUBLIKA.CO.ID, TASIKMALAYA--Wakil Gubernur (Wagub) Jawa Barat (Jabar) Uu Ruzhanul Ulum menilai maraknya bencana yang terjadi di wilayahnya terjadi akibat adanya alih fungsi lahan. Wilayah yang seharunya dijadikan daerah resapan disebut banyak berumah menjadi areal permukiman.

"Setelah saya lihat beberapa titik, penyebab bencana ini adalah berubahnya wilayah yang tadinya pohon menjadi rumah," kata dia saat meninjau lokasi bencana di Kabupaten Tasikmalaya, Senin (12/10).

Ia meminta masyarakat untuk lebih peduli kepada lingkungan. Peduli kepada lingkungan tak harus dimulai dengan sesuatu yang besar, melainkan dari hal ringan.

Uu mencontohkan, langkah kecil itu bisa dimulai dari tidak membuang sampah sembarangan dan menjaga lingkungannya tetap bersih. Sebab, berdasarkan hasil pantauannya di Tasikmalaya, masih banyak terlihat gorong-gorong yang mampet akibat sampah. 

Selain itu, ia mengingatkan agar masyarakat tak membangun rumah tanpa perencanaan yang matang. Artinya, dalam membangun rumah harus dipikirkan jangka panjangnya. 

"Misalnya jangan bangun rumah di tebing, di tempat rawan bencana. Kita juga minta kepala desa terus memantau warganya agar terkait izin membangun rumah," kata dia. 

Terakhir, Uu menambahkan, masyarakat tak boleh menebang pohon sembarangan. Ia mengakui, menabang pohon itu tak terasa dampaknya dalam waktu dekat. Namun, itu bisa menyebabkan longsor jika terus dilakukan. Sebab, pohon berfungsi sebagai penyangga tanah agar tidak bergerak.

"Kita imbau masyarakat hati-hati dan waspada selama musim hujan. Kalau mereka ada di wilayah yang berbahaya itu harus waspada. Karena bencana tiba-tiba," kata dia.

Berdasarkan data BPBD Kabupaten Tasikmalaya, sedikitnya ada 13 laporan kejadian bencana pada Senin. Selain tanah longsor, bencana banjir juga terjadi di wilayah Kabupaten Tasikmalaya. Bahkan, dilaporkan terdapat satu korban jiwa akibat tertimpa tanah longsor di Kecamatan Gunungtanjung, Kabupaten Tasikmalaya. 

Selain di Tasikmalaya, bencana juga terjadi di selatan Kabupaten Garut. Bupati Garut Rudy Gunawan menyebut, terdapat lebih dari 5.000 warga yang terdampak bencana banjir dan longsor di enam kecamatan di Garut. Berdasarkan hasil analisis BMKG, bencana yang terjadi di Kabupaten Garut dan Tasikmalaya disebabkan lantaran wilayah itu sudah memasuki musim hujan. Potensi hujan yang terjadi karena faktor awal musim hujan disertai peningkatan akumulasi hujan akibat Fenomena La-Nina berpotensi menjadi pemicu terjadinya bencana hidrometeorologis seperti banjir dan tanah longsong. 

Hal itu juga  didukung oleh faktor lokal, seperti labilitas udara atmosfer dan kelembaban udara yang masih basah, sehingga menyebabkan terbentuknya awan konvektif dengan jenis Cumulonimbus yang berpotensi terhadap cuaca ekstrim diantaranya hujan lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang pada siang/sore hingga malam dan dini hari.

Berdasarkan data curah hujan di sekitar lokasi kejadian telah terjadi hujan yang cukup merata dengan intensitas lebat, akumulasi curah hujan yang cukup tinggi berpotensi menyebabkan meluapnya sungai dan genangan di beberapa wilayah dataran rendah.

 

 

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f
 

BERITA LAINNYA

 
hide ads show ads
desktop mobile