REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Panita Penyelenggara (Panpel) Arema Cronus menegaskan pihaknya masih menggunakan tiket manual seperti musim ini. Hanya saja tiket tersebut tidak berbentuk seperti tiket pada umumnya, melainkan dengan format tiket gelang.
Hal ini sekaligus menepis kemungkinan Singo Edan mengadopsi tiket model barcode seperti yang dipakai di SCM Cup 2015 lalu.
"Tiket gelang tetap dipakai karena kita anggap masih lebih efektif dan efisien (dari tiket model lama) dalam menanggulangi kebocoran penonton. Sebenarnya, tiket model barcode seperti yang dipakai di SCM Cup kemarin juga efektif, tapi kita rasa terlalu mahal biaya produksinya," kata Ketua Panpel Arema, Abdul Haris, seperti dilansir laman resmi klub, Ahad (15/2).
Haris menambahkan selain biaya ongkos cetak yang lebih mahal dari manual tiket gelang. Panpel juga harus mendatangkan alat scan barcode untuk tiap pintu masuk stadion.
Apalagi pintu masuk stadion Kanjuarahan yang jadi markas Singo Edan cukup banyak. Sebanyak 14 pintu ekonomi dan satu pintu VIP/VVIP. Dengan pintu masuk sebanyak itu, sudah pasti total dana yang dibutuhkan tentu tidaklah sedikit.
Untuk harga tiket sendiri, Panpel baru merilis harga kelas ekonomi saja, yakni Rp 35 ribu untuk tujuh laga bigmatch dan sisanya Rp 30 ribu. Sedangkan untuk kelas VIP dan VVIP harga tiketnya menyesuaikan pertandingan.