Viral Fenomena Pusaran Api di Gunung Bromo, Ini Penjelasan BMKG

BMKG menyebut fenomena tersebut dikenal sebagai dust devil.

Tangkapan Layar
Tangkapan layar fenomena dust devil atau pusaran api di Gunung Bromo yang viral di media sosial.
Rep: Wilda Fizriyani  Red: Andri Saubani

REPUBLIKA.CO.ID, MALANG -- Sebuah video berisi pusaran api di Gunung Bromo viral di media sosial. Unggahan video di akun Tiktok @jalankebromo ini pun langsung mendapatkan respons dari BMKG Juanda.

Baca Juga


Berdasarkan keterangan BMKG Juanda di Instagram resminya, fenomena tersebut dikenal sebagai dust devil. Artinya, terdapat pusaran udara kecil, tetapi kuat yang terjadi saat udara kering, sangat panas, dan tidak stabil di permukaan tanah. Kemudian hal ini naik dengan cepat melalui udara yang lebih dingin di atasnya.

Selanjutnya, situasi tersebut membentuk aliran udara ke atas berupa pusaran. Tidak hanya itu, pusaran ini juga membawa debu, serpihan atau puing-puing lainnya di sekitarnya.

Adapun secara siklusnya, fenomena ini dimulai dengan Matahari yang memanaskan permukaan tanah. Kemudian udara panas naik membentuk tekanan rendah. Setelah itu, udara lebih dingin di sekitarnya masuk dalam tekanan rendah dan membuat pusaran semakin menjulang naik dan bertambah kecepatannya.

Pada siklus berikutnya, pusaran angin semakin kokoh dan menyedot pasir serta debu di sekitarnya sehingga menjadi dust devil. Meskipun demikian, BMKG Juanda memastikan, fenomena ini akan berangsur hilang.

"Karena bertemu udara yang lebih dingin," tulis BMKG Juanda dalam unggahannya, Senin (11/9/2023).

Sementara itu, penyebab fenomena dust devil terbagi atas lima faktor. Faktor-faktor tersebut antara lain pemanasan matahari pada permukaan tanah yang cukup intensif dan jumlah tutupan awan yang sangat sedikit (cuaca cerah). Kemudian juga karena kelembaban udara dan permukaan tanah yang kering.

Hal yang pasti, kata BMKG Juanda, dust devil biasa muncul antara siang hingga sore cerah, kering dan panas. Fenomena ini dapat berlangsung selama beberapa detik atau menit. Selain itu, dust devil hanya terlihat saat terdapat media pendukung semisal pasir dan debu.

 


 

Sebagaimana diketahui, Balai Besar Taman Nasional Bromo, Tengger dan Semeru (BB TNBTS) telah menutup total seluruh akses masuk ke kawasan wisata Gunung Bromo. Penutupan ini berlangsung mulai 10 Oktober 2023 pukul 19.00 WIB sampai waktu yang belum dapat ditentukan. Keputusan ini diambil mengingat Gunung Bromo masih mengalami kebakaran akibat aktivitas pemotretan prewedding yang menggunakan flare

Kepala Bagian Tata Usaha BB TNBTS, Septi Eka Wardhani menyatakan, penutupan ini bertujuan demi kelancaran proses pemadaman. "Termasuk guna memperhatikan keamanan pengunjung,"  kata Septi saat dikonfirmasi, Ahad (10/9/2023) malam.

Menurut dia, penutupan akses diberlakukan untuk seluruh pintu masuk kawasan Gunung Bromo. Dalam hal ini termasuk pintu masuk di Coban Trisula, Kabupaten Malang dan Wonokitri Kabupaten Pasuruan. Kemudian juga berlaku di pintu masuk wilayah Cemorolawang, Kabupaten Probolinggo dan Senduro, Kabupaten Lumajang. 

Menurut dia, akses hanya dibuka untuk masyarakat Desa Ranupani, Kabupaten Lumajang dan masyarakat Desa Ngadas, Kabupaten Malang. Untuk masyarakat yang akan melintasi jalur Malang Lumajang-Malang melalui Poncokusumo dan Senduro diimbau mencari jalur alternatif lain. 

 

 

Pada kesempatan ini, Septi juga mengimbau kepada masyarakat, pengunjung, dan pelaku jasa wisata untuk menjaga Kawasan TNBTS dari kebakaran hutan. Salah satu caranya dengan tidak menyalakan api dan sejenisnya seperti petasan, kembang api, dan flare. Hal ini penting demi keselamatan, keamanan, dan kenyamanan bersama.

 

 

Di samping itu, masyarakat juga diminta untuk segera melaporkan kepada petugas jika menemukan titik api di dalam lawasan TNBTS. Langkah tersebut perlu dilakukan guna mencegah kebakaran lebih besar di kawasan Gunung Bromo.

 

Sebelumnya, telah terjadi kebakaran lahan dan hutan di Blok Savana Lembah Watangan/Bukit Teletubbies pada 6 September lalu. Kebakaran ini diduga diakibatkan oleh aksi pemotretan prewedding yang menggunakan flare (cerawat). Para pelaku sudah diamankan dan satu di antaranya telah ditetapkan sebagai tersangka oleh Polres Probolinggo.

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Berita Terpopuler