REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sebanyak sembilan dari 32 blok jenis CBM (Gas Metana Batu bara (Coal Bed Methane) telah melakukan uji tes produksi. Uji tes produksi dalam rangka pengembangan blok jenis tersebut.
"Ke sembilan WK tersebut adalah Sangatta 1, Sangatta 2, Kutai 1, Sanga-Sanga, Kotabu dan Barito di Kalimantan. Sedangkan Sekayu, Muara Enim dan Tanjung Enim berlokasi di Sumatera. Dari sembilan blok tersebut, WK Tanjung Enim sedang dalam proses evaluasi untuk produksi (PoD I)," ujar Dirjen Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian ESDM Djoko Siswanto melalui keterangan resminya, Selasa (16/10).
Djoko mengatakan, apabila PoD I Tanjung Enim disetujui, maka blok CBM akan berproduksi secara komersial. Adapun, kontrak blok Tanjung Enim ditandatangani pada 4 Agustus 2009.
Pemegang Participating Interest saat ini adalah Dart Energy (Tanjung Enim) Pte Ltd (45 persen), PT Pertamina Hulu Energi Metra Enim (27,5 persen) dan PT Bukit Asam Metana Enim (27,5 persen). Perkiraan produksi gas sekitar 27 MMSCFD (209 sumur pengembangan).
Sebanyak 54 kontrak kerja sama GMB (CBM) telah ditandatangani selama periode 2008-2012. Dari jumlah tersebut, 32 blok aktif melakukan kegiatan operasi migas. Sedangkan 22 blok telah diputus kontrak kerja samanya (terminasi) karena tidak melakukan kegiatan.
Sebelumnya, pemerintah mengakui harga minyak dunia menjadi kendala untuk pengembangan blok jenis Gas Metana Batu bara (Coal Bed Methane/CBM). Dengan kata lain, pengembangan blok CBM tidak ekonomis.