Pakar UGM: Mural Kritik Sosial Bagian Ekspresi Seni Jalanan

Rep: Wahyu Suryana/ Red: Fernan Rahadi

Mural kritik sosial di salah satu dinding sudut Kota Yogyakarta, Kamis (26/8). Beberapa mural kritik sosial terlihat di beberapa sudut kota. Tetapi itu tidak bertahan lama, karena segera dihapus oleh satuan petugas.
Mural kritik sosial di salah satu dinding sudut Kota Yogyakarta, Kamis (26/8). Beberapa mural kritik sosial terlihat di beberapa sudut kota. Tetapi itu tidak bertahan lama, karena segera dihapus oleh satuan petugas. | Foto: Wihdan Hidayat / Republika

REPUBLIKA.CO.ID, SLEMAN -- Ketua Prodi Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa Universitas Gadjah Mada (UGM), Budi Irawanto, mengkritisi maraknya mural yang dihapus aparat. Alasannya, beberapa mural dianggap berisi kritikan kepada pemerintah.

Ia menilai, mural merupakan seni jalanan yang bersifat visual. Sekarang ini, Budi mengingatkan, tidak sedikit seni jalanan yang berisi kritik sosial dan politik tidak hanya terjadi di Indonesia, namun hampir di banyak negara.

Namun, ia tidak sepakat, bila penghapusan mural dengan menggunakan isu seperti vandalisme atau dianggap mengganggu keindahan kota. Budi berpendapat, mural sebagai bagian dari seni jalanan sangat dekat dengan kritik sosial dan politik.

"Tapi, tidak semua mural bermuatan politik. Mural sebenarnya lebih banyak mengekspresikan keindahan visual menggunakan medium dengan yang ada di jalan, dinding dan bangunan arsitektur," kata Budi, Sabtu (2/10).

Maka itu, Budi turut mengajak seniman-seniman mural untuk membuat mural yang mampu membangun keindahan kota dengan baik. Meskipun, berbagai mural juga berisi konten kritik sosial dan politik kepada pemerintah juga bagian dari ekspresi.

Budi berharap, pemerintah atau aparat tidak alergi terhadap kritik sosial lewat mural. Meski begitu, Budi mendukung penghapusan mural bila berisi gambar ajakan kebencian dan provokasi, serta tidak menampilkan karya seni yang sesungguhnya.

Menurut Budi, mural sebagai bagian dari seni memang terkait erat kondisi sosial dan politik di masyarakat. Seni sudah bergeser bukan lagi sebatas ekspresi individual senimannya, namun bagian ekspresi kolektif dan komunitas.

"Seni juga bagian upaya melakukan penyadaran karena memiliki muatan pengetahuan ," ujar Budi.

Sebelumnya, mural-mural di berbagai daerah menjadi perbincangan usai dilakukan penghapusan oleh aparat. Alasannya, mural-mural dinilai berisi kritikan kepada pemerintah dan dihapus karena disebut vandalisme atau merusak keindahan kota.

Salah satu mural diduga bergambar mirip Presiden Joko Widodo, yang disertai tulisan '404: Not Found' dan viral di media sosial. Aparat langsung menghapus dan mencari seniman pembuat mural karena dianggap melecehkan lambang negara.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini

Terkait


Mural dan Sketching Sebagai Daya Tarik Urban Tourism

Mural '404: Not Found' dalam Perspektif Semiotika

'Seni Rupa Perkotaan Respons Fenomena Urban'

Mural Kritik di Kawasan Jakarta Barat

Diton King Gelar Festival Skena Graffiti Skala Nasional

Republika Digital Ecosystem

Kontak Info

Republika Perwakilan DIY, Jawa Tengah & Jawa Timur. Jalan Perahu nomor 4 Kotabaru, Yogyakarta

Phone: +6274566028 (redaksi), +6274544972 (iklan & sirkulasi) , +6274541582 (fax),+628133426333 (layanan pelanggan)

yogya@republika.co.id

Ikuti

× Image
Light Dark