×

Cara Atasi Kecemasan Akibat Pembatasan Perjalanan

Rep: Shelbi Asrianti / Redaktur: Gita Amanda

Selasa , 20 Jul 2021, 02:08 WIB
Ilustrasi gangguan kecemasan. Bicaralah dengan teman dan keluarga atau profesional kesehatan mental untuk membagikan kekhawatiran atau rasa kehilangan. Ilustrasi gangguan kecemasan. Bicaralah dengan teman dan keluarga atau profesional kesehatan mental untuk membagikan kekhawatiran atau rasa kehilangan.
Bicaralah dengan teman dan keluarga atau profesional kesehatan mental

REPUBLIKA.CO.ID, HONG KONG -- Pembatasan perjalanan di tengah pandemi Covid-19 bukan hanya membuat banyak orang tidak bisa berlibur. Sebagian orang pun kesulitan berjumpa dengan keluarganya yang tinggal di kota, pulau, bahkan negara berbeda.

Semua itu bisa menyebabkan gangguan kecemasan hingga berdampak serius pada kesehatan mental. Psikolog klinis Hong Kong Sharmeen Shroff menjelaskan, itu karena manusia cenderung terprogram untuk membenci ketidakpastian.

Dia menjumpai tanda-tanda stres, kelelahan, juga lebih banyak gejala depresi di antara kliennya. Sebagian besar akibat mencemaskan kondisi kesehatan anggota keluarga lansia dan rasa takut tidak bisa bertemu mereka lagi.

"Di Hong Kong begitu banyak ekspatriat karena kemudahan perjalanan, Anda bisa naik pesawat dan berada di suatu tempat lain keesokan harinya, namun tiba-tiba semua itu menjadi sulit," ujarnya, dikutip dari laman South China Morning Post.

Shroff memahami berbagai tantangan di tengah pandemi hampir tidak tertahankan. Akan tetapi, demi menjaga kesehatan mental, setiap orang perlu mengetahui cara menghadapinya. Kiat pertama, biarkan emosi mengalir dan rasakan semuanya.

Bicaralah dengan teman dan keluarga atau profesional kesehatan mental untuk membagikan kekhawatiran atau rasa kehilangan. Jika seseorang bisa mengidentifikasi sebuah emosi, besar kemungkinan itu bisa dikelola.

Memblokir, mengabaikan, atau menyangkal emosi semula terasa lebih baik, namun pada akhirnya menjadi kian parah. Saran lain, tetaplah terhubung dengan keluarga dan sahabat, meski secara daring atau virtual karena itu sangat berarti.

Kiat selanjutnya yang tak kalah penting adalah beristirahat. Jika perlu, jadwalkan cuti sepekan, luangkan waktu untuk rehat, serta putuskan sambungan dari berbagai perangkat terkait pekerjaan atau apapun yang memicu kelelahan dan stres.

Agar tetap waras, perawatan diri tak boleh dilewatkan. Tetap lakoni rutinitas sehat seperti makan makanan bergizi dan berolah raga. Bisa juga menulis jurnal, berendam, atau melakukan hal-hal yang membahagiakan.

Fokuslah pada hal-hal yang dapat dikendalikan dan tetap jalani hari demi hari. "Saya tidak mengenal siapa pun yang tidak berjuang saat ini. Rayakan kemenangan kecil seperti berolah raga meski hanya satu kali. Cintai diri Anda," ungkap Shroff.

 
 
Play Podcast X