'Wimar Harus Dilaporkan ke Polisi'
Sabtu , 21 Jun 2014, 11:11 WIB
Aditya Pradana Putra/Republika
Wimar Witoelar

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pakar politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Ikrar Nusa Bhakti, menyatakan gambar yang diunggah Wimar Witoelar, tabloid 'Obor Rakyat' dan fatwa haram pilih capres-cawapres Joko Widodo (Jokowi)-Muhammad Jusuf Kalla (JK) merupakan bentuk isu agama sebagai 'black campaign'.

"Apa yang dilakukan Wimar Witoelar sama dengan perilaku kelompok Prabowo, yang kadang-kadang menggunakan isu agama sebagai 'black campaign'," tegas Ikrar saat dihubungi Republika, Sabtu (21/6) pagi. 

Menurut Ikrar, model-model fatwa yang katanya dikeluarkan ulama, tentang haram hukumnya memilih capres-cawapres Joko Widodo (Jokowi)-Muhammad Jusuf Kalla (JK), merupakan 'black campaign' dengan menggunakan isu agama.

Tindakan 'black campaign' dengan menggunakan isu-isu agama, seperti kasus Wimar Witoelar dan fatwa haram pilih Jokowi-JK jelas-jelas melanggar peraturan pemilu, termasuk kasus tabloid 'Obor rakyat'. 

"Mereka harus dilaporkan ke polisi dan diadili seadil-adilnya agar segala macam 'black campaign' seperti fatwa haram pilih Jokowi-JK, gambar yang diunggah Wimar dan tabloid Obor Rakyat tidak ada lagi," ungkap Ikrar.

Ahad (15/6), Wimar Witoelar memposting sebuah foto di akun Facebooknya. Isinya, berupa foto yang memerlihatkan Prabowo Subianto dan elite koalisi Merah Putih yang dipadukan dengan tokoh terorisme.    

Selain itu, Wimar juga memberikan komentar terkait foto itu. "Gallery of Rogues.. Kebangkitan Bad Guys" (Galeri Bajingan.. Kebangkitan Orang Jahat).


Redaktur : A.Syalaby Ichsan
Reporter : C57
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar