Anak-Anak Gaza Mulai Bersekolah
Para siswa akan bersekolah di gedung yang masih utuh.
REPUBLIKA.CO.ID, GAZA CITY — Anak-anak di Jalur Gaza akhirnya menyambut tahun ajaran baru setelah gencatan senjata berlaku sejak 19 Januari 2025 yang mengakhiri agresi penjajah Israel untuk sementara setelah 16 bulan melakukan genosida, demikian menurut otoritas pendidikan setempat.
Dalam pernyataan Kementerian Pendidikan di Gaza, Ahad lalu, siswa-siswa akan kembali bersekolah di gedung sekolah-sekolah yang masih utuh, sudah direnovasi dengan peralatan yang sudah disiapkan. Mereka juga akan belajar di sekolah-sekolah alternatif dan titik-titik pendidikan yang ada di berbagai daerah.
Kementerian juga akan mengupayakan pengadaan kelas daring bagi para pelajar yang masih belum bisa mengikuti pembelajaran di sekolah untuk memastikan mereka tetap melanjutkan pendidikannya.
Meski demikian, kementerian mengakui bahwa tahun ajaran baru di Gaza "dimulai di tengah kehancuran besar dan kekurangan sumber daya yang amat parah."
Otoritas setempat pun mendesak organisasi HAM untuk menekan Israel supaya mengizinkan masuknya bantuan kemanusiaan yang dapat menunjang aktivitas pendidikan di Gaza. Menurut data otoritas Palestina, sebanyak 85 persen dari seluruh sekolah di Gaza tak bisa beroperasi karena hancur dibom Israel.
Menurut kantor humas pemerintah Gaza, sekurangnya 12.800 siswa sekolah serta 800 guru dan staf sekolah tewas akibat agresi Israel sejak Oktober 2023 hingga gencatan senjata.
Sejumlah 1.166 fasilitas pendidikan juga hancur karena serangan tersebut, sehingga membuat kerugian yang diderita sektor pendidikan Gaza ditaksir mencapai 2 miliar dolar AS.
Gencatan senjata yang berlaku sejak 19 Januari 2025 secara sementara menghentikan genosida Israel di Jalur Gaza yang menewaskan lebih dari 48.300 orang, sebagian besar adalah wanita dan anak-anak, serta mengakibatkan kehancuran luas di wilayah kantong tersebut.
Mahkamah Pidana Internasional (ICC) pada November 2024 telah mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap ketua otoritas Israel Benjamin Netanyahu dan bekas petinggi otoritas pertahanan Yoav Gallant atas tuduhan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Jalur Gaza.
Israel sendiri saat ini juga menghadapi gugatan di Mahkamah Internasional (ICJ) atas agresinya ke Jalur Gaza.