REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Terlepas dari keputusan final sidang isbat yang akan diselenggarakan pada Rabu Sore (24/9) nanti perihal penetapan 1 Dzulhijah, Ketua PP Muhammadiyah Yunahar Ilyas menerangkan, Idul Adha memiliki makna historis dan sosial yang seyogyanya menjadi inspirasi umat Islam dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah setiap hari.
Secara historis, kata dia, Idul Adha menjadi momentum dalam mengabadikan pengorbanan nabi Ibrahim yang bersedia melaksanakan perintah Allah untuk menyembelih putera satu-satunya yang beliau cintai, Ismail.
“Pelajarannya, dalam mencapai rasa cinta kepada Allah, kita harus siap mengorbankan segala yang kita cintai, entah itu uang, harta, keluarga,” kata dia pada Rabu (24/9).
Bukan hanya benda materi yang harusnya dilepaskan untuk dicintai, tapi juga waktu dan pengorbanan harus ditujukan kepada Allah, bukan kepada makhluk. Bukti perjuangan, kata dia, adalah pengorbanan. Maka momen Idul Adha dari segi historis adalah melatih umat untuk senantiasa berkorban secara ikhlas kepada Allah semata.
Sementara, efek sosial dari praktik qurban di Idul Adha ialah berbagi. Sebab tidak semua masyarakat Islam dapat setiap hari memakan daging kurban. Bahkan bagi kelompok tertentu, makan daging yang halal itu hanya setahun sekali, ketika Idul Qurban saja.