Thursday, 14 Jumadil Awwal 1444 / 08 December 2022

Thursday, 14 Jumadil Awwal 1444 / 08 December 2022

14 Jumadil Awwal 1444
  • JELANG HUT BHAYANGKARA KE-76,< POLRI MENGADAKAN LOMBA MENEMBAK PATI TNI-POLRI BERSAMA INSAN PERS 10-11 JUNI 2022 DI BRIMOB KELAPA DUA

Meski Didepak, Rusia Jadi Topik Hot Pemimpin Negara G7

Senin 08 Jun 2015 18:50 WIB

Rep: Lida Puspaningtyas/ Red: Indah Wulandari

Bendera Rusia

Bendera Rusia

REPUBLIKA.CO.ID,ELMAU -- Meskipun Rusia telah didepak dari kelompok negara G7 karena aksinya di Crimea, para pemimpin dunia tetap menjadikan Negara Beruang Merah itu sebagai topic pembicaraan.

Pertemuan digelar di hotel Schloss Elmau di Kruen, pegunungan Alpen Bavaria, Senin (8/6) dihadiri Presiden AS Barack Obama, Perdana Menteri Inggris David Cameron, Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe, Presiden Prancis Francois Hollande, Perdana Menteri Kanada Stephen Harper, dan Perdana Menteri Italia Matteo Renzi.

Pada pertemuan pra-konferensi antara Obama danKanselir Jerman Angela Merkel telah sepakat bahwa durasi sanksi untuk Moskow harus terkait dengan implementasi Minsk.

''Namun tujuan kita tahun ini adalah pemimpin G7 bergerak satu tujuan,'' kata Juru bicara Abe, Yasuhisa Kawamura dialnsir Reuters.

Sementara, Cameron menyerukan agar negara Eropa untuk tegar melawan sanksi Rusia yang melarang pemimpin di beberapa negara bepergian ke Rusia.

Ia juga meminta negara yang menderita secara ekonomi karena menolak investasi dan pariwisata dari Rusia bersikap tegas dan tegar.

''Ini memang berimbas pada semua negara. Inggris tidak akan membiarkan layanan keuangan kami merosot hanya karena agresi Rusia. Saya pikir negara lain juga harus demikian,'' kata Cameron.

Harper juga mengunjungi Kiev sebelum menuju Bavaria. Ia mendesak G7 dan sekutu untuk mengatur tekanan dan sanksi untuk Rusia. ''Siap-siap untuk menerapkan sanksi lain melawan rezim Putin jika Moskow menolak menghentikan perilaku agresifnya,'' kata Harper.

Selain itu, perubahan iklim dan terorisme juga jadi topik dominan. Merkel ingin para pemimpin mencapai kesepakatan untuk membatasi kenaikan suhu global. Ia ingin memastikan komitmen rekannya untuk membangun momentum sebelum konferensi iklim PBB di Paris, Desember mendatang.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f
 

BERITA LAINNYA

 
 
 
 
 
hide ads show ads
desktop mobile