Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (kiri) didampingi Kepala Dinas Kesehatan DKI Dien Emawati mendengarkan masukan dari masyarakat dalam acara uji publik Kartu Jakarta Sehat (KJS) di Gedung Balaikota, Jakarta Pusat, Rabu (27/3). (Republika/Prayogi)
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pengamat politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Firman Noor mengatakan Joko Widodo (Jokowi) kemungkinan kalah di Jakarta pada pilpres 2014. Karena masih banyak yang menginginkannya memimpin ibu kota.
"Secara logika itu mungkin saja terjadi. Jokowi diharapkan bisa membenahi ibu kota tetapi sekarang malah meninggalkan Jakarta untuk maju sebagai capres," kata Firman, Selasa (18/3).
Ia mengatakan, dalam pilgub DKI Jakarta 2012, Jokowi pun tidak menang mutlak. Pada putaran kedua, pasangan Jokowi-Basuki Tjahaja Purnama memperoleh suara 53,82 persen.
Artinya, kata Firman, masih ada hampir setengah pemilih di Jakarta saat itu yang tidak memilihnya. Padahal, dalam perkembangannya, ada beberapa yang semula mendukung Jokowi akhirnya berbalik sikap menjadi kritis.
"Dalam perkembangannya, kepemimpinan Jokowi memang dinilai ada yang positif, tetapi juga ada yang menganggap biasa saja," tuturnya.
Firman mengatakan kritik yang muncul terhadap Jokowi akan menjadi amunisi bagi lawan politiknya. Bukan tidak mungkin akan terjadi kampanye negatif terhadap Jokowi.
"Situasi tersebut sangat mudah diangkat untuk memaparkan kekurangan Jokowi. Apalagi juga ada yang mengungkapkan bahwa Jokowi ternyata tidak memiliki kemampuan manajerial yang cukup," katanya.
Keputusan Jokowi untuk maju sebagai capres menimbulkan pro dan kontra. Termasuk di media sosial. Di media sosial bahkan muncul 19 janji politik Jokowi yang pernah disampaikan pada pilgub DKI Jakarta 2012.
Janji yang paling banyak diungkapkan adalah akan memimpin Jakarta selama lima tahun dan tidak menjadi kutu loncat dengan mengikuti pemilu 2014.
Janji tersebut diucapkan Jokowi saat jumpa pers di rumah Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Sukarnoputri pada 20 September 2012.